LUCA

LUCA
EPISODE 107



Semua hal yang menghangatkan


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Jam dinding menunjukan pukul 06:25 pagi, sejak semalam ia hanya tertidur 2 jam karena sibuk meretas jaringan dan memikirkan ide-ide dalam menangani hari esok.


Galang dan Gerald pun juga tidak kunjung keluar ruang kerja, mereka sibuk mempersiapkan anak buah dan pertahanan rumah ini. Semua orang tengah sibuk dengan tugas yang sudah di bagikan semalam.


Tapi bagaimanapun kondisinya, Luca tetap harus menjalankan kewajiban sebagai pelajar. Ia sudah siap mengenakan seragam sekolah sekarang, dan ia sudah turun untuk meminta Gior mengantarnya.


"Lo gak temuin kakak?" Tanya Gior di perjalan menuju sekolah.


"Dia pasti sibuk, lagian semalem dia bolak balik ke kamar gue ngaterin makan sama minum." Ujar Luca memberitahu.


"Mata lo bengkak, sebaiknya pulang sekolah lo istirahat dulu."


"Kita gak punya waktu untuk bersantai." Jawabnya menatap keluar jendela, sebenarnya hatinya sedang bergemuruh. Ia sangat takut waktu berjalan cepat, juga merasa sangat cemas.


Setelah sampai, Luca langsung ke luar menuju kelas. Ia tau ketiga omnya sampai tidak pergi ke kantor, bahkan Gior juga tidak pergi kuliah.


"Lo kenapa Luca?" Tanya Stefan menatap kedatangan Luca yang wajahnya terlihat aneh dan mata yang sedikit bengkak.


"Gue gak enak badan." Jawab Luca duduk di kursinya.


"Gue anterin ke UKS ya?" Stefan menarik tangan Luca.


"Gak usah, bentar lagi udah baikan kok." Luca melepas tangan Stefan yang menggenggamnya.


"Lo yakin?"


Luca hanya mengangguk, ia harus menghemat tenaga sekarang, otaknya sudah terkuras habis memikirkan cara meretas jaringan itu.


"Halo?, kirim sekarang." Ucap Luca mengangkat telfon dan kemudian mematikannya.


Sebenarnya sejak kemarin ia mencari nomer Alex, dia adalah seorang heckers handal dan juga gurunya. Setelah lelaki itu pindah ke australi mereka hilang kontak selama setahun, hanya dia yang mampu membantu Luca saat ini. Akhirnya dia berhasil menemukan nomer pria itu dengan suah payah.


Luca melangkah keluar menghindari kebisingan, ia harus bicara secara rahasia dengan Alex.


"Halo Alex, ini gue Luca." Ucap Luca setelah telfonnya dia angkat.


"Luca? Apa kabar?" Tanya Alex yang sepertinya sedikit kaget karena sudah lama mereka saling menghilang.


"Gue baik, tapi lo di mana?" Tanya Luca.


"Gue tetep di australi, ada masalah?"


"Ya, gue butuh bantuan lo."


"Tenang aja, nanti pulang sekolah kita vidio call. Ada sesuatu yang mau gue tunjukin."


"Okay, see you." Ucap Alex menutup telfon.


Barulah ia kembali ke kelas setelah mengobrol dengan Alex, hatinya sedikit lega setidaknya satu masalah bisa selesai.


"Gue mau main ke rumah lo." Ucap Luca pada Elen saat jam pelajaran sudah berakhir.


"Kapan?" Tanya Elen antusias.


"Sekarang." Luca bangkit berjalan lebih dulu, sebelumnya ia juga sudah mengirim pesan pada Galang agar tidak khawatir.


Elen masih menatap bengong, ia menampar pipinya berkali-kali. Setelah sekian lama baru kali ini Luca mau ke rumahnya, biasanya ia akan menolak meski berkali-kali di ajak.


"Buruan." Panggil Luca pada Elen yang masih bengong, gadis itu segera berlari mengejar Luca.


Mereka berdua langsung melesat menuju rumah Elen, saat sampai di sana Mama Elen memeluk Luca dengan hangat seperti putrinya sendiri.


"Akhirnya kamu mau main ke sini." Ucapnya membawa mereka masuk.


Di sana, Luca merasa sangat di sayangi. Mereka memasak, becerita, dan menonton bersama.


"Apa begini rasanya punya ibu?" Tanya Luca pada Elen yang duduk di sampingnya.


"Mulai sekarang lo juga bakalan ngerasain hal ini." Elen tersenyum memandang Luca,ia seperti memiliki saudari sekarang.


"Mama datang." Perempuan itu membawa minuman dan cemilan untuk di nikmati sembari menonton.


"Terimakasih sudah mau menyanyangi orang asing sepertiku." Ucap Luca menatap perempuan yang ia panggil mama.


"Kau bukan orang asing, tapi kau adalah putriku." Mereka bertiga saling memeluk, perasaan yang sangat hangat yang mampu Luca rasakan berkat mereka.


Terimakasih sudah mengirimkan mereka di dalam hidupku yang tidak beraturan, Terimakasih sudah mengenalkan warna lain padaku.


.


.


.


.


.


Silahkan komentar meskipun cuman (.) author udah seneng kok, likenya jugaaa jangan lupa..