LUCA

LUCA
EPISODE 44



It's about my feelings and you


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Ya ampun gue telat." Luca terlonjak dari tidurnya, ia segera meraih hp dan melihat jam.


Jam menunjukan pukul 8, ia benar-benar kesiangan kali ini.


"Wait?" Luca menoleh ke arah belakang, sedari tadi ia seperti mendengar suara nafas seseorang"


Galang?


Kapan dia masuk kamar gue?"


Luca mulai mendekati Galang." Ni om om bejat banget ya, main tidur di kamar ponakan se enaknya." Ia menggerutu sendirian karena Galang masih terlelap.


"Lo ngatain gue?" Galang tiba-tiba membuka mata dan menarik pinggang Luca hingga jatuh ke atas tubuhnya.


Luca malah hanya diam menatap Galang, sialnya ia malah menatap bibirnya.


"Haduh ketularan Galang nih gue." Luca menutup matanya menghindari tatapannya sendiri.


"Ngapain tutup mata? Mau di cium?"


"Enggak, gue gak nutup mata." Luca langsung membuka matanya kembali.


"Di ciumnya pas buka mata aja ya?" Galang kembali menggoda Luca.


"Iihh Galang, udah gue udah telat sekolah." Luca melempar dirinya dari tubuh Galang dan segera berlari ke kamar mandi.


Setelah lumayan lama di kamat mandi, Luca baru sadar ia lupa membawa handuknya. Ia membuka sedikit pintu untuk melihat apakah Galang masih di kamarnya.


Dan benar saja, pria itu masih setia berbaring di kasurnya.


"Galang, ambilin gue handuk." Teriak Luca.


Galang mengetuk pintu, Luca membuka sedikit dan menyembunyikan tubuh polosnya di belakang pintu.


"Mana?"


"Cium dulu."


"Galang gue lagi buru-buru." Luca mendengus kesal.


"Ya udah." Galang berniat melempar handuknya.


"Eeehhh jangan jangan."


"Makanya cium."


"Ya sini deketan."


Galang mendekatkan wajahnya.


Cupp!!


Tapi Galang malah enggan melepas bibir Luca.


Luca yang berusaha terlepas dari Galang terpaksa mendorongnya.


"Galang ih."


Galang hanya melempar handuknya dan kembali berbaring di kasur.


Ia memandang tubuh basah Luca yang hanya di balut handuk.


Luca mengambil seragam dan kembali ke kamar mandi untuk ganti baju, dengan secepat mungkin dia merias wajahnya dengan natural.


"Galang lepasin gue."


Galang yang tidak tahan melihat Luca sedari tadi malah memeluknya, menyembunyikan wajahnya di leher mulus Luca.


Luca melepas pelukan Galang dan melanjutkan kegiatannya.


"Nyari apa?" Tanya Galang melihat Luca kebingungan.


"Sepatu."


"Ini?" Galang menenteng sepatu yang akan Luca kenakan.


Luca mulai kehabisan stok kesabarannya, sedari tadi omnya terus saja mempermainkan dirinya.


Luca berusaha meraih sepatunya, tapi mau bagaimanapun Galang lebih tinggi darinya.


Luca langsung memeluk Galang dan berjinjit untuk mel**umat bibirnya.


Galang yang kaget tanpa sengaja menjatuhkan sepasang sepatu Luca.


Melihat sepatunya terlepas, Luca segera melepas ciumannya dan mengambil sepatunya di lantai.


"Awas aja lo." Galang menatap kesal.


Luca tersenyum puas menandakan kemenangan dirinya. Segera ia memasang sepatunya dan meraih tas untuk pergi, Galang sudah banyak mengulur waktunya.


"Gue berangkat." Luca mulai melangkahkan kakinya ke luar.


"Hati-hati, jangan lupa ini hari minggu."


Luca mengehentikan langkah di pintu, ia segera meraih hp di kantongnya.


Benar, ini hari minggu.


"Galangggg." Luca berteriak dan melempar tasnya ke arah Galang.


Dengan langkah kesalnya ia pergi dari sana.


Kenapa gak dari tadi Galang bilang kalau ini hari minggu, dia malah sangat senang mengerjai Luca dan melihatnya sibuk dari tadi.


Pantas saja sedari tadi Galang terus mengulur waktu dan membuatnya kesal.


"Awas aja ya Galang." Luca mulai merencanakan pembalasannya.


.


.


.


.


.


.


.


BERI TANGGAPAN KALIAN DI KOLOM KOMENTAR, DAN JANGAN LUPA LIKE DI SETIAP BAB.โคโค