
“Elen.” Panggil Gior, ia segera menangkap tubuh Elen yang hampir tersungkur karena membawa banyak barang.
Elen menatap Gior terperangah, meskipun berakali-kali berhadapan dengan lelaki itu, jantungnya masih berdebar kencang. Apalagi dalam posisi jarak yang sedekat ini, hidung mereka nyaris saling menyentuh.
“Aduh pengen nyosor lagi gue.” Serunya dalam hati menelan salivanya sendiri.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Gior membuyarkan otak mesum Elen.
“Eh iya, makasih.” Ucap Elen memperbaiki posisinya berdiri tegak.
“Kamu kenapa gak minta jemput aja sih sama aku?” Gior menatap kesal.
“Aku kan udah biasa sendiri.” Ujarnya jujur, karena memang ia sudah terbiasa melakukan semua hal sendiri.
“Ya terus gunanya aku apa dong?” Tanya Gior.
“Ya jadi pacar aku lah, masak jadi pembantu.” Serunya cemberut karena Gior menanyakan hal konyol.
“Ya kan tugasnya pacar emang bantuin pacarnya kan?” Gior tersenyum mencubit pipi pacarnya gemas.
“Iiiih tapi aku gak mau nyusahin kamu.”
“Aku maunya di susahin sama kamu sayang.”
Blush!
Elen menahan senyumnya dan memalingkan wajah menutupi pipinya yang sudah kepanasan.
“Cieee seneng ya di panggil sayang.” Gior menoel pipi Elen lagi.
“Ihh apaan sih, aku mau pulang aja.” Elen meninggalkan Gior di belakang yang mengekorinya.
“Ayok aku anterin.” Gior meraih barang-barang di tangan Elen dan tangan kanannya menggenggam tangan Elen.
Sesampainya ke rumah Elen, Gior menaruh barang belanjaan dan mencuci tangannya.
“Aku mau masak dulu ya, kamu tiduran aja dulu.” Ucapnya, dan sang kekasih hanya mengangguk lalu pergi dari dapur.
Setengah jam Elen menghabiskan waktu untuk memasak, setelah selesai ia mencari keberadaan Gior. Setelah ia cukup pusing mencari, rupanya lelaki itu malah tidur di kamarnya.
“Lagi dong.” Ucap Gior mengagetkan Elen, ia hendak menjauh dari lelaki itu namun Gior malah menahan tengkuk Elen dan mencium bibirnya singkat.
“Kalo nyium tuh gini.” Ucapnya sebelum kembali menyesap bibir Elen, sementara gadis itu terdiam antara bingung dan pasrah.
Gior tersenyum di tengah aktifitasnya yang tengah menyesap setiap inci bibir Elen, ia sangat suka rasa manis di bibir gadis itu.
“Ngggghhh.” Elen berusaha mengambil nafas sebanyak banyaknya setelah pagutan mereka terlepas.
Gior memeluk Elen dan menyesap leher mulus gadis itu. “emmmmhhh.” Suara Elen mengalun merdu membuat Gior semakin bersemangat untuk menyalurkan hasratnya.
“Giiioooorrrrhhh.”
“Kenapa sayang hm?” Gior menatap wajah Elen yang sudah memerah terbakar hasratnya. Tanpa ia Elen sadari tangan lelaki itu sudah mengusap bagian intinya yang membuat jantungnya semakin berdegub kencang dan seperti ada ribuan kupu-kupu tengah menggelitik perutnya.
“Gior geli.” Elen mengeliat kesana-kemari karena merasa aneh, geli dan nikmat. Sesuatu yang sangat membuat bingung perasaannya.
Ini adalah pengalaman pertama baginya, selama ini Gior cukup kuat untuk tidak menyentuh hal itu, tapi kali ini ia sangat menginginkan Elen.
Gior melepas kancing baju Elen satu-persatu dan menyisakan bra berwarna craem yang juga ia lucuti samapi akhirnya benda kenyal yang selama ini ia impikan terpampang nyata di depannya.
Gior menyesap dan memelitir puncak itu menggunakan lidahnya sampai membuat Elen terus mengerang merasakan setiap sentuhan Gior padanya.
“Mmhhh.”
Gior mencium dua benda kenyal itu dan menyedotnya dalam dalam sampai terasa penuh, Elen di buat kelimpunga sendiri. Ia merasa ingin lebih dari itu.
Drtttt Drttttt
Suara hp Elen berbunyi di sampingnya, namun mereka berdua tetap mengabaikannya.
Drrrttt drttttt
“Siapa sih yang ganggu.” Ucap Gior melepas Elen dan meraih phonsel gadis itu.
Nama Luca tertera di layar phonselnya yang membuat Gior memutar bola matanya malas dan memberikan phonsel itu pada Elen.
Elen tersenyum kikuk, dia kesal pada sahabat gilanya itu yang membuat dirinya dan Gior merasa canggung sekarang.