LUCA

LUCA
EPISODE 97



Kamu hang menabur, aku yang menyiramnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Maaf tuan, dia bunuh diri saat kami belum menyadari kesadarannya." Ucap Penjaga ruangan itu menunjukan mereka.


"Dia bunuh diri dengan menggigit lidahnya, disana tersimpan racun yang sudah mereka siapkan." Galang meneytuh darah yang mengalir di mulut penjahat itu.


"Sepertiya musuh kita memang bukan orang sembarang kak." Gerald menatap mayat penjahat itu.


"Dua lainnya masihh belum sadar tuan." Ucap penjaga memberitahu.


"Cepat keluarkan racun di mulutnya, mereka tidak boleh mati sebelum gue menemukan bossnya." Perintah Galang keluar dari rudangan itu, ia merasa semakin geram.


"Siapa yang berani bermain-main dengan kita?" Galang mengepalkan tangannya.


"Setidaknya kita tau bahwa mereka bukan orang biasa kak, kita akan yakin untuk menghancurkannya."


~~~~~~~


"Noona, ini minumannya." Pelayan mengantarkan minuman ke kamar Luca yang sedang bersama Elen.


"Kenapa hanya satu?" Tanya Luca.


"Maaf noona, tadi minumannya tejatuh, saya akan mengambilnya lagi untuk noona Elen. Silahkan di minum noona dulu." Ucap Pelayan itu menjelaskan.


"Pergilah." Ucap Luca.


"Gue yang minum duluan ya, gue haus." Ucap Elen mengambil minuman itu dan hampir menegaknya.


"Tunggu." Luca menghentikan Elen dan mengambil alih minuman itu.


"Kenapa?" Elen merasa heran


"Lihat ini." Luca menyiramkan minuman itu ke tanaman kecil di kamarnya, tak lama kemudian tanaman itu langsung layu karena kuatnya racun itu.


"Haaah? kok bisa?" Elen melotot menatap itu.


"Minuman ini sudah beracun." Ucap Luca dengan tenang.


"Kok lo bisa tau?"


"Karena gue pinter." Ucap Luca tersenyum.


Ia mengambil laptopnya dan memperlihatkan kepada Elen. Di sana terlihat jelas Shina menaruh sesuatu ke minuman itu saat pelayan sedang pergi, dan dengan sengaja Shina menabrak pelayan itu di tangga dan membuat satu minuman jatuh.


"Sialan, nenek tua itu mau bunuh gue?" Umpat Elen kesal.


"Dia mau bunuh gue." Ucap Luca dengan tenang.


Sekarang Elen mengerti kenapa pelayan tadi hanya membawa satu minuman, Shina ingin memastikan bahwa yang meminum itu adalah Luca.


"Gak usah lebay, ini masalah kecil." Luca menyeret baju Elen yang tadinya sudah beranjak.


"Terus kita harus diem aja gitu?"


"Lo liat aja gimana gue bales dia." Luca menepuk bahu Elen sembari tersenyum, jelas di otaknya ada sebuah rencana sekarang.


"Elen." Panggil Gior membuka pintu.


"Apa?" Tanya Elen hanya menatap Gior.


"Lo cuman nanya apa?" Gior mengerutkan dahinya.


"Ya terus gimana?" Tanya Elen tidak mengerti.


Gior hanya menatap tidak senang, sedari tadi pacarnya hanya menghabiskan waktu bersama Luca dan tidak menemuinya. Bahkan sekarang dia tengah asik, dan sama sekali tidak mencarinya.


"Keluar, jangan pacaran di kamar gue." Usir Luca pada keduanya.


"Kok lo ngusir gue." Elen menatap Luca.


Gior langsung menarik gadis itu turun." Ayo, Luca gak mau di ganggu, dia lagi sibuk." Ucap Gior menyeret pacarnya.


Luca hanya menggelengkan kepala, ia sudah menyangka Gior akan jatuh hati pada gadis itu.


Tunggu!!!!


Ia masih memiliki pekerjaan, ia harus membalas Shina yang berani menantangnya. Segera ia turun dan keluar dari kamarnya untuk ke dapur.


"Pergi bawa ini ke kamar Shina, jangan beritahu kalau gue yang buat minumannya."Ucap Luca pada pelayan itu, pelayan itu dengan patuh pergi mengantarkan minuman ke kamar Shina.


"Tenang aja, gue gak bunuh lo. Paling cuman jungkir balik di WC." Luca mengibaskan rambut panjangnya senang, tak lupa ia mengintip memastikan rencananya berhasil.


.


.


.


.


.


.


.


Komen yukk, rayakan kebahagiaan pembalasan Luca๐Ÿ˜


like dan komen guysss๐Ÿ™