
Musuh akan selalu berada di belakang untuk mengintai mu.
πΉπΉπΉπΉπΉ
"Lo gak mau tanya kenapa gue ngambil tindakan ini." Luca memandang Galang yang sedang mendekatinya.
"Lo mau jaga harta keluarga lo sendiri karena merasa situasi sekarang gak aman." Jawab Galang sembari tersenyum berbaring di samping Luca.
Luca memeluk tubuh kekar itu, hanya Galang yang mampu memahaminya tanpa banyak bertanya. Dia selalu tau apa yang Luca pikirkan dan tidak menghentikannya selama itu benar.
"Lo gak harus selalu kuat Luca, sesekali lo harus butuh gue ngelindungin lo." Ucap Galang mengecup kening Luca.
"Lindungin gue, selama gue kuat ataupun nggak." Ucapnya.
Galang hanya diam memeluk Luca, ia tidak membalas ucapannya lagi. Sudah cukup hari ini, dia tau Luca sangat lelah dengan semua hal ini.
Baginya Luca seperti kaca, ia bisa melukai siapapun tapi lupa bahwa ia bisa di hancurkan oleh siapapun. Ia mempertahankan dirinya dengan menyerang musuhnya terlebih dahulu, karena Luca tau hatinya tidak se keras wataknya.
Biarkan ia tetap seperti ini, menjadi penenang dalam setiap mimpi buruk gadis ini. Hanya dirinya yang tau, bagaimana Luca menangis setiap malam memimpikan ibunya. Sejak teror boneka itu, dia tidak lagi bisa tidur dengan tenang.
~~~~~~~~~
"Hari ini gantiin gue nyamar, gadis itu bisa saja masih ingat gue setelah kejadian itu." Lelaki itu memberi perintah kepada anak buahnya.
"Baik tuan." Setelah mendapatkan perintah, dia langsung pergi dari sana.
Lelaki bertubuh kekar dengan kulit sawo matang itu masuk ke ruangan, di mana ia biasanya bertemu denmgan nyonya.
"Cepat kirimkan teror ke rumah Galang, aku ingin gadis itu secapatnya gila." Perintah perempuan itu yang masih setia dengan rokok di tangannya.
"Tapi itu akan memancing masalah dengan Galang, mereka tentu akan lebih memperketat penjagaan di sana." Ucapnya.
"Tapi kapan aku bisa menyiksanya, dia harus mati secara perlahan." Perempuan itu mengatakannya dengan penuh emosi sembari mengepal tangan.
"Gue dengar bahwa seluruh saham sudah di alihkan kepada gadis itu."
"Apa? Kenapa aku bisa tidak tau? Beraninya dia merebut duluan." Perempuan itu semakin marah dan menembak salah satu bawahannya yang juga ada di ruangan itu.
"Cepat cari cara untuk menyiksanya, jika kau terlalu lama, kau akan memiliki nasib yang sama." Ancam perempuan itu.
"Maaf, aku hanya kesal. Kau bisa pergi." Ucapnya memerintahkan lelaki itu.
Karena marah, dia sudah hampir menggali kuburannya sendiri, dia lupa bahwa mereka bekerja sama demi keuntungan masing-masing. Jika tidak, mana mau lelaki itu berurusan dengan Galang. Lelaki itu sangat berbahaya, Luca tidak akan bisa menghindarinya terus menerus.
"Kau pasti akan hancur gadis sialan, beraninya kau mengambil saham itu." Umpat perempuan itu, dia semakin di buat geram karena luca mengambil saham itu secepat ini.
~~~~~~
Luca menatapa ke bawah bangkunya, jelas ia melihat sesuatu di sana.
"Siapa yang berani menaruh bangkai tikus di sini?" Luca melirik sekitarnya, tidak ada orang lain selain dirinya.
Ia berangkat pagi terlalu pagi karena salah melihat jam, tentu tidak akan ada orang di sini. Bangkai tikus sebanyak ini siapa yang menaruhnya?
Anak sekolah ini tentu tidak akan ada yang berani mengganggunya, pasti ulah si pengunti itu.
Segera ia mencari OB sekolah untuk membersihkan bangkunya, ia tidak mau hal itu menjadi sorotan orang lain.
.
.
.
.
.
.
.
Silahkan berikan komentar untuk bab ini, juga jika ada masukan dari readers.
Author berharap cerita ini tidak membosankan bagi kalian.ππ