
Perlahan, semua akan menemukan titik terang.
๐น๐น๐น๐น๐น
"Gimana kedaan Luca van?" Tanya Galang setelah Vano selesai memeriksa Luca.
"Jangan khawatir, dia hanya di berikan obat yang melemahkan nya dalam beberapa saat. Dia akan sadar." Ujar Vano pada Galang.
"Tapi kenapa dia sampai pingsan?" Tanya Galang lagi.
"Dia syok, tenanglah Galang, dia baik-baik saja." Vano mengemasi peralatannya dan pergi.
"Temani dia." Ucap Galang pada Elen kemudian pergi.
"Kakak gimana kondisi Luca." Tanya Gior, mereka bertiga sudah menunggu di luar kamar sejak tadi.
"Gue gak tau kenapa bisa begini." Ucap Galang lemah.
"Tenanglah kak, Luca itu kuat." Gerald menepuk bahu kakaknya.
"Apanya yang tenang? Dia bahkan sudah di serang beberapa kali dan gue sama sekali gak bisa cari pelakunya." Galang meninju dinding karena marahnya yang memuncak.
"Kak, kita pasti bakal nangkep dia." Galaxi ikut menenangkan Galang.
"Kapan? Apa kita nunggu Luca Luca mati? Kenapa gue gak bisa jaga dia, akkkkhhhh." Teriaknya kembali menghantam dinding sampai tangannya sendiri terluka.
"Kak kita akan jaga Luca, berhenti menyalahkan dirimu." Gerald menarik Tubuh Galang agar berhenti melukai dirinya.
"Perintahkan seluruh orang kita mencari mereka, jika tidak ketemu, pecat atau bunuh saja mereka semua." Perintah Galang pada Gerald.
"Maaf jika gue lancang." Elen keluar kamar karena mendengar teriakan Galang dan hantamannya di dinding. "Gue rasa ini bukan masalah sederhana seperti yang gue pikir selama ini, apa kalian bisa kasih tau gue apa yang sebenarnya terjadi? Gue emang gak bisa bantu kalian, tapi gue berhak tau karena gue perduli sama Luca." Ujar Elen ditengah-tengah percakapan keempat saudara itu.
Mereka bertiga menatap Galang, mereka tidak tau apakah bisa memberitahu hal ini pada Elen.
"Jelaskan padanya, gue mau ke kamar." Ucap Galang memberi persetujuan, lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Sebaiknya, kita bicarakan ini di bawah. Gue takut Luca mendengar hal ini." Ucap Gerald pada mereka.
Mereka langsung patuh dan pergi dari sana menuju ruang tengah.
Gerald menceritakan semua hal semenjak teror boneka itu, dan juga semua hal yang Luca alami selama ini.
"Tapi kenapa? Kenapa mereka sangat dendam dengan Luca." Tanya Elen setelah mendengarkan penjelasan Gerald.
"Itu yang belum kita tau, jelas mereka menantang kita dengan menyerang Luca secara terang-terangan sperti tadi." Jawab Gerald.
"Pantas Galang sangat marah." Ucap Elen mengingat reaksi Galang tadi.
"Kakak menyukai Luca sejak kecil, tapi saat dia mendapatkan kesempatan bersama, malah Luca mengalami hal ini." Ucap Gerald lagi.
"Benarkah? Gue gak tau kakak kenal Luca sejak kecil." Jawab Gior.
"Jadi karena itu kakak kelihatan biasa aja pas Luca baru pertama kali dateng ke sini." Tambah Galaxi.
"Nggak, kak Galang yang kenal Luca, Luca baru kenal sama kak Galang." Jelas Gerald lagi.
"Tapi lo ngerasa aneh gak sih? Helen sering gak ada di rumah akhir-akhir ini." Galaxi menyadarkan mereka.
"Bener juga, bahkan dia seenaknya keluar masuk rumah tanpa izin pergi ke mana." Gior mulai menyadarinya juga.
"Gua juga belum tau pasti hubungan dia dengan orang yang nyerang Luca." Gerald meikirkan hal yang sama dengan mereka.
"Hay." Sapa Helen yang baru datang.
"Dari mana lo?" Tanya Gior spontan.
"Abis jemput mama, mama tadi bilang mau ke sini."
"Hay ganteng." Wanita tua itu datang membawa beberapa oleh-oleh.
Mereka semua kaget dengan kedatangan Shina, nenek tua itu tidak pernah ke sini.
"Kalian kenapa?" Tanya Helen merasa aneh dengan tatapan mereka.
"Eh gak papa kok." Gior langsung menepuk semua saudaranya.
"Nih tante bawa oleh-oleh buat kalian, duh kalian kok making ganteng aja." Ucap Shina memberikan itu pada Galaxi.
"Mana Luca?" Tanya Helen.
"Iya, di mana Luca." Nenek tua juga menanyakan Luca.
"Luca lagi sakit." Jawab Galang yang sudah berdiri di tangga.
Mereka berempat beranjak dari sana, Gior menggenggam tangan Elen dan menarik gadis itu pergi.
"Kak, kita tidak boleh terlihat panik." Bisik Gerald menyentuh bahu Galang.
.
.
.
.
.
.
Sebenarnya apa yang terjadi yaa??
komen dong like juga yang banyak.