
Apa yang sudah menjadi milikku, akan tetap seperti itu.
๐น๐น๐น๐น
"Pa aku minta seluruh saham di alihkan menjadi namaku." Ucap Luca sedang menelfon Bram.
"Kenapa terburu-buru Luca, semua akan menjadi milikmu saat kamu sudah mampu mengganti papa." Ucap lelaki di sebrang sana yang sepertinya belum mengetahui keberadaan Helen.
"Aku menginginkannya sekarang."
"Asal kau mau merestui pernikahan papa dan Helen." Ucap Bram memberi syarat.
"Baiklah, asal itu di selesaikan hari ini juga." Luca menyetujui persyarat itu tanpa berpikir lama.
"Oke, seseorang akan ke sana untuk meminta tanda tanganmu."
"Iya." Luca menutup telponnya setelah merasa tidak ada yang perlu lagi di bicarakan.
Ia akhirnya bisa bernafas lega setelah menyelesaikan satu masalah, ia bisa memikirkan hal lain setelah ini.
"Luca." Panggil Gior melihat pintu kamarnya terbuka.
"Luca." Panggilnya sekali lagi karena gadis itu tidak memberi jawaban, lalu ia memilih masuk namun tidak menemukan Luca.
Ia mendengar suara air di kamar mandi, mungkin gadis itu sedang berada di dalam sana. Gior melirik laptop yang berada di atas kasur Luca, ia penasaran apa yang di lakukan gadis itu hingga betah berlama-lama di kamar.
"Sistem hacking selesai?" Gior membaca tulisan yang berada di layar laptop itu, terdapat banyak tulisan yang aneh dan tidak ia mengerti.
"Ngapain lo." Luca merebut laptopnya dari Gior.
Sementara Gior masih ngelag dengan otaknya yang tidak kunjung memberi jawaban.
"Luca, lo hackers? Lo seriusan? Kok bissa?" Gior menggelengkan kepalanya, ia rasa sedang bermimpi saat ini.
Tunggu, bukankah Venya pernah menceritakan tentang teror itu sedangkan di cctv tidak ada yang merekam siapapun.
Gior membelalakkan matanya kaget, yang ia leihat benar-benar nyata.
"Gue harus kasi tau kakak." Ucapnya hendak pergi.
"Eeeehh, lo mau mati?" Luca menyeret baju Gior.
"Ini hal besar Luca, kakak harus tau." Ucapnya tetap ingin pergi.
"Oke, lo bisa kasi tau tapi gue gak jamin lo bisa aman setelah ini." Ucapnya melepas Gior.
"Tapi lo lagi ngehack apa?" Tanya Gior penasaran.
"Bukan urusan lo, sana pergi." Luca mendorong Gior keluar dan menutup pintunya, lelaki itu hanya akan mengganggu pekerjaannya.
Sebenarnya ia sedang mencari seseorang yang beberapa hari ini menguntitnya, ia sudah mengecek seluruh cctv tapi tidak ada lelaki bertopi dan masker hitam itu.
"Gue makin yakin dia bukan orang sembarangan." Keluh Luca, saat ini ia sedang berusaha meretas panggilan Helen, meskipun tidak mencurigai wanita itu, dia tidak boleh melewati hal sekecil apapun.
"Luca, ada yang nyari lo di bawah." Teriak Gior memanggil Luca.
Mendengar hal itu Luca tentu tau siapa yang datang, pasti orang yang di kirim ayahnya. Luca menuruni tangga untuk menemuinya, tapi ia tidak melihat Helen. Itu akan lebih baik, dari pada perempuan itu terus menanyakan hal ini.
"Noona, silahkan tanda tangan di sini." Lelaki itu memberikan bolpoin kepada Luca.
Luca membaca keseluruhan berkas itu, iatidak mau smapai ceroboh dan ayahnya yang sangat licik itu bisa saja memberikan beberapa tambahan.
Karena merasa sesuai, Luca langsung menandatangani pengalihan seluruh saham itu.
"Mulai hari ini, noona resmi menjadi pemilik seluruh saham tuan Bram. Jika ada yang ingin noona tanyakan, silahkan hubungi saya. Saya pergi dulu." Ucapnya berpamitan, sementara Luca hanya mengangguk. Ia tidak tau omnya sudah menganga kaget kecuali Galang
"Lo seriusan ngambil semua saham sekarang?" Tanya Galaxi.
"Cepat atau lambat itu juga milik gue." Jawab Luca.
Memang masuk akal, dia adalah pewaris tetap dan merupakan putri tunggal. Siapa yang akan mendapatkan semua saham jika bukan dirinya?
Meskipun Helen akan menikahi Bram, ayahnya sudah bersumpah tidak akan mengubah keputusannya meskipun akan memiliki anak kedua nantinya. Karena pada dasarnya, perusahaan itu adalah milik keluarga Katrina.
.
.
.
.
.
.
Silahkan komen yang banyak dan jangan lupa like.
kalo ada sarang buat author silahkan di sampaikan ya..๐๐ฅฐ๐ฅฐ