
Pak Wijaya pun keluar dengan seorang anak perempuan dalam gendongannya dan kening anak perempuan itu ditempel obat kompres demam
"Bayu azlan!?" ucap pak Wijaya tertegun melihat siapa yang datang bertamu
"ka kalian kenapa bisa ada disini !?" ucap pak Wijaya gugup
"kenapa pa!? papa mau menutupinya lagi!?" tanya Bayu
"memangnya mereka siapa mas!?" tanya Siska istri muda pak Wijaya
siska ikut duduk disamping suaminya itu
"dia putra sulungku Bayu dan ini kakak iparnya "ucap pak Wijaya memperkenalkan Bayu dan Azlan
pak Wijaya sangat yakin jika Bayu tau tempat tinggalnya pasti dari azlan
pak Wijaya akhirnya mengenalkan Siska dan Alesya pada Bayu
"kenapa papa tega mengkhianati mama pa"ucap Bayu dengan tenang
"dan kamu apakah kamu tau jika pria ini punya anak dan istri!?"tanya bayu pada siska
siska hanya mengangguk saja namun wajahnya terus menunduk
"siska tidak salah bay ,ini kesalahan papa"jawab pak Wijaya mencoba membela istri mudanya
"trus kalau papa tau salah kenapa papa melakukan semua ini!?" tanya Bayu berusaha keras mengontrol emosinya
"papa minta maaf bay,papa melakukan semua ini karena papa merasa nyaman dengan siska
papa mendapatkan semua perhatian yang papa inginkan
dan papa tidak pernah dapatkan dari mamamu bay"
Bayu mengusap kasar wajahnya mendengar ucapan ayahnya Karena tidak tau harus bagaimana
ingin rasanya bayu memukul ayahnya karena telah mengkhianati ibunya namun apa yang ayahnya katakan juga benar selama ini dia tidak pernah melihat mamanya mempedulikan dirinya bahkan lebih sering menghina ayahnya itu, karena dulu ayahnya berasal dari keluarga berada juga tapi orang tua ibunya yang membantu usaha orang tua ayahnya agar tidak gulung tikar namun tante maya adik ayahnya membuat semua harta mereka habis dijualnya dan mereka menikah karena dijodohkan oleh orang tua mereka karena balas Budi
"biarpun seperti ini papa juga seharusnya bisa menjaga perasaan mama dan kami pa"Jawab Bayu
"saya tau bay,papa mengaku salah tapi jangan pernah meminta papa untuk berpisah dari istri kedua papa ini
papa sekarang Sangat bahagia bay, lihatlah adikmu dia tidak bersalah bay
mereka tidak bersalah apalagi istri papa sekarang sedang hamil dan sebentar lagi akan melahirkan
dan saya juga menafkahi mereka bukan dari uang hasil dari usahamu jadi kamu tenang saja
ya benar papa membeli rumah dan membangun mini market itu dari gaji papa selama mengelola perusahaan milik kakekmu dulu tapi itukan hak papa dan papa juga sudah memberikan sebagian gajiku untuk mamamu ditambah lagi gaji yang papa dapat dari mengelola usahamu papa berikan semua pada mamamu
perusahaan kakekmu bangkrut juga karena mamamu yang selalu menghambur-hamburkan uang tanpa papa tau mamamu memakainya untuk apa
tapi papa tidak bisa melarangnya karena mamamu selalu mengatakan jika papa tidak berhak untuk melarangnya karena itu miliknya
papa hanyalah orang lain yang kebetulan dijodohkan dengannya hingga kami menikah
itulah kata-kata mamamu jika papa memperingatkannya dan sekarang saya hanya pegawaimu
papa bekerja mengembangkan usahamu
papa tidak pernah menyelewengkan uang dari penginapan dan rumah makanmu
jadi papa mohon jangan pisahkan papa dengan istri kedua papa kebahagiaan papa ada pada mereka "ucap pak Wijaya panjang lebar dan pak Wijaya menggenggam tangan istri keduanya dengan erat
pak Wijaya juga terisak-isak saat menceritakan semua pada putranya itu
"jadi papa tidak bahagia dengan kami selama ini?!" tanya Bayu
"papa bahagia nak ada kalian maka dari itu papa masih bertahan hidup dengan mamamu seandainya papa tidak ada kalian mungkin sudah lama papa pergi dari kehidupan mamamu
papa juga sering malu dengan tingkah mamamu yang selalu saja membuat papa malu karena menghina orang lain bersyukurnya sekarang adik papa yang sifatnya sama dengan mamamu sudah tidak ada lagi" jawab pak Wijaya lagi-lagi meneteskan air mata mengingat adik semata wayangnya kini telah meninggal dunia
Azlan sebenarnya merasa bersalah namun itu semua demi kebaikan rumah tangga adiknya Arumi dia terpaksa harus melakukan itu semua
dan tanpa mereka ketahui azlan sudah melakukan panggilan telepon dengan Bima sehingga Bima mendengar semua pembicaraan antara bayu dan ayahnya
azlan melakukan itu sehingga tidak ada kesalahpahaman lagi karena azlan tau sifat Bima Sangat keras berbeda dengan Bayu yang gampang kasihan pada orang
Azlan tidak ingin Bima tiba-tiba datang dan menghajar ayahnya dan juga istri kedua pak Wijaya
sedangkan Bima yang diseberang sana yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka awalnya sangat emosional namun setelah mendengar kejujuran dari ayahnya Bima menjadi sedikit luluh karena Bima sangat tau sifat dan sikap ibunya yang senang menghina orang lain
karena istrinya sendiri pun sering dihinanya bahkan keluarga Istrinya pun pernah dihinanya karena mereka dari keluarga sederhana
ayah mertua Bima hanya seorang pensiunan PNS yang memiliki gaji yang kecil begitu pun dengan ibu mertuanya hanya seorang ibu rumah tangga
sejak awal mereka berpacaran Bu Raidah tidak pernah merestui karena mereka tidak selevel
Berbeda dengan Bayu yang langsung mendapatkan restu karena Bu Raidah memandang Bu Ayudia seorang dokter dan Bayu juga kakinya cacat karena kecelakaan saat menjalankan tugasnya
Bu Raidah berfikir tidak akan ada yang mau pada putra sulungnya yang cacat namun Arumi dan keluarganya menerima Bayu dengan baik
awalnya Bu Raidah sangat baik namun tidak berapa lama sifat aslinya terlihat karena terpengaruh oleh fitnah yang adik iparnya katakan pada Arumi
Bima sekarang belajar ikhlas dengan apa yang dilakukan ayahnya saat ini
namun yang bima sayangkan ibunya saat ini mengalami stroke dan tidak bisa berbuat apa-apa
"sejak kapan papa menikahi wanita ini !?" tanya Bayu
"papa dan Siska menikah sudah dua tahun lebih Bay dan itu sebelum mamamu sakit karena papa sudah tidak tahan dengan sifat mamamu bay" jawab Pak Wijaya
"lihat lah adik perempuanmu ini bay wajahnya sangat mirip dengan putrimu Arshila yang mewarisi wajahmu, sayang ayo sapa kak Bayu"ucap pak Wijaya lagi menyuruh putri kecilnya mendekati putra sulungnya itu
awalnya Alesya takut namun melihat Bayu tersenyum padanya Alesya mulai mendekati Bayu
"alo ata,mamatu echa "ucap Alesya terbata
"Halo sayang nama kakak Bayu " jawab Bayu menerima uluran tangan mungil milik adiknya itu
Alesya langsung mencium punggung tangan kakaknya lalu berpindah pada Azlan
mereka berdua seperti melihat Arshila yang ada dihadapan mereka
jika disandingkan mereka berdua pasti disangka saudara kembar
pak Wijaya dan Siska tersenyum melihat Bayu bisa bersikap baik pada putri mereka
"pa bayu harap papa jangan mengatakan ini dulu pada mama dan kamu saya harap kamu bisa mengerti jika papa tidak bisa selalu bersama kamu mama kami juga membutuhkan papa disampingnya "ucap bayu pada Siska
Siska hanya mampu menganggukkan kepalanya namun tidak berani memandang bayu dan azlan
"maafkan saya karena menjadi orang ketiga dalam keluarga kalian tapi saya sangat mencintai mas Wijaya saya ikhlas jika mas Wijaya tidak sering berada bersama kami namun jangan suruh kami untuk berpisah "siska mengeluarkan suaranya dengan isakan tangisannya
Bayu tak mengucapkan apa-apa karena tidak tau harus bagaimana lagi
hingga akhirnya mereka pamit pulang dari rumah ayahnya itu
namun Alesya menangis ingin ikut sama Azlan
"ata alan ceca itut hiks hiks hiks "ucap Alesya sesegukan
"nanti ya sayang kakak datang jemput Echa kesini tapi sekarang Echa jangan ikut dulu ya "jawab Azlan
"jandi ya ata' " ucap Alesya dengan mata sembabnya
"iya sayang kakak janji" jawab Azlan
pak Wijaya,bayu dan Siska yang melihat itu merasa terharu karena Alesya bisa langsung dekat dengan Azlan
Bayu mengakuinya bahwa semua anak-anaknya dan juga anak kakak iparnya yang lain sangat manja dan dekat dengan azlan