LUCA

LUCA
EPISODE 133



Diam adalah caraku menyelesaikan.


🌹🌹🌹🌹🌹


"Luca, lo gakpapa kan?" Tanya seorang perempuan memberikan minuman kepada Luca.


Luca menatapnya dengan cermat, ia merasa tidak meengeenal gadis ini.


"Gue yang waktu itu lo tolongin di kamar mandi." Ujarnya seakan mengerti pertanyaan Luca.


"Ohhh." Luca mengambil minuman itu dan menegaknya, sepertinya ia mudah melupakan hal kecil.


"Lo tenang aja, gue gak bakal ganggu lo. Gue tau kok lo gak suka deket sama orang lain, gue kesini cuman khawatir karen Angel tadi." Jelasnya.


"Gak usah pikirin hal yang gak penti, termasuk gue." Ucap Luca bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


"Thanks." Ucapnya sebelum menjauh sembari mnengangkat minuman yang gadis itu berikan tanpa berbalik.


"Gila, dia keren banget." Ujarnya semakin merasa bahwa Luca sangat hebat meski bertingkah dingin.


~~~~~


"Lo bisa kasih gue informasi teentang tu anak songong?" Tanya Angeel pad temannya.


"Ohh Luca, dia tuh anak baru. Seperti yang lo liat, dia cantik, elegan, smart, berkarisma, menarik, cuek, dan banyak lagi." Ucapnya menjeelaskan kelebihan Luca.


"Lo muji dia depan gue?" Angel mengernyitkan dahi.


"Gue gak muji, itu apa adanya." Jawabnya lagi karena merasa tidak salah.


"Tapi kenapa dia gak punya temen kalau emang sepopuler itu?"


"Itu karena dia gak suka dekat sama orang lain, banyak yang ngantri cuman dia gak perduli. Tapi setau gue, punya satu temen yang bisa dia terima."


"Siapa?"


"Elen, cuman dia yang selama ini di lindungin Luca. Luca sering berantem cuman buat bela dia, dan dia jago bela diri. Mending lo gak usah cari masalah deh." Setelah menjelaskan panjang lebar, Anita memberikansaran agar tidak berurusan dengan Luca.


"Gue gak perduli, selama ada gue gak boleh ada yang rebut kepopuleran di sekolah ini."


"Ya terserah deh."


"Tapi Elen siapa?" Tanya Angel lupa dengan gadis itu.


"Itu cewek culun yang sring lo jadiin peembantu, sekarang dia udah gak culun karena Luca ngeerubah penampilan dia."


~~~~~~~~


Bentar lagi guee sampai


Luca mendapat pesan dari Galang.


Ia hanya tersenyum dan kembali menaruh phonselnya, sembari menunggu ia memilih duduk di salah satu kursi yang pandangannya langsung mengarah ke depan gerbang. Dari sana ia bisa melihat semua siswa yang sedang berlalu lalang pulang.


Pandangan tertuju pada Elen, gadis itu seperti kesusahan meendapatkan taxi. Ia hanya menoleh ke kanan dan kekiri tanpa ada satu taxi yang lewat.


"Bodoh." Gumam Luca melihat tingkah Elen.


"Berhenti." Luca mencegat salah satu siswi.


"Iya kenapa kak?" Tanya Gadis itu, dari tampangnya ia sama seperti Elen. Begok!


"Lo anterin tuh cewek ke rumahnya." Luca menunjuk Elen.


"Tapi Kaaak,,"


"Nih buat lo." Luca melepas jamtangannya yang bernilai 5 juta. "Gak usah bilang kalau gue yang suruh lo."


Dengan senang hati gadis itu langsung menerima hadiah dari Luca, ia melangkah riang dan mengajak Elen pulang bersama.


Luca tersenyum tipis melihat Elen yang sangat kegirangan karena mendapatkan tumpangan, Dia terus memantau mereka sampai mereka leenyap bersama mobil cewek yang dia cegat.


Luca memasang kembali earphonenya dan menyandarkan kepala yang terasa sangat berat. Mungkin bagi orang lain hidupnya sangat sempurna, padahal kenyataannya dia adalah manusia yang kehausan. Ia selalu haus akan perhatian dan kasih sayang, ia bahkan ingin memiliki kekasih, keluarga, dan sahabat.


Semua hal besar sudah ia lewati, ia sangat letih dengan semua keramaian yang ia lihat ddan di dengar tiap harinya.


"Kalo surga rame gini gak sih?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


.


.


.


.


Silahkan tandai dan beri tau author kalau ada typo, karena sebenarnya author udah gak bisa mellek😪


Yuk komen dan like untuk terus mendukung author🙏🙏