
Astaghfirullah ya Allah ampunilah dosa-dosa mama " ucap Bayu mengusap dadanya dan juga pipinya yang sudah basah oleh air mata
"ibu-ibu dan bapak-bapak serta saudara-saudara yang seiman saya mewakili keluarga almarhumah untuk mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya jika semasa hidup Almarhumah pernah berbuat salah baik disengaja nya ataupun tidak "ucap ustadz Jefri pada semua orang
Azlan segera menelpon anak buahnya yang ada di kota yang sama dengan Bima dan menyuruhnya untuk segera membawa bima datang
"ya Allah ada apa dengan mama hamba ya Allah " ucap Bayu prustasi menghadapi semuanya
setelah beberapa jam orang-orang terus berusaha untuk mengangkat jenazah Bu Raidah namun tetap tidak bisa entah apa yang telah terjadi
ustadz Jefri pun bingung dibuatnya karena ini pengalaman pertamanya melihat jenazah seorang ibu tidak bisa di pindahkan dari tempatnya
setelah beberapa jam berusaha untuk mengangkat jenazah Bu Raidah tiba-tiba saja terdengar ucapan salam dari luar
dan ternyata itu adalah Bima putra kedua Bu Raidah
pak Wijaya yang melihat kedatangan putra keduanya segera berpindah tempat agar bima tidak melihatnya karena dia tidak ingin Bima membuat ulah menghardik dan menghina ayahnya itu
Bima meraung menangis meratapi kebodohannya sendiri karena selama ini terlalu mengikuti keinginan istri dan mertuanya untuk tidak datang menjenguk sang ibu karena rasa sakit hati mereka
Bima terus meminta maaf kepada jenazah ibunya itu
"sudah pak Bima kasihan ibu anda, sebaiknya kita segera mengangkatnya dan mengantarkannya kepemakaman karena sebentar lagi sore" ucap ustadz Jefri mengingatkan Bima
kini Bima dan Bayu beserta beberapa pelayat laki-laki kembali mengangkat jenazah Bu Raidah dan ajaibnya kali ini tubuh Bu Raidah bisa diangkat dan dipindahkan kedalam keranda tidak seperti sebelum-sebelumnya
"Alhamdulillah " ucap semua orang saat jenazah Bu Raidah bisa diangkat
Bayu dan bima berada di bagian keranda depan Bu Raidah
pak Wijaya juga ikut serta mengangkat keranda mayat istrinya namun pak Wijaya memilih dibagian belakang Bima hingga Bima tidak melihatnya
air mata penyesalan terus mengalir di pipi tua pak Wijaya begitu pun dengan Bima, yang selama ini mengabaikan pesan dan telpon dari sang kakak karena terpengaruh oleh istri dan mertuanya
mereka mengatakan jika Bayu menelpon hanya ingin merepotkan mereka saja
kini penyesalan itu baru menggegoti hati Bima karena tidak sempat meminta maaf kepada sang ibu dimasa hidupnya
kini rombongan mereka telah sampai di pemakaman umum dimana Bu Raidah akan beristirahat untuk selamanya
semua proses pemakaman telah dilakukan kini hanya tinggal bayu,Arumi dan Bima yang masih tinggal
menatap pusara sang ibu
pelayat yang lainnya sudah pulang terlebih dahulu termasuk keluarga besar Arumi dan Bayu mereka pulang untuk mempersiapkan pengajian yang akan digelar malam harinya karena Bu Raidah baru bisa dimakamkan saat Sore menjelang karena adanya kejadian yang tak terduga
"ternyata bu Raidah menunggu kedatangan putra keduanya sehingga jenazahnya tertahan begitu lama dan lihatlah saat anaknya datang jenazahnya bisa diangkat " bisik-bisik para pelayat yang datang
sedangkan pak Wijaya Berdiri dikejauhan menatap anak-anaknya pak Wijaya memilih seperti itu karena tidak ingin membuat masalah dengan Bima yang masih marah padanya
Bima menangis sesenggukan memeluk batu nisan sang ibu meluapkan segala rasa penyesalannya
"jangan seperti ini bim,ayo kita pulang jangan beratkan mama kamu tau sebelum kamu datang jenazah mama tidak bisa dipindahkan tapi setelah kamu datang mama baru bisa dipindahkan,apa kau tau artinya Bim?! " ucap Bayu bertanya pada Adiknya itu
Bima hanya menggeleng lemah namun masih saja sesegukan
jadi berhentilah untuk menyiksa mama, berdoalah untuk mama agar semua dosa dan amal ibadahnya diterima oleh Allah "ucap Bayu memperingatkan adiknya
"ini semua pasti karena tua bangka itu" jawab Bima mengepalkan tangannya
"berhentilah menyalahkan papa Bim,coba kamu berada diposisi papa pasti kamu akan melakukan hal seperti itu
puluhan tahun di hina dan di rendahkan mungkin papa sudah berada dititik jenuhnya sehingga melakukan kesalahan
dan ingat papa selama bini selalu banting tulang bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kita juga memenuhi segala keinginan Mama "ucap Bayu mencoba menasihati adiknya dan bisa melupakan kemarahannya pada ayah mereka
"dan satu lagi yang harus kamu ingat kita sekarang hanya punya ayah"ucap Bayu lagi
"ayo sayang kita pulang anak-anak pasti sudah menunggu kita mereka sudah rindu "ucap bayu pada istrinya Arumi
"iya mas ayo saya juga sangat rindu pada anak-anak ditinggalkan hampir sebulan rasanya sangat rundu" jawab arumi sengaja untuk menyindir adik iparnya yang tidak punya perasaan
arumi kesal pada adik iparnya itu selama hampir sebulan ibunya dirawat dirumah sakit sekalipun tak pernah datang menjenguk Jangankan datang untuk membantu merawat sang ibu bahkan hanya sekedar bertanya bagaimana kabarnya tidak pernah dilakukannya
itulah yang membuat Arumi kesal pada Adik iparnya itu dan juga Istrinya
bayu dan Arumi meninggalkan area pemakaman umum untungnya Arumi tadi memakai motor datang kesana karena tidak kuat jalan kaki karena tubuhnya sangat lelah dari perjalanan jauh dan belum sempat untuk beristirahat
melihat sang kakak pergi Bima pun beranjak dari depan pusara sang ibu
"ma bima pulang ya mama yang tenang ya disana " ucap bima dan pergi meninggalkan pemakaman umum itu menuju rumah sang mama yang jaraknya lumayan jauh
Bima berjalan kepangkalan ojek lalu memesan ojel untuk kembali ke rumah mamanya yang sudah lama tidak pernah didatanginya
Dipemakaman setelah bima pergi pak Wijaya mendekati pusara sang istri
"ma maafkan papa ya,papa ikhlas jika bima membenciku karena ini semua kesalahanku, mungkin saya akan jarang bisa datang mengunjungimu disini karena siska juga membutuhkan ku
ma kamu yang tenang ya disana "ucap pak Wijaya mengelus batu nisan Bu Raidah
"ma papa pulang ya " setelah berpamitan pak Wijaya meninggalkan pemakaman itu seperti bima tadi pak Wijaya juga pulang kerumahnya yang selama ini ditempati nya bersama sang istri menggunakan ojek
pak Wijaya ingin langsung berpamitan untuk kembali kekota karena khawatir dengan keadaan siska yang masih dalam keadaan koma
kini pak Wijaya telah sampai di depan rumahnya yang sudah lama tidak datanginya semenjak dia pergi dari rumah dalam keadaan marah
"assalamualaikum " ucap Salam pak Wijaya
"waalaikumsalam" masuk pa jawab Arumi karena mereka semua sedang berkumpul di ruang tamu salibg berbincang dan membahas tentang acara pengajian yang akan diadakan malam nanti
Bima beranjak dari duduknya saat pak Wijaya masuk kedalam rumah,Bima menatap ayahnya dengan tatapan kebencian
"Bay papa mau langsung pulang kekota ya soalnya papa khawatir pada Keadaan Siska"ucap pak Wijaya pada Bayu
"jangan pergi dulu pa, ikutlah pengajian mama besok pagi saja baru papa pergi " jawab bayu
"iya pa, papa pergi besok pagi saja trus apa papa tidak kangen sama Alesya dan sikecil !? kalau bisa temui mereka dulu pa dan berikan si kecil nama" sahut Arumi
"baiklah saya akan menemui mereka dulu sebelum papa kembali kekota " jawab pak Wijaya dengan mata berkaca-kaca