
cinta selalu tau akan langkahnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Ngapain lo?” Tanya Luca menatap sahabatnya tajam.
“Kok lo nanya gitu? Gak seneng gue dateng?” Tanpa rasa bersalah di hatinya.
“Gak, sana pulang.” Dengan teganya ia malag ngusir gadis malang itu.
“Gak mau, lo sendiri yang nyuruh gue kesini.” Ucapnya mengingatkan perkataan Luca di telfon.
Luca tampak diam, ia seperti sedang mengingat apa yang ia katakan di telfon tadi.
“Bener juga, gue yang nyuruh dia datengkan?” Serunya di dalam hati.
“Ya tapi gue gak nyuruh lo nyamperin gue, ngapain manggil gue?”
“Elen.” Panggil Gior melangkah mendekati mereka, sejak tadi ia mendengar kebisingan yang membuatnya tau kehadiran sang kekasih.
“Nah tuh udah dateng, gue pergi dulu.”
Tapi Elen malah menarik tangan Luca agar gadis itu tidak meninggalkannya berdua dengan Gior.
“Apa lagi?” Luca memutar bola matanya jengah, temannya yang satu ini memang merepotkan.
“Kamu ngapain kesini?” Tanya Gior mengalihkan mereka.
“Kamu kenapa gak ada ngabarin aku?” Tanyanya dengan sedikit membentak.
“Ya kan kamu yang nyuruh jangan ganggu dulu.” Jawab Gior santai, karena memang gadis itu yang marah-marah dan meminta Gior untuk tidak mengganggunya.
“Ya terus kamu beneran biarin aku marah gitu sama kamu? Kamu sama sekali gak bujuk aku? Gak maksa buat hubungin aku?” Elen semakin kesal mendengar jawaban Gior, memang ia meminta lelaki itu tidak mengganggunya, tapi sebenarnya ia sangat ingin di bujuk. Apa semua laki-laki memang tidak peka? Apa mereka tidak tau kalau perempuan marah dan mengatakan tidak itu sebenarnya ingin di manja.
“Kalau aku maksa hubungin kamu, nanti kamu makin marah. Kan kamu sendiri yang minta jangan ganggu.” Ucapnya merasa serba salah, ia seakan ingin gantung diri dari pada harus memahami keinginan Elen.
“Kalau aku minta kamu lopat dari lantai 30 mau?”
“Hah?”
“Mau gak?”
“Ya nggak lah, emang kamu mau aku mati?” Gior tidak habis pikir dengan apa yang baru saja Elen tanyakan.
“Ya kenapa kalau aku nyuruh kamu jangan ganggu aku kenapa kamu mau? Kamu udah gak sayang kan sama aku? Atau kamu udah ada cewek lain kan? Ngaku kamu.” Tuduhnya tanpa alasan.
“Elen kamu apaansih.”
“Ya kamu udah tega sama aku.”
“Kamu emang gak peka ya, gak pernah ngerti sama hati aku.” Matanya muali berkaca-kaca.
“Aku bukan dukun, aku gak bisa nebak kamu mau apa? Jadi ya ngomong aku harus apa?”
Luca yang sedari tadi ada di sana hanya melongo melihat perebatan tidak penting yang tengah mereka lakukan, sial sekali ia malah terjebak di antara mereka. Bagaimana ia bisa pergi jika tangannya masih di genggam kuat oleh Elen, sedari tadi ia hanya menatap bergantian kedua manusia yang tengah berdebat itu.
“Pasangan prikkk!.” Umpatnya kesal karena sudah tidak tahan.
“Diammmm.” Teriak mereka berdua melotot ke arah Luca.
“Yang bikin kalian berantem tuh apa sih? Capek gue nih berdiri dari tadi.” Seru Luca pada mereka.
“Dia telat bales chat gue 10 menit kemarin, ngapain aja dia sepuluh menit gak bales.” Ucap Elen enteng tanpa perdulidengan ekspresi Luca yang suah menganga tidak menyangka dengan alasan konyol itu.
“Sumpah lo konyol banget.” Ucap Luca, hanya karena 10 menit? 10 menit yang gak berarti apa-apa itu ngebuat Elen marah. Sepuluh menit yang bisa Gior habiskan jika turun dari kamarnya kedapur untuk minum mungkin.
“Kok lo malah belain dia sih?”
“Liat kan Luca, dia udah gak waras kan?” Ucap Gior mengusap wajahnya kasar.
“Kamu malah ngomong gitu?” Elen seakan menahan tangisnya.
“Ya aku udah bilang aku ke kamar mandi, aku gak ngapa-ngapain seperti yang kamu tuduh. Kamu berlebihan tau gak?”
“Lo PMS ya?” Tanya Luca tiba-tba pada sahabatnya.
“Iya, emang kenapa?” Jawab Elen balik bertanya.
“Ooohh gitu, yaudah. Gue ada urusan kalian selesain dulu ya, kalau bisa adu tonjok sekalian.” Ucap Luca berlalu dari hadapan mereka.
Sungguh sangat konyol, ia memang sering bertengkar dnegan Galang, tapi setidaknya karena alsan yang masuk akal. Karena ia minum alkohol, karena pergi ke club tanpa sepengetahuan Galang, atau melakukan hal yang membahyakan dirinya. Tapi mereka berdua?
“Kasian banget Gior, gue gak nyangka Elen setidak waras itu.”
.
.
.
.
.
komen sama like buruannnnn