
Seseorang yang tulus, akan menganggap mu dengan serius.
πΉπΉπΉπΉπΉ
"Pagi Luca." Sapa Elen, melihat Luca masuk kelas.
"Hmmmm." Luca membalas sapaan Elen.
"Lo di anter siapa? Galaxi?" Tanya Elen antusias.
"Gior." Jawab Luca.
"Yaahhhh, emang Galang kemana?"
"Dia sibuk El." Luca menaruh tas di atas meja dan duduk.
"Galaxi gak pernah nganter lo?"
"Males, yang ada kita berantem." Ucap Luca.
Elen sedikit berpikir, ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi sedikit bingung.
"Luca, gue boleh minta tolong gak?" Elen sudah seperti cacing kepanasan tidak bisa diam.
Luca hanya menatap Elen, sepertinya aanak itu sedang mengingikan sesuatu.
"Lo bisa ngubah penampilan gue gak? Pliiisssss." Ucap Elen.
"Buat apa?"
"Mmmhhh... gue pengen tampil lebih baik aja, gue pengen gak ada orang yang bully gue lagi."
"Lo pengen berubah karena Galaxi?"
Elen mengangguk malu-malu.
"Lo serius suka sama Galaxi? Lo yakin siap patah hati kalo dia cuekin lo?" Luca memastikan.
"Gak papa kok, yang penting gue usaha kan? Gue juga pengen rubah diri untuk lebih menghargai diri gue sendiri." Ucap Elen mantap.
"Oke, nanti pulang sekolah." Jawabnya.
Elen sangat bahagian sampai memeluk Luca sangat erat.
"Lo mau mati?" Luca melepas pelukan Elen dengan paksa.
"Ya gue kan seneng banget." Ujarnya.
Elen terus saja mengembangkan senyum di pipinya, ia sudah tidak sabar untuk segera pulang sekolah.
"Kak hari ini Gerald pergi ketemu klien." Ucap galaxi.
"Ohh, apa dia udah berangkat?" Tanya Galang.
Galaxi mengangguk, Gerald sudah pergi dari tadi dan sangat terburu-buru.
"Hay kak." Gior datang di antara mereka.
"Tumben lo." Galaxi menatap Gior.
"Lo sirik banget." Ujar Gior.
"Lo mau cari muka kan?"
"Kalian kalo mau berantem di luar." Ujar Galang.
Mereka langsung diam mendengar penuturan kakaknya.
Gior membantu Galaxi menyelesaikan beberapa berkas, dia ingin membuat Galang terkesan dan menghapus hukumannya.
"Harusnya lo tuh ngomong kalo suka." Ujar Gior.
Galaxi langsung mematikan layar ponselnya. "Anak kecil gak bakalan ngerti." Jawab Galaxi.
"Gue tau kalik, btw dia baru putus sama pacarnya." Gior memberi informasi.
"Tau dari mana lo?"
"Diakan satu kampus sam gue kak, ya taulah." Gior menyandarkan kepalanya.
Lagi-lagi Galaxi hanya diam, dia merasa ragu dengan dirinya sendiri.
"Kak, ini terakhir kalinya gue ngomong. Kalo lo cinta ya perjuangin, masalah dapet apa nggak ya urusan belakangan. Lo mau nyesel seumur hidup kalo misalkan dia nikah tapi lo gak move on. Kalo lo di tolak, setidaknya lo tau kalo dia gak suka sama lo." Kali ini malah Gior yang memberi nasihat, meskipun selama ini dia tidak pernah menyukai seseorang dengan serius.
"Lo playboy tau juga sama urusan hati."
"Gue playboy karena gue pengen cari seseorang yang benar-benar pas di hati gue, kalo gak di coba satu semua kan gue gak tau yang pas yang mana. Entar kalo ada yang pas, gue seriusin." Gior malah dengan bangganya mengatakan hal itu, tapi itu juga cukup masuk akal.
"Ya udah entar gue usaha deketin dia." Jawab Galaxi.
"Nah gitu dong, ehhh ada satu lagi. Lo tau Elen temennya Luca yang kemaren?" Galaxi mengangguk, ia msih oingat dengan Elen.
"Dia suka sama lo." Ujar Gior memberitahu.
"Kenapa gue?" Dari sekian banyak saudaranya kenapa Elen malah menyukainya.
"Ya gak tau, saran gue sih lo harus tegas kalo lo gak suka sama dia. Entar dia malah berharap lagi sama lo."
"Lo kok perduli sama dia?" Galaxi menatap curiga.
"Ya gue gak mau dia nangis-nangis sama Luca, lo mau Luca ngamuk lagi? Dia kan sahabatnya." Gior memberi peenjelasan yang masuk akal.
"Bener juga lo, gue gak mau cari masalah sama tu bocil." Galaxi menyetujui saran dari adiknya.
.
.
.
.
.
.
Buat yang setia sama cerita author makasih banyak. Author gak bisa kasih kalian apa-apa cuman sekedar makasih, dan semoga kita semua sehat dan di lancarkan segala urusan dan rejekinya.....ππππΉ
like komennya jangan sampe lupaπ