Mas Duda I Love You Full

Mas Duda I Love You Full
Bab 190 Bu Raidah kritis



dua hari setelah Siska di pindahkan kerumah sakit dikota dan kedua anaknya dirawat oleh Fatiyah dan yang lainnya


Alesya yang sedari kecil tidak pernah berpisah dengan ibunya menjadi sangat rewel saat dijaga oleh Art nya bahkan Alesya sempat demam karena kebanyakan menangis mencari kedua orang tuanya namun saat pak Wijaya datang dan menyerahkan putrinya itu kepada azlan untuk dirawat untuk sementara waktu Alesya menjadi lebih tenang ditambah lagi saat azlan membawanya kerumah Bu Ayudia dimana semua anak-anaknya berkumpul disana,Alesya disambut dengan baik oleh semuanya


"apah itu spasa cih!?" tanya Amira pada azlan


"ini aunty kecil kalian namanya Alesya "jawab azlan


"memanna bia nanatna spasa apah!?" tanya Raina penasaran begitu pun dengan yang lainnya


"ini anaknya kakek Wijaya dan nenek siska" jawab azlan lagi


"oh beditu bellalti imi aditna yaya yayu!?" ucap Zahira tercerahkan


Zahira manggut-manggut tanda dia mengerti sekarang


dan tingkahnya itu terlihat sangat menggemaskan


"onty tecil cini bain pama tami" ajak Raina


namun Alesya masih tidak mau lepas dari Azlan


"ayo sayang main sama semua saudara mu kamu tidak usah takut ya, mereka itu semua baik loh" ucap azlan memberikan pengertian pada Alesya


"iya sayang ayo sama bibu" ucap Fatiyah mengulurkan tangannya kepada Alesya


dan Alesya menyambut uluran tangan Fatiyah,kini Alesya sudah berada dalam pangkuan Fatiyah


Fatiyah duduk dan memanggil semua anak-anaknya untuk mendekat padanya


semua anak kini berada didekat Fatiyah dan Fatiyah pun mulai memperkenalkan satu persatu anak-anaknya kepada Alesya


tak lama kemudian Alesya sudah mulai mau ikut bermain bersama mereka semua


hingga pada akhirnya dia sudah melupakan kesedihannya karena sudah beberapa hari tidak bertemu dengan sang ibu yang selama ini selalu ada bersamanya


dan seminggu berikutnya putra Pak Wijaya dan siska sudah diizinkan untuk pulang dan azlan juga Fatiyah menjemput bayi tampan itu dipuskesmas lalu membawanya kembali kekediaman mereka


sebesar apapun kesalahan ke-dua orang tuanya tapi bayi malang itu tidak tau apa-apa


mereka tidak bisa memilih dari rahim siapa mereka lahir


azlan dan Fatiyah sangat senang bisa merawat bayi mungil itu


anak-anak bayu dan Arumi pun dititipkan pada Ayumi karena mereka harus fokus pada kesehatan Bu Raidah yang kini semakin drop


Bu Ayudia dan pak marvel yang melarang bayu dan Arumi untuk membawa kedua anaknya karena mereka pasti kerepotan jika harus bolak balik rumah sakit mengurus Bu Raidah dan kembali untuk mengurus anak-anak mereka


pak Marvel tidak ingin cucu-cucunya sakit jika kedua orang tuanya tanpa sadar sudah membawa virus dan kuman dari rumah sakit dan terjangkit kepada ke-dua cucunya itu


awalnya bayu dan Arumi berat meninggalkan kedua anaknya namun mendengar alasan pak Marvel akhirnya mereka setuju


"kalian tidak usah khawatir kami disini banyak yang akan menjaga mereka " ucap Ayumi


"tapi apa kakak tidak akan kerepotan nantinya!?" tanya Arumi pada kakaknya itu


"tidak rum kan ada kedua mbaknya yang bantu kakak"jawab Ayumi dan diangguki oleh kedua Baby sitter anaknya


"baiklah kalau begitu,kak saya titip anak-anak ya" ucap arumi menciumi kedua anaknya


"iya rum ,kamu fokus saja mengurus ibu mertuamu dan ingat kalian juga harus bisa jaga kesehatan jangan sampai kalau kalian ikutan sakit karena kelelahan " ucap Ayumi memperingatkan adik dan adik iparnya itu


"iya kak" jawab mereka berdua


ya sudah kalau begitu kami berangkat ya kak" ucap arumi memeluk kakaknya itu


"kalian hati-hati ya dijalan,jangan lupa kasi kabar jika kalian sudah sampai " jawab Ayumi membalas pelukan adiknya


"iya kak, assalamualaikum " ucap mereka sebelum pergi meninggalkan rumah Ayumi


"bu Raidah sudah berada di dalam sebuah mobil ambulance dan arumi ikut mobil itu sedangkan bayu dan asistennya menggunakan mobilnya sendiri karena harus membawa beberapa keperluan mereka Nantinya saat sudah berada Dikota


Bu Raidah terpaksa dilarikan ke rumah sakit dikota karena luka di punggungnya semakin parah dan juga Arumi sudah sering mendapatkan beberapa ekor belatung saat membersihkan luka dipunggung mertuanya itu


Bu Raidah sudah beberapa kali meminta maaf kepada menantunya itu juga pada semua keluarga arumi hanya keluarga dari istri Bima yang tak pernah bmau datang untuk menjenguk Bu Raidah


bahkan istrinya bima merasa jijik pada bu Raidah saat datang berkunjung karena menyusul bima yang saat itu marah padanya karena tidak mau ikut pulang menjenguk sang ibu


jangankan mau membantu Arumi mengurus ibu mertuanya itu bahkan masuk kedalam kamar dimana Bu Raidah berada saja Diah tidak mau alasannya karena nggak tahan dengan bau lukanya Bu Raidah


kini mereka sudah berada di rumah sakit besar dikota dimana siska juga dirawat disana namun berada diruangan yang berbeda


pak Wijaya sudah sedari tadi menunggu kedatangan istri pertamanya juga anak dan menantunya


"pa" panggil bayu saat melihat pak Wijaya berdiri didepan pintu utama rumah sakit itu


"mamamu mana bay!?" tanya pak Wijaya pada putranya itu


"masih didalam mobil ambulance itu pa" tunjuk Bayu pada mobil ambulance yang baru saja masuk kepalataran rumah sakit


pak Wijaya Segera berlari mendekati mobil ambulance itu Bayu pun mengikuti langkah ayahnya itu


Arumi turun terlebih dahulu dari atas mobil itu


"pa,mas" panggil Arumi


"bagaimana keadaan mama selama dalam perjalanan kemari!?" tanya Bayu


"Alhamdulillah mama baik-baik saja mas,mama hanya sesekali mengeluh punggungnya sakit karena selama beberapa jam saya tidak membersihkannya karena biasanya dirumah setiap sejam pasti saya akan membersihkannya" jawab Arumi


"makasih banyak nak, karena kamu sudah merawat mamamu dengan sangat baik" ucap pak Wijaya melipat kedua tangannya didepan dadanya


"pa,ini sudah tugas rumi jadi papa jangan seperti ini" jawab Arumi menurunkan tangan pak Wijaya


"sekali lagi terimakasih banyak nak" ucap Wijaya lagi dan Arumi mengangguk dan tersenyum pada ayah mertuanya itu


para perawat membawa Bu Raidah kedalam rumah sakit dan membawanya keruang tindakan


mereka bertiga mengikuti para perawat yang mendorong bangkar Bu Raidah


"pa" panggil Bu Raidah sangat lemah


arumi dan bayu terkejut mendengar Bu Raidah memanggil pak Wijaya padahal selama Bu Raidah sakit tak sekalipun bisa mengeluarkan suaranya


"iya ma papa disini, maafkan papa ya" jawab pak Wijaya menggenggam tangan istrinya itu


"pa aaftan ma" ucap Bu Raidah lagi


"iya ma papa sudah memaafkan mama,mama juga maafkan papa ya karena papa sudah banyak salah padamu" jawab pak Wijaya


masih menggenggam tangan istrinya


"pa ma au pa dah itah Adi,ma ittazzz moda pa hahadiah (pa mama tau papa sudah menikah lagi,mama ikhlas semoga papa bahagia)"ucap Bu Raidah terbantah-batah


"iya ma" jawab pak Wijaya asal karena tidak mengerti apa yang dikatakan oleh istrinya itu tapi demi menyenangkan hati istrinya itu pak Wijaya mengiyakannya saja


Arumi dan Bayu pun saling tatap bertanya melalui pandangan mereka tentang apa yang dikatakan oleh ibunya itu


Arumi hanya mengangkat bahunya karena dia juga tidak mengerti


dokter dan perawat datang keruangan Bu Raidah untuk memeriksa keadaannya


seorang suster pun terlihat membawa paralatan untuk membersihkan luka Bu Raidah


Bayu, Arumi dan pak Wijaya di minta untuk keluar dari ruangan itu karena mereka khawatir tidak tahan melihat suster membersihkan luka Bu Raidah di punggungnya


"biarkan saya berada disini dok, saya ingin menemani mama"jawab Arumi


"apakah ibu akan tahan jika kami membersihkan luka ibu anda!?" tanya perawat itu pada Arumi


"selama ini saya sendiri yang membersihkan luka mamaku" jawab Arumi


"oh baiklah kalau begitu,ibu bisa berada disini tapi ibu jangan mengganggu pekerjaan kami" ucap suster itu


"iya sus,saya hanya ingin menemani mama saja" jawab Arumi dan diangguki oleh suster


bayu dan pak Wijaya merasa terharu betapa perhatiannya Arumi pada Bu Raidah


tanpa sepengetahuan mereka Bu Raidah meneteskan air matanya karena menantu yang dulu begitu di benci dan selalu dihinanya kini selalu merawatnya dengan baik dan tulus


suster pun Mulai mengobati luka Bu Raidah dan arumi setia menggenggam tangan ibu mertuanya, Arumi memberikan semangat agar Bu Raidah tidak begitu merasakan sakit pada lukanya


setelah beberapa hari Bu Raidah dan siska dirawat dirumah sakit mereka belum memperlihatkan banyak perubahan, bahkan Bu Raidah saat ini dalam keadaan kritis karena penyakitnya kini menggerogoti hampir seluruh tubuhnya


kini kaki Bu Raidah juga membengkak dan luka di punggungnya semakin parah


Arumi, Bayu dan pak Wijaya hanya bisa pasrah dengan keadaan mereka berdua namun mereka selalu berdoa agar mereka berdua di berikan keajaiban dan bisa kembali di tengah-tengah mereka lagi