LUCA

LUCA
EPISODE 91



Serapi apapun sebuah kebohongan, tetap akan ada waktu yang tepat untuk mengungkapnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Karena mendengar perkataan Luca di kantin tadi, ia jadi berrniat menunggunya sampai pulang. Dia bahkan tidak bisa menghilangkan suara Luca dari telinganya.


"Gue bisa diabetes." Suara itu terus menghiasi pikirannya, ia jadi tidak sabar menunggu Luca sekarang.


"Sejak kapan gadis itu pandai merayu?" Dirinya bertanya-tanya. "Dia tidak boleh mengatakan hal seperti itu pada orang lain, akkkhhh apa dia akan mengatakannya lagi nanti?" Ucapnya seperti orang gila yang tertawa sendirian di ruangan kepala sekolah.


"Tuan, apa ada yang anda butuhkan?" Tanya Kepala sekolah pada Galang.


"Kapan Luca akan keluar?" Tanyanya.


"Sekitar dua jam lagi tuan." Jawab kepala sekolah.


"Pulangkan dia sekarang, gue gak mau nunggu lama." Ucap memerintah kepala sekolah.


"Baik tuan." Kepala sekolah langsung menghubungi guru untuk menyudahi pelajaran mereka.


"Gue harus beli sesuatu buat Luca." Ucapnya keluar dari ruangan, ia berniat membelikan makanan takut gadisnya lapar.


Sementara pengunguman pulang sudah menggemparkan siswa, mereka sangat senang karena di pulangkan lebih awal.


"Kok tiba-tiba sih? Kayaknya mereka gak ada rapat deh." Ucap Elen pada Luca, karena biasanya guru akan mengumumkan di awal pelajaran jika ada rapat.


"Gue tau siapa pelakunya." Jawab Luca dengan yakin, siapa lagi kalau bukan Galang yang akan melakukan ini.


"Luca kita pulang bareng ya." Stefan menghampiri Luca dengan langkah riang.


"Gue udah di tunggu sama om." Tolak Luca.


"Kita duluan ya Stef." Elen melambaikan tangan pada Stefan dan segera menyeret Luca pergi.


"Gue ke kamar mandi dulu." Luca melepaskan diri dari Elen.


"Gue tunggu di sini ya." Teriaknya karena Luca sudah menjauh.


Luca tidak menjawab karen ia terburu-buru, setelah menyelesaikan kegiatannya, segera ia keluar dari sana.


"Pegang dia." Tiba-tiba ada empat orang yang menghadangnya dan menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh.


"Anjiirr, siapa lo." Luca berusaha berontak namun ia gagal karena suntikan itu melemahkannya.


"Asal lo tau, boss kita yang udah bunuh mama lo." Ucap lelaki itu dengan tawa kemenangan.


"Maaahh." Lirihnya.


Tiba-tiba seseorang muncul dari belakang mereka, ia mengenakan pakaian yang sama, serba hitam dengan topi dan masker. Tapi Luca tau bahwa dia adalah lelaki yang biasanya menguntit dirinya dan ia lukai.


"Bilang ke bos lo, dia pasti mati di tangan gue." Jawab Luca angkuh, sesungguhnya tanggannya sudah gemetar. Bukan karena takut, ia merasa perih karen ternyata ibunya bukan meninggal akibat kecelakaan.


Lelaki itu mendekati Luca dan mencium bibirnya tanpa melepas masker, ia membelai wajah gadis itu lembut.


Luca meresa jijik dengan sentuhan lelaki itu, tapi tubuhnya bahkan sedang di pegangi ke empat orang itu karena saking lemasnya.


"Kalo lo mau cium gue, lepas masker lo." Ucap Luca menantang.


"Gue pasti buka masker gue setelah waktunya, dan lo siap-siap gue cium saat waktunya tiba." Ucapnya berbisik di telinga Luca kemudian mencium lehernya.


"Luca." Teriak Elen refleks melihat gadis itu.


"Sial, ngapain anak bodoh itu kesini." Umpat Luca dalam hatinya, ia benar tidak mau jika Elen jadi sasaran mereka juga.


"Cabut." Ucap mereka melepas tubuh Luca yang langsung terjatuh. Saat mereka pergi melewati Elen, Galang datang dan langsung menghantam tubuh lelaki yang baru saja mencium Luca.


"Punya nyawa berapa lo berani nyetuh cewek gue." Ucap Galang, kemudian mereka berdua saling bertarung. Galang memang berhasil menjatuhkan musuhnya, tapi dia langsung kabur.


"Pengecut." Galang hendak mengejar mereka, tapin Elen menggilnya.


"Galang, Luca pingsan." Teriak Elen yang melihat Luca sudah terkapar lemas.


Segera Galang menggendong Luca dan membawanya pergi bersama Elen. Dia membawa Luca pulang ke rumah, karena menurutnya tidak ada tempat yang aman saaat ini.


Terlihat dari wajahnya, ia sangat marah dan kesal. Ia tidak tau apa sudah mereka perbuat pada Luca, padahal dirinya berada di tempat yang sama. Ia merasa marah pada dirinya sendiri sekarang.


.


.


.


.


.


Duhhh gimana nih??


komen yuk, like juga jangn lupa🥰🥰🥰