Mas Duda I Love You Full

Mas Duda I Love You Full
Bab 34



"Dunda,danan peldi- peldi ladi ya,talo dunda peldi icha itut tama ata' abi" ujar putriku lagi dengan berderai air mata


"iya sayang, tapi icha juga harus janji lekas sembuh dan jangan sakit lagi okey" ujar Ayumi menanggapi ucapan Arisha


mungkin wanita itu kasihan dan tidak tega melihat air mata putri kecil itu


Ayumi terlihat menghapus Air mata gadis kecilku lalu kembali memeluknya


"oteh dunda, Icha dandi nda cakit ladi" ucap Arisha dengan senyuman dibibir nya dan ajaibnya Demam Arisha langsung normal


"oma dunda icha cuda Puyang,Ata' abi cini ata'! apatah ata' nda lindu pama dunda?" ucap icha pada mama dan kakaknya abian yang masih berdiri dipintu masuk klinik


Abian yang disebut namanya oleh sang adik langsung berjalan mendekati adiknya yang masih setia memeluk pinggang Ayumi


wanita itu terlihat sudah gelisah mungkin karena sudah lama berdiri dan pinggangnya dipeluk erat oleh Arisha


Abian kini berdiri disamping ranjang tempat Arisha dan Ayumi berada


"eh duduk dulu mbak nanti kakinya pegal kalau berdiri terus "ujar Rafa memberikan kursi kecil untuk Ayumi


"makasih mas Rafa" ujar Ayumi tersenyum manis pada Rafa


"iya mbak sama-sama" jawab Rafa dan membalas senyuman manis Ayumi


Rafa terlihat terus memandangi wanita itu hingga mama membuat Rafa si genit sadar dari lamunanny saat mama menyenggol lengannya


Rafa hanya cengar-cengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"ade' harus dengerin apa yang bunda katakan ya,kamu harus cepat sembuh dan jangan sakit lagi kakak akan menjadi sedih jika kamu sakit lagi" ujar Abian pada Adiknya iti


"iya ata' adet janji nda atan satit ladi,adet nda Au ata cedih pama dunda peldi ladi"jawab Arisha dengan senyumannya


"assalamualaikum"ucap seorang gadis yang tangannya penuh


"Waalaikumsalam"Jawab kami bersamaan


saya dan papa yang masih berdiri di dekat pintu segera masuk kedalam klinik agar gadis itu bisa masuk karena ditangannya ada nampan berisi teko dan cangkir teh


sedangkan dibelakang gadis itu ada lagi satu orang gadis cantik yang juga membawa nampan berisi bubur dan air putih


saya kaget melihat Dokter yang merawat putriku dan juga dipanggilnya bunda adalah gadis bar-bar yang pernah menabrakku Beberapa hari lalu dikedai mie kering namun saya mencoba menetralkan degup jantungku yang tiba-tiba bergetar hebat


"nah itu makanannya sudah datang " ujar Ayumi menunjuk menunjuk dua orang gadis yang baru masuk kedalam klinik


"loh mbak kan yang tadi siang mengatarkan saya baju pesanan dari Yumi Fashion ?" ujar Rana pada gadis cantik itu yang wajahnya sangat mirip dengan wajah Dokter Ayumi


mungkin mereka bersaudara jadi muka mereka sama


"eh iya mbak Rana Khumaira kan?" ujar gadis cantik itu lalu menyerahkan nampan yang berisi bubur yang dibawanya pada Dokter Ayumi dan melanjutkan perbincangannya dengan adikku Rana


"Icha makan dulu ya,biar cepat sembuh " ujar Dokter Ayumi pada Arisha dan menyodorkan sendok yang berisi bubur kemulut Arisha


Arisha segera membuka mulut Nya dan memakan bubur yang diberikan oleh Dokter Ayumi,kami semua senang melihat Arisha makan dengan lahap karena selama ini Arisha sangat susah untuk disuruh makan


"Alhamdulillah,icha sudah mau makan" ujar mama lirih air matanya terus saja mengalir saya mendekati mama dan memeluknya mencoba memberikan ketenangan


saya tersenyum melihat putriku makan dengan lahap sampai bersendawa karena baru kali ini putriiku itu makan banyak


"wah Icha hebat ya kakak, buburnya habis"ujar Dokter Ayumi pada Abian putraku


"iya bunda,icha memang hebat " jawab Abian tersenyum, Dokter Ayumi juga ikut tersenyum manis


"iya don icha tan bau tepat pembuh ata',icha bau bain-bain cama bunda "ujar Icha dengan wajah berbinar nya


"iya sayang, insya Allah ya" ujar Dokter Ayumi mencoba menjelaskan pada gadis kecilku itu


malam pun semakin larut


"jadi bagaimana nak Ayumi apakah icha bisa dibawa pulang ? ujar mama bertanya kepada Dokter Ayumi


"kalau bisa sih bu biar Icha dirawat dulu disini semalam sampai cairan infusnya habis dan kondisi tubuhnya benar-benar pulih"ujar dokter Ayumi menjelaskan alasannya mengapa icha harus dirawat inap


"baiklah kalau itu yang yang terbaik menurut nak Ayumi"ujar mama pada Ayumi


"insya Allah besok icha akan bisa pulang dan sehat kembali " ujar dokter Ayumi meyakinkan mama


"aamiin, terimakasih banyak ya nak Ayumi " ujar papa


"iya pak sama-sama "ujar Ayumi


Icha oma dan opa pulang dulu ya sayang besok kami kesini lagi jemput icha"ujar mama pada Arisha


"iya oma,icha mo bobo cini ja


icha mo bobo cama dunda" ujar Icha,apa yang kami takutkan jika icha akan menangis bila ditinggalkan karena mama tidak bisa jauh darinya tapi kali ini icha sangat santai dan tenang, kami saling tatap lalu melemparkan senyum


"dek kakak pulang dulu ya,kamu jangan nakal ya nurut sama Bunda "ucap Abian mencium pipi adiknya


Dokter Ayumi tersenyum melihat tingkah anak-anakku entah apa yang dipikirkannya


"iya Ata',adet danji nda atan datal dan yuyut pama dunda" ujar Arisha


"Ayah antar oma dan opa pulang dulu ya sayang "ujarku pada putriku


"iya yayah" jawab Arisha


"Raf,Ran kakak pulang dulu ya antar mama sama papa pulang dulu"ujarku pada kedua adikku yang sedang asyik ngobrol dengan Arumi dan Nana adik-adik dokter Ayumi


"iya kak" ujar mereka berdua


saya pun pulang mengantarkan mama,papa dan Abian pulang


saya juga ikut masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri yang terasa gerah setelah menempuh perjalanan jauh dan mengganti pakaian yang terasa nyaman untuk dipakai tidur nantinya di klinik dokter Ayumi


saya yang telah kembali lagi ke klinik setelah mengantar orang tua dan Anakku pulang,saya berdiri dipintu kamar perawatan Arisha dan saya melihat semua yang dilakukan oleh Dokter Ayumi dan putriku sudut bibirku terangkat


setelah merasa Arisha telah tertidur dokter Ayumi bangun dan menyiapkan tempat tidur untuk digunakan Rana tidur, setelah semua selesai Ayumi keluar dari kamar dan menyapa keluarga pasiennya


"Rana kamu bisa tidur didalam dikamar disana saya sudah siapkan "ujar Ayumi


"iya mbak terimakasih banyak "jawab Rana


"Mbak Ayumi ada obat nggak untuk membantu orang yang susah tidur ?"tanya Rafa


"oh ada Mas Rafa,mas Rafa Mau biar nanti saya ambilkan " ujar Ayumi


entah mengapa saya sangat tidak suka bila rafa mencoba menggoda Ayumi


"bukan saya mbak tapi kakak saya yang sangat susah untuk tidur "ujar Rafa, Saya hanya menatap Datar Rafa yang memang suka ember dan somplak sedangkan Rana sudah cekikikan sendiri menatap kami entah apa yang di fikirkannya karena sedari tadi senyum-senyum sendiri


"oh saya kira Mas Rafa yang mau minum obat"ujar Ayumi


"bukan mbak kakak saya yang yang butuh obat tapi dia itu juga susah untuk minum obat " ujar Rafa membuatku semakin kesal


kenapa mesti memberitahukan semuanya sekalian saja bilang saya juga takut disuntik


seandainya bukan diklinik sudah ku uyel-uyel mulut lemesnya


"coba pak Riki saya periksa dulu" ujar dokter Ayumi


"saya tidak sakit jadi saya tidak perlu untuk diperiksa "ujar ku dingin karena kesal dan menjaga egoku


"Ya sudah kalau nggak mau"ujar dokter Ayumi


"cakep tapi jutek dingin lagi kayak beruang kutub"gumam dokter Ayumi namun masih bisa di dengar oleh ku dan yang lain


Rafa dan Rana sudah cekikikan mendengar ucapan Ayumi


"Mbak Rana saya kedalam rumah dulu ya mau ambil selimut " ujar ayumi lalu berlalu dari sana dan masuk kedalam rumahnya


Tak berselang beberapa menit Ayumi sudah datang membawa selimut


"mbak Rana ini selimutnya " ujar Ayumi menyerahkan selimut pada Rana


"mas Rafa tidur dikamar itu saja didalam juga ada kasur lantai bisa mas Rafa dan mas itu pakai tidur " ujar Ayumi menunjuk ku dengan dagunya


entah mengapa perasaanku tidak enak saat Ayumi sengaja lewat dibelakangku yang kebetulan duduk di sofa tunggal, dia menyentuh belakang kepala ku dan merasa seperti sedikit disetrum listrik reflek saya menoleh menatap nya dia terlihat tersenyum menakutkan


"selamat malam dan selamat tidur mas dada baja" ucap Ayumi dan berlalu masuk kedalam kamar dimana Arisha berada


tak berapa lama saya merasakan mengantuk yang luar biasa entah mengapa seperti ini tidak seperti biasanya saya akan sangat susah untuk memejamkan mata dan tidur dengan cepat


begitu hebatkah sentuhan tangan dokter cantik ini sampai jantungku juga ikut bergetar hebat entah mengapa


"Raf, kakak tidur duluan ya soalnya Ngantuk banget ini tidak seperti biasanya,kenapa ya tiba-tiba ngantuk kayak gini "ujar Riki dan berdiri dari duduknya lalu berjalan kedalam kamar dan naik keatas ranjang tak membutuhkan waktu lama Riki pun terlelap