
Aku tidak mudah untuk jatuh cinta, dan aku pun kesusahan dalam menjalani cinta.
~Luca.
🌹🌹🌹🌹
Setelah mendengar perkataan Galang, mau tidak mau Luca haruss meenunggu di luar. Terlihat senyum kemenanga dari wajah sekretaris itu.
"Luca." Panggil Galaxi, ia duduk di sampingnya.
"Mereka emang sedeket itu ya?" Tanya Luca pada Galaxi yang baru datang.
Melihat Luca yang berwajah murung, ia jadi menyadari bahwa kakaknya sedang berdua di dalam dengan sekretaris itu.
"Mereka cuman bahas pekerjaan kok, lo tenang aja." Ucap Galaxi tersenyum menenangkan.
"Tapi dia gak pernah nyuruh gue nunggu di luar begini." Ucapnya lagi dengan penuh kecewa.
"Luca, kakak kan pembisnis. Mungkin dia harus bahas sesuatu yang penting, gak ada yang bisa gantiin posisi lo."
Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya Galang keluar dari ruangan itu. Namun ada yang mengganggu mata Luca, bagaimana perempuan itu tersenyum dan menyentuh tangan Galang, semanta lelaki itu hanya terdiam.
Luca bergegas menghampiri Galang dan menariknya ke dalam ruangan itu.
"Maksud lo apasih?" Tanya Luca dengan nada yang sudah tidak bisa ia kendalikan.
"Ada apa?" Tanya Galang dengan santai.
"Maksud lo apan tadi dia senyum ke lo terus nyentuh tangan lo, lo diem aja?" Teriak Luca.
"Dia gak sengaja." Jawab Galang.
"Ohh oke, kalau cowok lain meluk gue berarti gak sengaja." Ucap Luca tidak terima, rasa cemburu membakar dirinya saat ini.
"Luca bisa tenang gak?"
"Tenang? Sebenarnya gue ini siapa sih Lang? Lo anggap gue ada apa nggak sih?"
"Luca stop, gue capek. Kalau lo cuman mau berantem mending pulang." Galang mengatakan hal itu dengan tegas sembari menunjuk pintu.
"Lo bahkan cuekin gue, gue salah apa sama lo? Kalau gue punya salah ngomong, bukan kayak gini Galang." Luca berusaha menahan air matanya.
"Kita bicara di rumah."
"Kayaknya gue emang bukan siapapun buat lo, seharusnya lo gak pernah ngelamar gue kalau gak serius."
"Luca mending lo pulang."
"Lo cinta gak sama gue?" Teriak Luca lagi, ia benar-benar kesal dengan lelaki dihadapannya.
Luca tersenyum miring melihat Galang yang hanya terdiam tanpa meenjawabnya, sepertinya ia terlalu tinggi menaruh harapan pada lelaki ini.
"Lo gak usah jawab." Luca melepas cincin di jari manisnya dan melemparnya ke luar jendela. "Gue harap kita gak pernah ada apapun." Ucap Luca meninggalkan ruangan Galang.
Apa yang lebih menyakitkan dari hal ini?
Ia bahkan tidak tau di mana letak kesalahannya, ia bahkan merasa tidak meelakukan hal apapun yang harus membuat mereka berpisah.
Dengan langkah cepat Luca menghampiri sekretaris yang tadi menyentuh Galang, berani sekali dia menyentuh Galang.
"Noona Luca." Sapanya dengan munafik.
Luca langsung mencengkram tangan yang tadi menyentuh Galang, ia meremas tangan itu dengan kuat sampai perempuan itu kesakitan.
"Aaauuuu lo gila ya?" Perempuan itu menjerit kesakitan.
"Berani lo nyentuh tunangan gue?" Galang menatap perempuan itu seakan ingi membunuhnya, ia menyeret perempuan itu dan melemparnya dengan kuat ke dinding.
"Tolongggg." Teriak perempuan itu.
Para Staff menghampiri mereka, tapi mereka tidak berani melerai mereka.
"Eh Looonthheee, berani lo ya ganggu gue." Luca mencengkram kuat kedua bahu perempuan yang saat ini menjadi sasarannya.
"Tolonggghhh." Luca mencekikinya dengan kuat, ia tidak peerduli meskipunharus membunuhnya.
"Luca." Galang menghampiri Luca dan menariknya menjauh.
"Lepas." Teriak Luca memberontak.
Galang memeluk Luca dari belakang, ia menjauhkan gadis itu dari sekretarisnya.
"Luca tenang." Galang membalikkan tubuh Luca dan memeluknya.
Luca mendorong kuat tubuh Galang sampai mereka terlepas, nafasnya memburu karena ia sangat marah.
"Jangan pernah sentuh gue." Ucap Luca meninggalkan mereka, sebeelum itu ia melepar silet ke arah perempuan yang tadi dia cekek.
Untung saja tidak mengenainya.
"Ikuti dia." Ucap Galang pada salah satu anak buahnya.
.
.
.
.
Hay, author sudah sebisa mungkin promo cerita ini, kalian juga bisa bantu author dengan mempromosikan di akun IG, TIKTOK, dan yang lain dengan mengSS cerita ini.
Terimakasih untuk kalian🌹