LUCA

LUCA
EPISODE 167



Bahagia itu kamu.


~Galang.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Lo kenapa?" Tanya Galang menatap gadis di sampingnya.


"Hah? Emang kenapa?" Tanya Luca balik.


"Kok kayaknya kesel."


"Nggak kok, lagi laper aja." Luca menampilkan deretan giginya tersenyum untuk menutupi kebohongannya.


"Dasar bodoh, lo gak bisa bohongin gue." Umpat Galang dalam hatinya, tapi ia membiarkan Luca begitu saja tanpa menanyainya lagi.


"Lo kok bukan pulang?" Tanya Luca lagi melihat bahwa itu bukan jalan pulang.


"Gue mau bawa lo ke suatu tempat." Jawab Galang tersenyum dan satu tangannya meraih tangan Luca untuk menggenggamnya.


Luca tersnyum lebar, sejenak ia melupakan rasa kesalnya.


"Turun." Ucap Galang sembari membuka pintu untuk Luca.


"Loh ini bukannya danau yang waktu itu?" Tanya Luca, mereka pernah ke sini saat Galang mengungkapkan perasaannya.


"Gue bangun kembali danau ini, lihat." Galang menunjukan betapa indahnya danau itu sekarang dengan pelayanan dan beberapa tempat yang di hias lebih indah.


Di tengah danau, terdapat taman kecil yang mengapung, di sana tumbuh berbagai macam bunga mawar kesukaan Luca. Dan di tepi danau, lebih banyak lagi hiasan dan tempat duduk juga beberapa tempat untuk berteduh. Di samping danau itu, terletak air mancur yang berwarna saat malam hari, dan di sana sudah sangat jauh berbeda sejak Luca pertama kali menginjakkan kakinya ke sini.


"Ini semua lo yang bikin?" Tanya Luca memandang dengan penuh rasa terharu.


"Gue udah beli danau ini, tadinya gue gak mau buka untuk umum. Tapi setelah di pikirkan lagi, mereka juga harus merasakan indahnya perasaan mereka di sini." Jelas Galang menatap jauh ke dapan.


"Tapi kok sepi?"


"Ini belum di buka, gue mau lo yang pertama kali datang ke sini." Ucapnya menatap Luca dan mencium keningnya.


"Makasih udah cinta sama gue sedalam ini" Kemudian dia memeluk tubuh kekar lelaki itu.


"Lo cuman punya gue, semua yang ada di lo. tubuh ini, terus otot perut ini juga." Luca menyentuh perut Galang tanpa melepas pelukan mereka.


"Gak usah mancing-mancing." Seru Galang.


"Hah? Mana ada orang mancing?" Luca langsung melepas pelukannya dan menatap ke danau mencari orang yang Galang maksud.


"Bukan mancing ikan."


"Terus mancing apa?" Tanyanya dengan polos.


"Udah lah, kita naik perahu yuk." Ajak Galang sembari mengenggam tangan Luca.


Mereka berdua menikmati pemandangan dan menuju taman kecil di tengah danau, ini lebih indah dari pada yang Luca lihat dari kejauhan. Bahkan mereka sangat terawat dan harumnya sangat menggoda hidung mereka.


"Nanti di sini kasih tulisan, tidak boleh di petik." Ucap Luca menunjuk bunga mawar itu.


"Iya, nanti gue pasang."


"Karena gue sayang sama lo." Jawab Galang dengan santai tanpa berfikir panjang.


"Ya alasannya tuh apa Galang?" Tanya Luca lagi tidak puas dengan jawaban Galang.


"Ya itu alasannya sayang, ada yang salah?"


Luca menyandarkan kepalanya ke dada Galang sembari memeluk lelaki itu.


"Jangan terlalu baik ya." Ujaar Luca.


"Hmm? Kenapa?"


"Nanti gue makin cinta sama lo."


"Bohong." Galang melepas pelukannya dan melangkahkan kaki mengelilingi taman itu.


"Kok bohong?"


"Di ajak nikah aja gak mau." Jawab Galang membuat Luca cemberut.


"Ih, gak mau bahas itu." Luca berlari dan memeluk Galang kembali dari belakang.


"Giliran mau di nikahin banyak alasan, dasar cewek."


"Bodo amat, yang penting gue sayang sama lo." Luca menggosok-gosokkan hidunganya ke leher Galang.


"Jangan gitu." Galang menarik tubuh Luca dan mereka saling menatap.


"Emang kenapa sih?"


"Gue bisa makan lo di sini." Galang mendekatkan wajahnya pada wajah Luca.


"Lo gak bisa makan gue di sini, weeekk." Luca tertawa sembari berlari meninggalkan Galang.


"Nanti jatuh nangis." Seru Galang melihat tingkah gadis itu.


Ia tersnyum bahagia melihat gadis itu berlari dan tertawa dengan riang, tidak perduli apapun intinya ia harus membahagiakan gadis itu.


Senyumannya saja sudah cukup untuk menenangkannya, dan tidak ada lelaki yang boleh berada di posisinya.


.


.


.


.


.


Sweet sweet dulu ya sebelum perang...


tinggalkan jejak.