
Sekarang bukalah matamu karena papa sudah pulang"ucap pak Wijaya
parlahan-lahan mata Bu Raidah terbuka dan Bu Raidah mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya lampu dalam ruangan itu
"papa" ucap Bu Raidah lemah
"iya ma ini papa" jawab pak Wijaya
"maafin mama ya pa" ucap Bu Raidah
"iya ma ,papa juga meminta maaf " jawab pak Wijaya dan Bu Raidah mengangguk pelan lalu bu Raidah kembali menutup matanya ada tetesan bening mengalir disudut matanya
"mama jangan nangis ma, maafin papa ya" ucap pak Wijaya menggenggam tangan istrinya yang terbebas dari jarum infus
Bu Raidah kembali membuka matanya
"Pa,Bayu dan bima mana!?" tanya Bu Raidah mencari keberadaan kedua putranya
"Bayu ada diluar ma tapi sejak tadi papa nggak liat Bima"jawab pak Wijaya
"pa panggilkan Bayu ya" ucap Bu Raidah
"iya ma, tunggu ya" jawab pak Wijaya dan berdiri dari duduknya dan keluar mencari keberadaan putra sulungnya
sampai di luar ruangan pak Wijaya tidak menemukan keberadaan bayu hingga akhirnya Pak Wijaya berkeliling mencarinya
sampai akhirnya Pak Wijaya menemukan bayu dan istrinya sedang minum kopi dikantin rumah sakit
pak Wijaya mendekati mereka namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan menantunya
"mas nggak curiga sama papa!?" tanya Arumi
"emangnya kenapa !?" tanya Bayu
"lihatlah mas papa pergi dari rumah trus kita tidak tau papa kemana selama dua Minggu itu
bukannya Rumi ingin menuduh papa tapi melihat keadaan papa yang terlihat baik-baik saja, pakaiannya pun rapi dan wajahnya terawat bukan seperti orang stres karena banyak fikiran"ucap Arumi
"bisa saja papa itu pakaiannya di loundry hingga rapi seperti itu"jawab bayu
"ya bisa juga sih" ucap arumi tapi wajahnya terlihat tidak terima dengan jawaban suaminya dan bayu dapat melihat itu semua
"memangnya kenapa sih sayang, apa Kamu tau sesuatu ?!"tanya Bayu pada istrinya
"emm.... gimana ya mas jelasinnya !"ucap Arumi bingung
"bilang aja sayang "ucap Bayu
"tapi mas yakin tidak akan marah !?" tanya Arumi karena ragu-ragu mengutarakan apa yang di taunya
"bilang saja nggak usah ragu, apapun itu saya tidak akan pernah marah ". jawab Bayu menyakinkan istrinya
"emmm..... sebenarnya saya pernah lihat papa jalan sama perempuan hamil dan papa menggendong seorang anak kecil perempuan wajahnya sangat mirip dengan Arshila putri kita mas"jawab Arumi
"kamu lihat dimana Rum!?" tanya Bayu jadi penasaran
"waktu ke mall bareng kak Ayumi dan anak-anak Minggu lalu "jawab Arumi
"kok kamu nggak ngomong sih sayang !" ucap Bayu sedangkan pak Wijaya sudah sangat gelisah dan akhirnya memutuskan untuk kembali keruang perawatan Bu Raidah
"saya takut mas kamu marah dan saya juga khawatir dengan kondisi mama sekarang jadi saya tidak bilang sama kamu"jawab Arumi
Bayu mengusap wajahnya kasar,dia juga tidak bisa menyalakan ayahnya yang mencari wanita lain diluar sana karena mamanya selama ini tidak pernah menghargai usaha Papanya
pak Wijaya menjadi gelisah dan khawatir jika anak-anaknya tidak menerima Siska dan Alesya Putrinya bersama siska
"Apakah sekarang harus saya jujur pada mereka tapi bagaimana jika Raidah semakin drop pasti dia tidak akan terima kehadiran siska
"pa Bayu mana !?" tanya Bu Raidah saat melihat pak Wijaya masuk sendiri kedalam kamar perawatannya tanpa Bayu dan Arumi
"oh begitu !? ya sudah tidak apa-apa " ucap Bu Raidah kembali memejamkan matanya karena tubuhnya Terasa sangat lelah
tak berselang beberapa menit bayu dan Arumi datang dan masuk kedalam kamar perawatan Bu Raidah membawa bungkusan makanan untuk pak Wijaya
mereka tidak membeli untuk Bu Raidah karena Bu Raidah punya makanan khusus dari pihak puskesmas
Aurel dan Fatiyah pun datang untuk memeriksa keadaan Bu Raidah
"bagaimana keadaan mama kak"tanya bayu saat Aurel telah selesai memeriksa Bu Raidah
"sepertinya mama kamu harus dirawat di rumah sakit dikota bay, karena kondisi tubuhnya semakin lemah "ucap aurel menjelaskan kondisi Bu Raidah saat ini
"iya kak, kalau itu emang yang terbaik untuk mama saya akan membawa mama kekota untuk dirawat "jawab Bayu
"baiklah kalau begitu saya akan buat mama kamu biar bisa segera dibawa kerumah sakit dikota"
"iya kak"jawab bayu
setelah rujukannya selesai Bu Raidah dipindahkan kerumah sakit
Bayu dan pak Wijaya ikut di atas ambulance yang membawa Bu Raidah
sedangkan Arumi pulang kerumahnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya lalu menyusul suaminya kekota
setelah menempuh beberapa jam perjalanan kini mereka telah sampai di rumah sakit, mereka disambut oleh beberapa perawat karena Aurel sudah menelpon pihak rumah sakit dan mengatakan jika ada pasiennya yang mendapat rujukan untuk dirawat disana
kini mereka sudah berada dalam kamar perawatan Bu Raidah yang juga telah dipesan oleh Aurel
dokter Dengan sigap memeriksa keadaan Bu Raidah yang sangat lemah
Arumi dan kedua anaknya menyusul suaminya kekota diantar oleh satria dan aska karena kebetulan mereka ada pertemuan kerja sama dengan rekan bisnisnya di kota
Arumi juga mengajak asistennya yang sering membantunya diklinik nya untuk membantunya menjaga kedua anaknya jika Arumi kerumah sakit membawa makanan untuk suami dan ayah mertuanya
seminggu sudah Bu Raidah dirawat di rumah sakit kota tapi perkembangan kesehayannya tidak begitu pesat karena kondisi tubuhnya semakin melemah
tubuhnya pun semakin kurus tidak seperti biasanya yang padat berisi
kini Bu Raidah di izinkan untuk pulang namun masih harus rutin datang untuk pemeriksaan lanjutan
Bayu menyewa sebuah rumah yang ada didekat rumah sakit karena Bu Raidah menolak untuk tinggal sementara dirumah milik keluarga Arumi menantu yang biasa dihinanya
bahkan Arumi lah sekarang yang merawatnya seorang diri setelah Bu Raidah keluar dari rumah sakit karena istri Bima tidak mau membantu merawat mertuanya itu alasannya anaknya suka rewel jika ditinggal lama
...sedari Bu Rai3dah dirawat di rumah sakit arumi yang selalu bolak-balik menjaga mertuanya...
pak Wijaya banyak diam setelah mendengar ucapan menantunya dia semakin bimbang apa yang harus dilakukannya
"ya Allah saya belum mengabari siska padahal sudah dua Minggu lebih disini"ucap pak Wijaya dan tanpa sepengetahuannya Arumi mendengar ucapannya itu
"siska!? apa itu nama perempuan yang hamil itu!?" ucap Arumi pelan
pak Wijaya terdengar menelpon seseorang
"papa mertua pasti punya wanita lain diluar sana, kasian mama tapi itu bukan urusanku "ucap Arumi lalu pergi dari tempatnya berdiri
sedangkan pak Wijaya masih saja berbicara melalui sambungan telepon tanpa disadarinya bahwa Bima berdiri dipintu masuk
Bima mengepalkan tangannya mendengar semua ucapannya ditelpon dengan seseorang yang seperti nya papanya itu berbicara dengan anak kecil
rasa penasaran bima membuncah saat mendengar papanya mengucapkan kata-kata membujuk
"iya sayang papa janji papa akan cepat pulang echa jangan nakal ya nurut sama mamah "ucap pak Wijaya
"saya akan tanyakan ini semua pada papa "ucap bima mengepalkan tangannya