
Kepastian itu sangat penting dalam sebuah hubungan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Boleh gabung gak?" Tanya lelaki yang berdiri di samping Luca.
"Boleh kok." Elen menganga melihat ketampanan lelaki itu.
"Makasih." Ucapnya malah duduk di samping Luca.
Sementara Luca hanya membatu dan tidak merespon.
"Kok gue gak pernah liat lo?" Tanya Elen merasa asing dengan lelaki ini.
"Ohhh gue murid baru, salam kenal ya Luca." Ucapnya menatap Luca.
Dan Luca hanya bisa tersenyum kaku yang sangat di paksakan.
Elen melirik sekitar tempat duduknya, sepertinya benar lelaki ini adalah murid baru yang sering menggemparkan siswi di sekolah. Buktinya semua mata malah tertuju dan merasa kagum pada lelaki itu.
"Luca, nanti malem ada acara gak?" Tanya Lelaki itu yang belum memberitahu namanya.
"Gak."
"Kita ke taman hiburan yuk, nanti gue jemput." Ajaknya dengan senang.
"Nggg,,,"
"Ohh iya boleh nanti gue yang kasih alamat lo ke Luca, btw nama lo siapa?" Elen menendang kaki Luca di bawah meja saat gadis itu hendak menolak ajakannya.
"Nama gue Stefan, tapi Luca kayaknya keberatan?" Lelaki itu melirik Luca yang hanya membisu.
Elen melotot mengeluarkan seluruh tenaga untuk memberi isyarat kepada Luca untuk menerimanya.
"Gak papa kok, gue gak keberatan." Jawabnya dengan sangat terpaksa.
"Lo mau ikut gak?" Kini Stefan menanyakan Elen.
"Ohh nggak, gue nanti ada acara keluarga soalnya." Elen menolak dengan halus, padahal ia tidak ingin mengganggu.
Mereka bertiga melanjutkan makan dan kembali ke kelas masing-masing.
Namun, setelah pulang sekolah Gior tidak datang menjemput Luca. Setelah di telfon berkali-kali omnya itu tetap tidak mengangkat.
Alhasil, dia berjalan sembari mencari taxi. Pikirannya kembali pada saat itu, di mana ia di culik.
"Apa mereka bakalan datang lagi?" Luca bergumam dalam hatinya. Sebenarnya ia masih sangat penasaran dengan sosok perempuan itu, tapi bagaimana cara ia mengetahui dia?
"Luca masuk." Suara Gior mengagetkan Luca.
Luca langsung masuk ke dalam mobil." Lo kemana aja?" Ujarnya karena Gior terlambat.
"Gue tadi ngurus tugas di kampus. Gue udah bilang kalo gue gak jemput tepat waktu, lo ikut pulang sama Elen."
"Kita ke kantor Galang." Lagi-lagi dengan nada memerintah.
"Kemungkinan besar kematian Katrina memang di bunuh kak." ujar Gerald sembari menyerahkan beberapa foto.
"Bagaimana mungkin?" Galang mengamati foto itu dan satu persatu.
"Tapi sayangnya mereka tidak melakukan penyelidikan dan menetapkan Katrina mati karena kecelakaan, padahal ada beberapa kejanggalan saat kematiannya kak."
"Sepertinya dia bukan orang yang mudah." Galang menaruh kembali foto itu.
"Tuan, ini adalah berkas yang tuan minta." Sekretaris genit itu masuk ke dalam ruangan dan menyerahkan beberapa dokumen.
"Kak, gue pergi dulu." Ucap Gerald meninggalkan ruangan.
"Apa nanti ada ada rapat?" Galang bangkit dari duduknya untuk mengambil berkas yang ada di lemari.
"Hari ini tidak, tapi besok rapat dengan ALAKSA group tuan, ceo mereka sendiri yang akan turun tangan, jadi tuan harus menghadirinya untuk kerjasama peluncuran produk kita." Jelas perempuan itu.
"Pergilah." Perintah Galang.
Saat perempuan itu melangkah, dia malah terpeleset dan hampir jatuh."Aaaaahhhh."
Tapi Galang secara refleks menangkap tubuh wanita itu hingga berada di dalam pelukannya.
"Kakak." Panggil Gior dengan nada yang lemas.
Galang melirik ke arah pintu dan melihat Luca yang sudah berdiri di sana menontong adegan pelukan mereka sejak tadi.
Galang langsung melepas pelukannya, sementara Gior tersenyum kaku ke arah Galang. Ia sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Banggggsaaattt." Umpat Luca sembari menutup pintunya dengan kasar.
"Luca." Teriak Galang mengejar gadis itu, tapi Luca tetap tidak memperdulikan panggilan Galang.
Gior menatap sekretaris itu dari atas sampai bawah, dari penampilannya saja ia sudah tau gadis itu liar. Bagaimana kakaknya bisa memeluk perempuan semacam itu?
"Giorrr." Panggil Luca dengan berteriak.
"Eh iyaa." Gior langsung berlari mengejar Luca.
"Luca dengerin gue dulu." Galang menarik tangan Luca, seluruh kantor melihat mereka yang kejar-kejaran sejak tadi.
"Apa?"
"Gue jelasin ya, ini gak seperti yang lo liat."
"Gue gak perduli, lo juga bukan cowok gue juga kan?"
"Luca kenapa lo malah ngomong gitu."
"Terserah Galang, mau lo peluk dia, mau lo tidur sama dia itu bukan urusan gue."
Gior menatap mereka dengan kikuk, ini sudah bisa ia bayangkan saat pertama melihat kakaknya berpelukan.
Galang memeluk Luca tapi ia menghindar." Kita pergi." Ujar Luca pada Gior yang berada di belakang Galang.
"Luca gue sayangnya sama lo." Ujar Galang tetap mengikuti langkah Luca.
"Luca tadi itu dia jatuh dan gak sengaja." Galang terus berusaha meyakinkan Luca.
"Stop Galang, gue tau posisi gue dimana, jadi lo gak usah serepot itu kasih gue penjelasan." Luca masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sana.
Bukan, bukan hanya karena ia cemburu. Tapi Luca merasa malu karena terlalu banyak berharap kepada Galang, ia sangat malu karena dia menaruh perasaan padanya. Galang mungkin hanya menganggapnya anak kecil yang harus di lindungi agar tidak sakit hati.
Mungkin itu penyebab Galang tidak menolak ataupun memberinya kejelasan.
.
.
.
.
.
Komentarnya dong😪😪😪
likenya juga dikit bangetðŸ˜