
Kesempatan adalah hal yang paling susah di dapatkan
🌹🌹🌹
"Gerald, kau sendiri?" Tanya Bram melihat Gerald menjemputnya.
"Iya."
"Dimana Luca? Apa kau tidak memberitahunya? nomernya tidak bisa di hubungi." Ujar Bram mempertanyakan keberadaan Luca.
Gerald terdiam, ia juga tidak tau harus menjelaskan bagaimana.
"Kita pulang terlebih dahulu." Gerald tersenyum menenangkan Bram.
"Ahhh kau benar, aku akan membuat kejutan dengan kedatanganku."Bram kembali bersemangat.
Gerald hanya tersenyum dan mempersilahkan Bram berjalan di depan, sepanjang perjalan Bram banyak bertanya tentang Luca. Gerald bahagia sekaligus sedih, ia melihat perubahan pad Bram yang mulai memperdulikan putrrinya, tapi satu sisi ia pasti akan terluka nanti satelah tau kebenarannya.
"Apa dia meenyusahkan kalian? Dia adalah orang yang sangat cuek."
"Dia tidak pernah menyusahkan."
"Aku tau, dia sangat mandiri. Aaaahhh, aku mulai tidak sabar bertemu dengannya. Aku juga sudah membawa bunga untuknya." Bram menunjukan buket bunga yang ia beli.
"Lo banyak berubah." Ujar Gerald.
"Yaa, aku sudah menyadari semua kesalahanku. Tunggu, ini bukah jalan ke rumah mu." Bram menatap Gerald.
"Ikut aku sebentar ke rumah sakit, nanti aku akan menjelaskan."
"Ohh oke." Bram mulai terdiam, ia tidak bisa terlepas dari senyumnya sejak tadi.
Sesampainya di rumah sakit, awalnya Bram biasa saja dan hanya mebikuti langkah Gerald. Namun meelihat semua saudara Gerald termasuk Galang berada di sana, ia mulai heran. Terlebih melihat baju Galang yang di penuhi bercak darah.
"Galang, siapa yang sakit?" Tanya Bram meendekati mereka.
Galang berbalik melihat sumber suara itu, ia seakan kaku dan tidak bisa menjelaskan apapun.
"Apa kau melukai seseorang?" Tanya Bram lagi, namun tidak mendapatkan jawaban dari siapapun.
Ia melangkah mendekati pintu, dan mengintip siapa oarang yang berada di balik ruangan itu sehingga seluruh keluarga menunggunya.
Bram membulatkan matanya, ia tidak bisa melihat siapa di atas ranjang itu. Tapi ia cukup mengenali tangan gadis yang ia lihat.
"Galang cepat jawab siapa di dalam?" Tanya Bram menatap Galang, kini dengan nada yang lebih tegas.
"Apa? Kenapa putriku bisa terluka? Kau tidak menjaganya? Siapa yang melukainya?" Bram menarik kerah baju Galang dengan penuh emosi.
"Ya gue gagal, gue gagal jaga dia." Galang mulai terisak, ia tidak tahan lagi merasakan duka ini.
"Siapa yang melukainya, cepat jawab?" Teriak Bram.
"Bram tenang dulu, gue akan jelasin." Gerald menarik Bram agar melepas tangannya dari Galang.
"Siapa yang melakukan hal ini, apa kalian berempat tidak bisa menjaga satu gadis?"
"Berhentilah Bram, kita semua di sini mencemaskan dia. Apa lo berfikir selama ini sudah bisa menjaganya?" Galaxi langsung membalas Bramm sehingga mulut lelaki itu terdiam. Benar, ia tidak peernah bisa menjaga Luca.
"Kau benar, aku tidak berguna Aku bahkan tidak bisa menjaganya." Air matanya jatuh, kenyataanya dia sudah gagal.
"Duduklah, kita tidak boleh membuat keeributan di sini." Gerald mengarahkan Bram agar duduk, dan lelaki itu hanya bisa menurut.
"Suster ada apa? bagaimana keadaan Luca." Tanya Galaxi melihat 3 suster keluar ruangan.
"Pak mohon tenang dulu, kami sudah mengelurakan pelurunya, tapi detak jantungnya lemah. Mohon agar jangan mengganggu kami." Ucap suster itu pergi untuk mengabil beberapa alat yang di perintahkan dokter.
Galang mencengkram kuat rambutnya sendiri, ia sangat kesal.
"Kaak mau kemana?" Tanya Gerald saat Galaxi melangkah pergi.
"Gue pergi sebentar." Ucap galang kemudian melanjutkkan langkahnya.
"Apa aku sudah terlambat? Apa aku tidak bisa membahagiakan putriku?"
"Jangan bicara seperti itu, Luca gadis yang kuat. Aku yakin dia akan berjuang di dalam sana." Gior menepuk bahu Bram di sampingnya.
"Aku harap, Katrina tidak akan membawanya."
.
.
.
.
Silahkan berikan banyak kata di bab ini untuk menghibur author😥
likenya yaa