LUCA

LUCA
EPISODE 51



Jika masa lalu adalah kelemahan, maka kamu adalah kekuatan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Luca lo sengaja ngerjain gue?" Elen masuk membanting pintu.


"Apa?" Tanya Luca santai.


"Lo bilang di timur kamar Galang, kenapa malah kamar Gior."


"Di timur sebelah kamar gue, ngapain lo ke ujung?"


"Ya gue kan gak tau. Hiiih gue harus ketemu sama om bejat lo itu." Elen masih merasa kesal.


"Gior? Lo abis ngapain sama dia?" Tanya Luca langsung ke intinya.


"Hah? Eng... Nggak gue gak ngapangapain." Jawab Elen gugup.


Luca hanya tersenyum melihat wajah gugup Elen. Dari tampangnya saja, Luca sudah tau sesuatu baru saja terjadi di antara mereka.


"Lo gak percaya?" Elen melihat senyum Luca yang meragukannya.


"Jadi lo mau deketin Gior?"


"Nggak. Mending gue deketin Galaxi, udah ganteng, keren, gak mesum kayak Gior." Elen menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.


"Dari mana lo tau Gior mesum?"


"Yaaa... Ya kan lo barusan bilang Gior playboy, pasti dia juga mesum." Lagi lagi elen salah bicara sehingga memancing Luca.


"Jadi tadi lo di mesumin?"


"Luca apa sih." Elen menutup wajahnya dengan bantal. Ia terus saja mengingat kejadian tadi.


"Gior tuh baik, cuman ya otaknya rada sengklek. Kalo lo berhasil buat dia cinta sama lo hebat kan? Dia gak pernah cinta sama siapapun karena dia lebih suka main main." Jelas Luca.


"Lo lagi jodohin gue?" Elen menyingkirkan bantal di wajahnya.


"Lo sendiri yang mau deketin om gue."


"Asal bukan Gior." Jawab Elen.


"Galang kenapa belum pulang?" Luca menarik nafasnya, dari tadi ia menunggu lelaki itu.


Elen melirik Luca, ia sangat senang Luca bisa kembali bersikap seperti sebelumnya.


"Mungkin urusannya sangat penting."


"Tapi dia belum istirahat Elen, bagaimana kalau dia jatuh sakit." Luca mengkhwatirkan Galang.


"Seperti lo yang saat ini khawatir, dia pasti lebih khawatir ngeliat keadaan lo Luca. Jadi, kalo lo ngerasa gak ada gunanya lo hidup, lo harus ingat Galang. Ingat kita semua yang sayang sama lo, lo harus hidup buat kita."


"Mama lo pasti banyak ngajarin banyak hal." Ucap Luca tersenyum melihat ketulusan Elen.


"Sekarang lo juga bisa belajar dari mama gue."




Galang masuk ke ruangan Vino.



"Galang?" Vino menyadari kedatangan sahabatnya.



"Vino, apa kita bisa segera pergi." Ucap Galang, seprtinya ia sangat terburu-buru.



"Kenapa sangat terburu-buru Galang?" Tanya Vino.



"Gue gak mau ninggalin Luca terlalu lama." Di saat seperti ini, yang di kepalanya hanyalah Luca.



"Ohh, oke."



Mereka berdua langsung pergi menuju ruangab doker Han.



.


"Silahkan duduk." Han mempersilahkan Galang dan Vino duduk.



"Sebelumnya Vino sudah menceritakan ponakanmu Luca, jadi apa kamu bisa lebih diteail menjelaskannya?"



"Dia orang yang dingin Han, dia tidak memiliki rasa takut seperti gadis lainnya. Dia malah tidak segan melukai orang yang mengganggunya." Jelas Galang.



"Apa dia sampai berani menbunuh?" Tanya Han.



"Tidak, dia hanya melukai musuhnya. Dan emosinya mudah meledak kapan saja, saat marah ia tidak mampu mengatur nafasnya sendiri. Bahkan beberapa kali ia sampai sesak."



"Apa anda bisa menceritakan masa lalunya?" Han mulai mengorek informasi Luca.



"Waktu dia berumur 10 tahun, dia mengalami kecelakaan bersama ibunya. Bram pernah bercerita kalau sebelum itu, dia istrinya bertengkar hebat. Hal itu yang membuat Katrina pergi dari rumah dan membawa Luca."



"Apa Luca tidak dekat dengan ayahnya?"



"Tidak, selama ini Bram sibuk dengan bisnisnya saja.".



"Menurut saya, Luca mengalamai gangguan kecemasan."



"Gangguan kecemasan?" Galang dan Vino mengatakan hal itu secara bersamaan.



"Ya. Mungkin waktu itu Luca terus menerus melihat pertengkaran orang tuanya dan di tambah lagi mengalami insiden kecelakaan. Dia kehilangan ibunya seperti dia kehilangan sebuah kepercayaan. Sebab itu dia akan menjadi seseorang yang dingin dan sangat tertutup. Dia memiliki banyak tekanan yang tidak bisa di utarakan, merasa kesepian dan tidak berguna. Hal itu bisa membuatnya bunuh diri atau melukai seseorang yang ia anggap mengancam dirinya."



"Benar Han. Bagaimanapun, dia sudah tumbuh dengan baik tanpa seseorang yang memperdulikannya." Galang terlihat sendu, ia seperti merasakan semua kesakitan yang selama ini Luca tanggung sendiri.



"Tapi dari penampilannya, dia terlihat seperti orang normal Han. Bahkan dia merawat dirinya lebih baik dari gadis seusianya. Caranya berpakaian dan berjalan sangat sempurna." Tambah Vino.



"Dia memang normal Vin, dia tidak gila. Dia hanya memiliki beberapa tekanan yang sulit mengendalikan emosinya. Dia mudah merasa frustasi. Penampilan sempurna hanya untuk menutupi dirinya yang lemah dan merasa kesepian, dia melakukan hal itu agar terlihat kuat."



"Jadi apa yang harus gue lakuin?" Tanya Galang.



"Anda harus membuat kepercayaan dirinya kembali, harus ada yang membuatnya mempercayai orang lain kembali. Dengan begitu, mungkin amarah dan semua tekanan dalam dirinya bisa ia lupakan. Apa dia memiliki ibu tiri?"



"Tidak. Bram tidak menikah lagi, tapi ada sekretaris pribadinya yang selalu menempel dengannya kemanapun. Dan Luca tidak menyukai perempuan itu."



"Maksudnya Helen?" Tanya Vino.



Galang hanya mengangguk, ia sangat mengingat bagaimana Luca tidak menyukai Helen meskipun sudah mengenalnya bertahun-tahun.



"Dia tidak ingin ada yang menggatikan posisi ibunya, mungkin karena itu." Han menanggapi.