Mas Duda I Love You Full

Mas Duda I Love You Full
Bab 135 Rencana Bu Ayudia



Pov Ayudia


"kenapa jeng Ayudia mengatakan meragukan kehamilan putri jeng"jawab bu Raidah


"loh apa saya salah ya!? kan saya cuma bilang Jeng Hanim tidak pernah meragukan anak yang ada didalam kandungan putriku, walaupun Ayahnya menghianati pernikahan kami tapi saya yakin putri-putriku akan setia pada pasangannya karena sedari kecil mereka dirawat oleh Abah dan umahku dengan baik begitupun dengan ketiga Putraku walaupun mereka bukan terlahir dari rahimku tapi mereka mewarisi sikap Abahku"Ucapku karena kesal


"saya tidak pernah meragukan kehamilan putri jeng Ayudia "ucap BU Raidah tidak mengakui perkataannya


"syukurlah Kalau jeng tidak pernah meragukan kehamilan putriku dan itu seharusnya memang jeng Raidah lakukan, karena anak yang dikandung putriku adalah darah daging putra jeng "ucapku yang kesal karena Bu Raidah tidak mengakui perkataannya yang membuat batin Putriku terbunuh


saya dapat melihat wajah putri bungsuku terlihat sangat kesal saat ibu mertuanya tidak mengakaui ucapannya


"kenapa saya harus tidak mengakuinya, sedangkan putri jeng istri putraku " ucapnya lagi


sekarang saya tau bagaimana karakter besan saya ini, sepertinya dia senang menjilat ludahnya sendiri


"Baguslah kalau seperti itu jeng,saya merasa senang jika putriku tidak ada yang meragukannya karena jika itu sampai terjadi saya siap mengambil putriku kembali karena saya mampu membiayai putri dan cucuku "ucapku


"apa maksud jeng berkata seperti itu !?"ucap bu Raidah


"saya tidak bermaksud apa-apa saya hanya sekedar menyampaikannya saja "jawabku


"kami tidak akan pernah meragukan Arumi karena dia adalah menantu kami"ucapnya tidak merasa bersalah


ternyata selama ini saya sudah salah menilainya ternyata besanku ini suka tidak mengakui kesalahannya


baiklah jika itu yang di inginkannya saya akan terus mendesaknya hingga dia mengakui kesalahannya


"saya sangat bersyukur jika putriku disayangi oleh keluarga suaminya karena banyak keluarga suami yang bisa membunuh batin menantunya "ucapku berusaha menahan emosiku


saya dapat melihat perubahan diwajah mereka Bayu hanya tertunduk mungkin karena malu padaku karena sifat ibunya


"maaf bu Ayudia,kami benar-benar sangat menyayangi menantu kami,dan maafkan kami jika kami melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang mungkin menyinggung perasaan Arumi "ucap pak Wijaya dan saya rasa pak Wijaya lebih bijak dari istrinya


seharusnya bu Raidah yang bersaudara dengan maya yang bermulut pedas bukan pak Wijaya yang bertutur kata baik dan mau mengakui kesalahannya walaupun tidak secara langsung


"iya pak Wijaya,saya juga meminta maaf jika ada kata-kata saya yang membuat hati kalian tersinggung "Ucapku


"tidak bu kami tidak sama sekali merasa tersinggung "jawab pak Wijaya dan saya melihat Bu Raidah mengerucutkan bibirnya karena tidak Terima dengan ucapan suaminya


"iya pak,saya berbicara seperti tadi hanya ingin memberi tahukan saja jika sampai ada yang meragukan Putriku ataupun mencurigainya maka setelah bayi itu lahir saya dan putri saya siap melakukan tes DNA agar Mulut yang mengatakan bahwa anak yang dikandung putriku bukanlah anak dari suaminya tertampar dan jika itu semua terbukti jika anak saya sudah berhianat pada pernikahannya saya tidak akan berfikir panjang untuk memisahkan mereka buat apa melanjutkan rumah tangga jika salah satu diantara mereka ada yang berhianat "ucapku penuh penekanan agar bu Raidah bisa sadar


"dan jika anak yang dikandungannya terbukti adalah anak kandung suaminya saya akan menampar mulut kotor orang yang sudah menyakiti hati anak saya karena dengan perkataannya secara tidak langsung sudah membunuh batin putriku "ucap ku lagi berapi-api


enak saja meragukan Putriku, Putriku bukanlah wanita murahan yang akan menyerahkan tubuhnya pada lelaki yang tidak halal untuknya


saya melihat mereka kembali menelan ludahnya dengan sangat susah payah


Bayu tidak sekalipun memperdengarkan suaranya begitu pun dengan Arumi yang terlihat masih menyimpan dendam pada ibu mertuanya


setelah lama berbicara dengan mereka saya merasa percuma mengeluarkan semua apa yang ada didalam hati Bu Raidah masih saja tidak ingin mengakui kesalahannya


"baiklah pak bu kalau begitu saya pamit dulu"ucapku


"iya jeng"jawabnya datar sepertinya dia marah padaku sedangkan pak Wijaya mengangguk dan tersenyum ramah padaku


"sayang kita disini dulu ya, nanti Sore kita kembali kerumah Umah jika kamu tidak ingin nginap disini "ucap Bayu membujuk Arumi


Arumi Awalnya tidak ingin tinggal dirumah mertuanya sampai Sore karena saya yakin Arumi masih juga merasa kesal pada mertuanya


dengan bujukan ku akhirnya putriku itu setuju untuk tinggal dirumah mertuanya


"baiklah mas,tapi sebentar sore kita pulang ya" ucap Arumi


"umah Rumi diaini dulu ya, nanti Sore Rumi dan mas bayu kembali kerumah umah" Ucap Arumi


"iya nak,jika kamu ingin nginap juga tidak apa-apa "Ucapku


"iya umah" jawabnya terdengar sangat malas


"oh ya Allah jeng bisakah saya menumpang kekamar kecil ?! soalnya saya kebelet buang air kecil "ucapku


"oh tentu saja bisa Bu silahkan "jawab pak Wijaya


"oh terimakasih pak"jawabku dan berlalu kedalam menuju ruang keluarga tanpa menyia-nyiakan kesempatan saya segera memasang kamera di ruang keluarga dan dapur,ini adalah ide Azlan untuk bisa membuktikan jika ibu mertua Arumi malakukan tindakan kekerasan


ini hanya antisipasi saja,biar bagaimanapun lidah bu Raidah sudah sangat mudah menghina putriku dan meragukan kehamilannya


bisa saja jika nanti Putriku diperlukan buruk lagi


setelah memastikan kamera yang terpasang dengan benar saya bergegas masuk kedalam kamar mandi agar mereka tidak curiga


setelah saya dari dalam toilet Saya segera berpamitan untuk pulang karena hari ini jadwal ku untuk sift Siang dipuskesmas biasanya ada kedua menantuku yang menggantikanku namun karena mereka sedang hamil besar terpaksa saya mengambil sift Siang


sedangkan jika saya sift malam akan ada banyak dokter muda yang dengan ikhlas menggantikanku


"kalau begitu saya pamit pulang dulu, terimakasih banyak tumpangannya ketoilet "ucaku


"iya bu sama-sama "ucap pak Wijaya sedangkan Bu Raidah menatapku kesal


setelah berpamitan saya pun meninggalkan rumah itu


dan pulang kerumahku untuk bersiap berangkat ke puskesmas


saat sampai dirumah dengan menggunakan motor milik Nana yang memang kupakai kerumah bu Raidah


tiba-tiba ponselku berdering


segera kurogoh saku celanaku dan mengambil ponselku ternyata panggilan dari Azlan


"Assalamualaikum, Umah "Ucap Azlan diseberang sana


"waalaikumsalam nak"jawabku


"bagaimana Umah apa sudah dipasang "!? tanya azlan


"sudah dong,coba kamu cek semoga umah tidak salah taruh"Ucapku


"Oke Umah, saya akan segera cek


oh iya umah sekarang ada dimana!?"tanya Azlan


"baru aja nyampe rumah"jawabku


"oh trus Arumi !?"ucap Azlan menanyakan adiknya


"Bayu ingin nginap disana dulu Sama Arumi "Jawabku lagi


"oh giti ya "ucapnya


"iya,eh sudah ya soalnya Umah mau siap-siap nih mau kepuskesmas dan jangan lupa jemput istrimu "ucapku


"siap umah"jawabnya


setelah selesai menelpon saya pun masuk kedalam rumah untuk bersiap-siap