
Nona, semua sudah siap..ucap Malik.
Tapi, apa gak sebaiknya disini saja dulu?, sepertinya pengaruh caffein-nya masih membuat anda tidak bisa tidur...tambah malik.
Flashback...
Luca...ucap Lingga.
Pulang gih, dari tadi hp Om bunyi mulu tuh... bikin aku makin pusing aja tahu gak.... ucap Luca
Om?? maksudnya gue...batin luca
udah mendingan pulang sana, ngantor kek, apa kek terserah deh... jangan gara-gara om terus disini, orang yang diluar jadi gak bisa masuk... ucap Luca yang sontak membuat Lingga menoleh kearah pintu.
Lingga segera membuka pintu.
Pagi tuan muda, saya malik kepala pelayan keluarga Anggara...ucap Malik dengan ekspresi dingin.
Ah... silahkan masuk...ucap Lingga
Nona muda, saya sudah menyiapkan pakaian ganti anda. apa anda Mau mandi sekarang ? tanyanya datar.
wah marah ni kayaknya.... batin luca bicara
gak, biar si om om girang ini dulu, dia mau ngantor.... ucap Luca dengan isyarat memaksa Lingga enyah dari hadapannya.
Lingga tersenyum, tapi bisakah kata "om om girang itu ditiadakan" batin Lingga protes, Lingga pun berlalu ke kamar mandi memberi ruang pada Luca dan Malik.
Kalau mau marah ya marah aja, gak usah diem gitu, serem tahu...ucap Luca yang masih didengar Lingga dari kamar mandi.
hhhh... Malik menghela nafas kasar
Nona tahu kalau nona punya alergi, tapi kenapa masih mengkonsumsinya?...omel malik.
tolong diralat ya, TIDAK DISENGAJA.. protes Luca yang sudah mendudukan dirinya
Malik masih menunggu penjelasan.
Bibirku tak sengaja menyentuhnya... jangan tanya lagi bagaimana caranya... liat aja di tv, mungkin akan lebih jelas untuk paman...ucap Luca.
Lingga tersenyum, sepertinya tunangannya malu akan kejadian semalam. Setelah mandi dan memakai pakaian ganti yang dibawakan asistennya semalam.
Lingga pun keluar dari kamar mandi dan justru disuguhi pemandangan Luca dan Malik yang masih bersitegang saling menatap sengit. Malik yang memaksa mendengar penjelasan Luca dan Luca yang menolak memberikan penjelasan.
Hal itu tampak lucu di mata Lingga. Lingga mendekat.
Aku yang salah, semalam sebelum prosesi pertunangan aku mengkonsumsi kopi, dan saat prosesi pertunangan..... ucap Lingga terpotong saat tanpa berita tiba-tiba saja bantal melayang ke wajahnya.
Heh om om girang, ngapain masih disini?? udah sono ngantor gih.... rapat kek, apa kek... cepetan.... protes Luca, jujur dia sangat kesal.
Lingga pun mengalah, ia mendekati Luca dan mengembalikan bantal ke tempat semula.
Kalau ada apa-apa ingat telepon aku, aku pergi.... cup.... ucap Lingga seraya mendekap dan mengecup kening Luca lama, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.
******
Gak perlu, pokoknya aku mau pulang sekarang, kalau pun pengaruh caffein-nya masih ganggu, paman hanya perlu menghubungi Mas Dio, ok?! .... ucapnya.
Baik, saya mengerti nona.... ucapnya, lalu Luca turun dari ranjangnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setengah jam selesai mandi dan berpakaian, Luca menghampiri Malik.
Apa nona yakin tidak perlu mengabari Tunangan anda?... tanya malik yang sedang menyisir rambut Luca
Gak perlu, Dia memang tunanganku atau lebih tepatnya pembeliku, tapi ia tetap tidak punya hak untuk mengetahui apapun yang kulakukan. Aku bukan miliknya, ini hanya status yang tidak penting... ucapnya dingin lalu berjalan keluar dari kamar rawat inapnya.
Luca masuk kedalam mobil yang sudah disediakan, 45 menit kemudian mereka sampai dirumah, benar saja, hanya ada para pelayan yang menyambutnya. Ia tidak perlu bertanya kemana orang tua dan ke 5 kakaknya berada.
Nona, tuan besar & nyonya...ucap Bi darmi
Tidak perlu dijelaskan, aku gak mau dengar... potong Luca
Nona... ucap bi darmi sedih melihat nona mudanya yang sejak kecil dibesarkan oleh para pelayan.
Aku gak apa-apa bi, bukankah bukan hal baru lagi bagiku diabaikan?... mereka tak perduli padaku lalu untuk apa aku menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan mereka?!... ucap Luca malas.
Nona...ucap bi darmi lagi.
Udahlah bi...aku capek, mau istirahat, jangan biarkan siapa pun masuk ke kamarku karna mungkin aku akan mengamuk...ucapnya lalu pergi berlalu memasuki kamarnya.
Nona masih dalam pengaruh caffein, nona akan jadi sulit tidur jadi usahakan untuk tak mengunjungi lantai 3 jika tidak ada yang penting, beritahukan juga pada yang lain untuk tak membuat keributan sedikit pun, aku akan mengurus surat izin ke sekolah nona agar nona tidak perlu masuk sekolah dulu sampai nona sudah benar-benar sehat... ucap Malik mengambil keputusan.
*****
Sorenya Lingga datang berkunjung betapa terkejutnya ia saat menemukan tunangannya tak lagi ada di ruang rawat inap.
Ah, mbak lucanya sudah check out tadi pagi mas... ucap suster dengan senyum-senyum karna terpesona oleh ketampanan Lingga
Oh ok terima kasih... ucap Lingga berlalu pergi tapi ia berpapasan dengan Dio.
Lingga tak terlalu menyukai Dio tapi bagaimana pun dokter ini lah yang sudah menyelamatkan tunangan kecilnya.
Sore...sapa Lingga
Sore, jika kau ingin menjenguk luca dirumahnya lebih baik urungkan niatmu jika tak ingin membuatnya semakin membencimu... ucap Dio.
Emosi luca masih dalam zona merah...jangan tanyakan salah siapa...beri saja ia ruang untuk memperbaiki kondisi hatinya...ucap Dio lalu berlalu pergi.
Lingga terdiam, ia cukup kesal mengetahui ada orang lain yang lebih mengenal tunangan kecilnya. Ia pun berlalu memasuki mobilnya dan pulang menuju apartemennya.
Sepanjang perjalanan, rahang Lingga tampak mengeras, sepertinya laki-laki itu sedang menahan marahnya. Sesampainya dia apartemen ia segera menguyur dirinya dengan air dingin, yah lingga butuh itu.
Sambil menegak wine di gelasnya ia terus berfikir ada apa dengan dirinya, mengapa ia tampak begitu perduli bukankah ia tak tertarik dengan gadis manapun, bukankah baginya wanita hanyalah pencetak keturunan, lalu kenapa ia begitu peduli dengan bocah SMA itu, sungguh Lingga tidak habis fikir, apalagi saat ia mendengar dari jordan betapa ia sangat mengkhawatirkan Luca malam itu.