LUCA

LUCA
EPISODE 103



Cemburu tanda cinta.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Luca berjalan-jalan sebentar untuk menyegarkan fikirannya, ia merasa begitu rumit memecahkan teka teki ini.


Ia membeli eskrim sembari berjalan pulang, sebenarnya ia juga tidak meminta izin pada Galang untuk keluar malam.


"Luca hati-hati." Stefan datang menangkap tubuh Luca yang terpeleset dan hampir jatuh.


"Steff, sedang apa di sini?" Tanya melepaskan tubuhnya dari Stefan.


"Gue lagi beli-beli, gak sengaja liat lo, eh pas mau di samperin malah hampir jatuh kepeleset." Jelas Stefan mengangkat kantong belanjaannya.


"Ohh, jalan kaki?" Tanya Luca lagi.


"Lagi cari taxi." Stefan selalu tersenyum saat mengobrol dengan Luca.


"Mungkin sebentar lagi lewat."


"Gue boleh tanya sesuatu?" Ucap Stefan memberanikan diri karena sepertinya Luca sudah mulai bisa mengobrol dengannya.


"Ya."


"Lo suka sama om lo?" Tanya Stefan menatap Luca, mereka serentak menghentikan langkah saat Stefan menanyakan hal itu.


"Maksud lo Galang?" Tanya Luca.


"Ya, dia."


"Kita saling suka." Ucap Luca dengan senyum di bibirnya.


"Kenapa lo suka dia?"


"Gak ada alasan." Jawabnya singkat.


"Kalo ada orang yang sifatnya melebihi dia, yang juga berkuasa, dan sangat mencintai lo apa lo bakalan ninggalin Galang?"


"Nggak."


"Kenapa?" Stefan menautkan alisnya karena penasaran, ia fikir Luca akan berpindah hati jika ada yang melebihi Galang.


"Gue gak butuh yang lebih Stef, gue cuman butuh dia." Luca merasa yakin dengan pilihannya, yaitu Galang.


"Sepertinya lo suka beneran sama dia."


"Pasti ada orang yang lebih dari dia Stef, entah gue bisa ketemu atau nggak tapi pasti ada. Tapi soal perasaan itu dari hati gue, gue gak bisa nentuin pilihan berdasarkan sifat, kekuasaan, dan hal-hal semacam itu. Kalo cinta itu gak ada sebab akibat Stef." Luca sangat berantusias menjelaskannya.


"Sebab akibat?"


"Cinta itu ya persaan yang gak punya alasan kenapa gue bisa jatuh cinta, dan kita juga gak bisa milih kan mau cinta sama siapa."


"Lo makin pinter ya." Puji Stefan mengacak rambut Luca.


"Gue udah pinter dari lahir." Luca menepis tanga Stefan di kepalanya.


"Gue anterin lo pulang ya."


"Galang." Luca melirik Stefan yang berada di sampingnya.


"Lo mau gue anterin?" Tanya Stefan lagi.


Galang menatap Luca,ia seperti ingin mengelupas kulit Luca saat ini juga.


"Lo pulang aja, gue sama Galang." Luca langsung berlari menarik Galang pergi dari sana, jika mereka bertatapan lebih lama, pasti akan terjadihal buruk.


"Siapa yang izinin keluar?" Tanya Galang dengan cuek.


"Gue cumam beli eskrim." Luca berusaha membela diri.


"Sama cowok itu?"


"Kita gak sengaja ketemu."


Galang mempercepat jalannya, ia mengambaikan perkataan Luca. Ia sudah sangat khawatir sejak tadi rupanya gadis itu malah bersama lelaki lain, dan mereka bahkan telihat akrab.


"Galanggg." Panggil Luca yang juga mempercepat langkahnya, sayangnya Galang tetap mengabaikan dirinya sampai di depan gerbang.


"Galang ihhhh."


Luca melempar sendal yang ia pakai namun malah mengenai Galaxi.


"Aaauuuhh, apa sih anak ayam." Gior mengusap dahinya yang terkena sendal Luca.


"Galang tunggu." Teriak Luca, tapi lelaki itu tetap berjalan menaiki tangga masuk ke dalam kamarnya.


"Ha ha kakak marah karena Luca." Ucap Gior menujuk Luca menggunakan nada fizi.


"Lo mau casting upin ipin?" Tanya Gerald yang duduk di samping Gior.


"Kalian bantuin gue kek." Luca menatap mereka bertiga bergantian.


"Ogaaahhhh." Jawab mereka kompak.


"Yakin?" Luca tersenyum memasang wajah imutnya.


"huuufftt." Mereka menghela nafas pasrah, mau bagiaman lagi. Keponakannya yang satu ini selalu membuat mereka terjebak dan tidak bisa menolaknya.


.


.


.


.


.


.


Kenapa like makin sedikit?๐Ÿ˜ช๐Ÿ˜ช


hufftt author author harus sabar ya?