
setelah pulang dari rumah Arumi Bu Raidah langsung pulang kerumahnya rasanya sangat kesal dan sakit hati Putranya sendiri memperlakukannya buruk bahkan mengusir begitu saja
ditambah lagi sang suami meninggalkan kita begitu saja
Bu Raidah sangat kesal niat hatinya datang kerumah Arumi ingin meminta uang pada putra sulungnya namun mendengar gelak tawa dari dalam rumah Arumi
hati iri dan dengki Bu Raidah meronta-ronta sehingga melupakan tujuan awalnya datang kerumah putranya
mulut pedasnya tak terkontrol memberikan komentar dan hinaan pada keluarga besannya sehingga membuat Putranya mengusirnya
sesampainya dirumah Bu Raidah tidak menemukan keberadaan sang suami membuatnya semakin kesal
Bu Raidah merogoh tas tangannya lalu mencari ponselnya dia ingin menelepon suaminya
tut....tut....tut....
beberapa kali Bu Raidah menelpon suaminya namun tidak aktif
Bu Raidah semakin kesal dibuatnya
sampai malam pak Wijaya tidak pulang, Bu Raidah sudah beberapa kali menelpon suaminya itu namun masih tetap saja tidak aktif
Bu Raidah memutuskan untuk makan malam sendirian tanpa menunggu kepulangan pak Wijaya karena sejak siang dia belum makan saking kesalnya sampai lupa untuk makan
setelah makan Bu Raidah masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat Namun belum sempat Bu Raidah naik keatas ranjangnya, terdengar suara deru mesin mobil yang sangat dikenalnya ya itu adalah mobil milik pak Wijaya
dengan tergesa-gesa Bu Raidah keluar dari dalam kamarnya dan menemui suaminya, Bu Raidah ingin meluapkan segala kekesalannya
Baru saja pak Wijaya menginjakkan kaki di Depan teras Rumahnya Bu Raidah sudah memberondongnya dengan berbagai pertanyaan
"papa itu dari mana saja hah!?"tanya Bu Raidah dengan emosi yang meluap-luap
"biar saya masuk dulu ma,saya masih capek
suami pulang bukannya disambut dengan baik ini malah dibentak-bentak "jawab pak Wijaya masih dengan suara yang pelan
"ck... mau disambut dengan baik mas!?"tanya Bu Raidah dengan nada mengejek
"iya kan memang seharusnya seperti itu "jawab pak Wijaya Santai
"oh mau disambut baik setelah meninggalkan saya begitu saja dirumah anakmu yang kurang ajar itu!? kamu juga ternyata tidak langsung pulang ke rumah memangnya kamu dari mana saja hah sampai pulang selarut ini" ucap Bu Raidah masih dengan suara tinggi
"saya seperti itu karena kamu juga yang selalu saja bikin ulah bikin malu " jawab pak Wijaya berjalan masuk kedalam rumah Tanpa mempedulikan istrinya yang menghadangnya dipintu
"saya itu tadi dapat telpon dari teman yang mau mengajak kerja sama untuk menambah menu kedalam rumah makan kita yang ada didekat tempat wisata "jawab pak Wijaya tenang
"trus kenapa kamu sampai pulang selarut ini dan ponsel kamu kenapa tidak aktif seharian ini"ucap Bu Raidah masih merasa kesal
"oh benarkah tidak aktif soalnya seharian ini saya tidak memegang ponsel setelah menerima telepon dari temanku"jawab pak Wijaya merogoh kantong celananya mencari keberadaan ponselnya namun tidak menemukannya
"loh ponsel saya mana!?"ucap pak Wijaya sambil mengingat-ingat dimana dia menaruh ponselnya
bu Raidah pun ikut panik karena ponsel suaminya tidak ditemukannya
"memangnya terakhir kamu simpan dimana sih!?" tanya vu Raidah yang melupakan amarahnya
"tadi terakhir saya pakai diatas mobil setelah menerima telepon dari teman setelah itu saya tidak memakainya lagi"jawab pak Wijaya beralasan padahal dia baru ingat jika ponselnya sempat di chaznya di villa miliknya karena baterai ponselnya habis
ya pak Wijaya seharian berada di villa miliknya yang berada di dekat wisata dimana Bayu membangun penginapan dan rumah makan
pak Wijaya membeli villa itu tanpa sepengetahuan anak dan istrinya
Pak Wijaya memang sering ke penginapan dan rumah makan milik Putranya itu karena Bayu mempercayakan kepadanya untuk mengatur dan mengawasi usahanya itu
pak Wijaya pun mempunyai sebuah toko jajanan yang Juga berada di villa yang sering didatanginya
tokonya itu sangat ramai pengunjung karena toko jajanan pak Wijaya satu-satunya disana
pak Wijaya mempekerjakan dua orang untuk mengelola tokonya itu
,"coba ponsel kamu cari di mobil"ucap Bu Raidah dan mau tidak mau pak Wijaya mengikuti ucapan istrinya agar istrinya tidak curiga
pak Wijaya berpura-pura membongkar semua isi dasboard mobilnya dibantu Bu Raidah namun tidak menemukan apa yang mereka cari
saya kira kebodohanmu berkurang seiring usiamu yang semakin tua tapi ternyata kamu semakin tua semakin bodoh dan juga pikun"ucap Bu Raidah menghina suaminya itu
pak Wijaya mengusap kasar wajahnya agar emosinya tidak meledak-ledak karena ucapan Bu Raidah
itulah kebiasaan Bu Raidah yang selalu menghina pak Wijaya jika melakukan sesuatu yang salah
"ya saya memang bodoh "jawab Pak Wijaya kesal dan menutup pintu mobil dengan keras sehingga Bu Raidah terkejut
"kan dari dulu memang kamu itu bodoh, hingga sampai sekarang kamu itu tidak bisa membahagiakan saya
dari usia muda sampai sekarang masih saja seperti ini tidak ada perubahan, seandainya saya segenit mertua bayu mungkin saya sudah mencari laki-laki yang lebih berguna dan bisa membahagiakan saya memenuhi kebutuhan hidupku seperti saat Ayah masih hidup"ucap bu Raidah yang masih saja menghina pak Wijaya
pak Wijaya tidak memperdulikan ucapan istrinya itu dan berlalu masuk kedalam kamarnya untuk bersih-bersih dan beristirahat
karena besok dia harus cepat datang kevilla untuk mengambil ponselnya dan kerumah makan karena besok akan datang beberapa tamu yang akan nginap di penginapan mereka
saat pak Wijaya selesai bersih-bersih namun belum sempat memakai bajunya Bu Raidah masuk kedalam kamarnya
mata Bu Raidah menangkap hal aneh di dada sang suami
pak Wijaya tidak menyadari pandangan mata istrinya yang terus menatap dadanya
Bu Raidah berjalan cepat mendekati suaminya dan memperhatikan baik-baik sesuatu yang berwarna merah darah yang tercetak jelas didada pak Wijaya
"ini apa pi!?" tanya bu Raidah menunjuk dada suaminya
"apa!?" pak Wijaya bertanya balik pada istrinya
"ini apa!?"tanya Bu Raidah lagi
pak Wijaya semakin mengerutukkan keningnya karena masih belum paham dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu
bu Raidah menyeret pak Wijaya kedepan cermin meja riasnya lalu memperlihatkan apa yang ditunjukkannya tadi
degg
jantung pak Wijaya berdetak kencang melihat apa yang ada di dadanya
"oh i-ini i-tu tadi mas tidak sengaja makan udang di rumah makan jadi alergiku kambuh"jawab pak Wijaya gugup
"Alergi !? ini bukan karena alergi mas Wijaya,saya bukan perempuan bodoh seperti otak kamu yang selalu kamu simpan didengkul
saya bisa membedakan mana merah bekas ****** dan mana merah karena alergi "ucap Bu Raidah dengan suara semakin melengking
untung saja mereka hanya tinggal berempat dengan sepasang pembantunya yang tinggal dibelakang rumah mereka sehingga takkan ada yang terganggu dengan teriakan Bu Raidah tetangga pun tidak akan mendengar karena letak rumah yang dulu dibangun oleh bu Ayudia berada didekat lapangan mini dimana anak-anak sekitar kompleks biasa bermain bola
dan tetangga yang berada disamping rumah yang sebelah kirinya sedang keluar kota jadi rumah mereka dalam keadaan kosong
"terus saja menghina saya, sedari dulu hanya itu yang kamu lakukan pada saya, selama puluhan tahun kamu menghinaku mengatakan saya itu bodoh tapi saya selalu sabar Raidah saya sabar
tapi satu yang harus kamu ingat Raidah karena kebodohanku ini saya bisa mengangkat derajat orang tuamu
saya bisa membuat kehidupan mereka jauh lebih baik hingga mereka menutup usia mereka masih saja menikmati hasil keringatku
dan karena kebodohanku ini saya bisa membiayai pendidikan Putra-putraku rapi kamu tidak pernah menghargaiku
ya kamu yang paling pintar kamu yang paling hebat apalagi dalam hal mengahina orang lain"ucap pak Wijaya mengeluarkan semua unek-uneknya yang selama ini disimpannya dalam hatinya
Bu Raidah terkejut baru kali ini suaminya itu se emosi itu
pak Wijaya memakai bajunya dan pergi meninggalkan Bu Raidah seorang diri dalam kamarnya
Bu Raidah mendengar suara mesin mobil milik pak Wijaya meninggalkan rumah mereka barulah Bu Raidah merasa menyesal karena ucapannya membuat suaminya pergi dari rumah
Bu Raidah menangis merutuki dirinya sendiri
dan dia tidak tau suaminya akan pergi kemana
karena dirinyalah sang suami menjadi marah dan pertengkaran tidak dapat dielakkan lagi yang membuat pak Wijaya memilih untuk pergi