
Tidak semua hal berakhir bahagia, luka juga salah satu penutup yang sempurna.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Lo kok ke sini?"Tanya Gior memandang Elen heran yang datang ke rumah tanpa mengabarinya.
"Gue mau ketemu Luca." Jawab Elen.
"Masuk." Panggil Luca yang tangah melihat keduanya berbincang di pintu.
Sepertinya ia benar-benar sudah memberikan keputusan, seluruh keluarga juga sudah berkumpul termasuk ayahnya. Kali ini Elen sangat gugup dari sebelumnya, entah mengapa ia merasa bahwa dirinya yang sedang di adili.
"Jadi lo mau ngomong apa?" Tanya Galang tanpa basa-basi.
"Gue udah nentuin hukuman yang tepap buat Kanya." Ujar Luca membuat mereka memandangnya kecuali Elen.
"Jadi apa?" tanya Gerald.
"Gue mau kirim dia ke rumah ssakit jiwa, dan di sana dia tidak boleh di perlakukan khusus, kita cukup memastikan bahwa dia masih bernafas dengan baik." Sarkas Luca langsung membuat Elen tercengang.
"Lo yakin? Di sana tempat orang gak waras." Seru Galaxi memberi pendapat.
"Menurut lo dia waras?" Luca bertanya balik.
Gior menggengam tangan Elen, ia tau ini terdengar menyakitkan baginya.
"Tapi apa ini gak berlebihan?" Gior angkat bicara.
Luca menatap Elen. "Menurut lo gimana?" Tanya Luca pada gadis itu.
"Gue gak masalah." Jawab Elen dengan cepat, sudah janjinya akan mendukung semua keputussan Luca kecuali membunuh.
"Oke, kirim dia sekarang juga."
"Gue mau ketemu dia." Pinta Elen seketika.
Luca hanya mengangguk, dia melihat Gior dan memberinya kode agar lelaki itu mengantarnya.
"Gue mau ketemu dia sama lo." Elen mengerti maksud Luca, tapi ia ingin bertemu dengan ibunya bersama Luca.
"Tunggu gue di sana, nanti gue susul." Ucap Luca.
"Bram, kapan lo antar dia?" Tanya Galang meninggalkan pembahasan sebelumnya.
"Gue mau ngatar dia sekarang, sebentar lagi gue berangkat." Jawab Bram.
Luca hanya memandang ayahnya, sebenarnya ia tidak mau meembuat ayahnya bersedih karena perpisahan ini. Ia juga sudah pernah membicarakan bahwa ia tidak keberatan dengan hubungan mereka setelah ia tau bahwa semua terjadi karena kesalah pahaman, Luca tidak sampai hati jika ayahnya nanti harus merasakan hari-hari yang kesepian.
Luca meninggalkan mereka berdua, ia pergi menghampiri Helen di kamarnya.
"Luca?"
Luca hanya tersenyum tipis dan mendekati Helen, ia melihat perempuan itu dengan kopernya dan juga pakaian yang sudah siap berangkat.
"Pakailah ini." Luca memberikan mantel kepada Helen. Perempuan itu menatapnya heran, ia tau Luca tidak peernah menyukainya.
"Itu milik mama, anggap saja lo sudah dia maafkan." Ucapnya.
Helen tersenyum, ia tau Luca gadis yang sangaat baik. Dia tau selama ini Luca hanya kekurangan perhatiaan, dia tau bagaimanapun gadis sebenarnya penyayang. Sikap kerasnya hanya tameng yang sejak kecil melindunginya, dan sampai kapanpun ia tidak akan bisa terlepas dari itu.
"Maafkan aku atas segalanya." Helen sangat menyesal, bodohnya ia pernah merasa iri karena tidak pernah di lirik oleh gadis ini. Ia begitu kesal karena gadis ini mengabaikannya, ia begitu cemburu karena Luca tidak bisa menerimanya.
"Hiduplah dengan baik setelah ini." Luca pergi dari sana, ia berpapasan dengan Bram saat keluar dari pintu.
Bisa di rasakan senyum Helen yang masih mengembang bahkan belum menghilang sampai Bram menyadarkannya.
"Kau siap?" tanya Bram.
Helen mengangguk.
Ini adalah awal bagi hidupnya, ia akan pergi ke kota asing dan tinggal dengan lingkungan asing. Mamanya sudah menekam di penjara, Galang menjajikan kebersamaan mereka setelah Shina keluar dari tahanan nanti. Tapi selama itu juga Helen tidak akan pernah bertemu ibunya.
Ini adalah hal yang harus ia tebus, ia kehilangan sosok lelaki di sampingnya, kehilangan teman, keluarga, sahabat, dan semua hal yang sudah ia jalani selama ini. Ia akan terlahir kembali di kota asing dan benar-benar akan menjalani semua sendirian.
.
.
.
Hmmm readers sepertinya mulai sibuk ha sehingga author ngerasa kehilangan kalian...