LUCA

LUCA
EPISODE 157



Kamu adalah luka, sekaligus penyembuhnya.


~Luca.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐Ÿฅด๐ŸŒน


"Gimana dia?" Tanya Galang.


"Kecapean sama telat makan, nih obat buat dia. Gue cabut dulu, jangan sering bikin anak orang sakit." Ucap Vano sembari melangkah pergi dari kamar Galang.


Ya, Luca memang tengah berada di kamar Galang. Entah mengapa lelaki itu malah membawanya ke sini bukan ke kamarnya sendiri.


"Luca." Galang mendekati gadis itu yang masih berwajah jutek.


Bagaimana tidak marah, lelaki itu memperlakukan Luca seenak jidad. Kemarin mereka bertengkar, tapi hari ini Galang seakan perduli padanya.


Cup!


Galang mengecup pipi Luca.


"Iiihhh, lo gila ya." Bentak Luca.


"Makanya jangan marah."


"Lo yang bikin gue marah Galang."


"Iya maaf ya udah bikin lo marah." Galang membelai lembut rambut Luca.


"Gak lucu Galang." Luca menyingkirkan tangan Galang.


Luca beranjak duduk dan membelakangi Galang.


"Luca, hey." Galang membalikkan tubuh gadis itu sembari menyentuh pipinya, tapi Luca tetap dengan mode galak.


"Maaf gue udah bikin lo sakit, maaf kemarin gak bisa jelasin apapun, maaf karena gue gagal bahagiain lo." Galang tertunduk, ia merasa sangat tidak berdaya saat melihat Luca seperti ini.


"Tapi kenapa lo lakuin itu?"


"Tapi lo janji jangan marah dulu, dengerin penjelasan gue." Pinta Galang.


Luca hanya mengangguk, ia juga sangat penasaran kenapa galang bisa berbuat seperti itu.


Galang pergi mengambil sesuatu di bawah lacinya, sebuah amplop yang ia berikan kepada Luca.


Luca membuka amplop itu dan kaget,


"Galang ini lo?" Luca sudah melotot. "Lo selingkuh dari gue selama ini? Tuhkan lo selingkuh, huaaaaaa." Luca berteriak menangis semberi melempar amplop itu ke wajah Galang.


"Dengerin dulu, tuhkan lo marah duluan."


"Ya ini lo tidur sama cewek berduaan, lo hamilin anak orang?" Teriak Luca lagi.


"Dengerin dulu, gimana gue bisa jelasin kalau lo teriak terus."


"Ya udah jelasin." UcapLuca cemberut.


"Jadi ini tuh."


"Buruan." Luca menyela kalimat Galang.


"Ya udah diem." Galang mentutp mulut Luca dengan tangannya, gadis itu hanya idam tanpa memberontak.


"Jadi ini tuh emang gue sama sekretaris gue, nah waktu gue abis tunangan sama lo kan gue besoknya langsung leembur meting sama klien, Gerald gak bisa nemenin gue jadi terpakasa sama sekretaris itu. Tapi gue beneren gak inget kenapa bisa tidur sama dia."


"Mmmmm."


"Apa?" Tanya Galang tidak mengerti.


"Mmmmm." Luca melotot.


"Oh iya belum di lepas." Galang barus sadar kalau tangannya masih menempel di mulut Luca.


"Huuuhh, lo pasti mabuk mangkannya gak sadar."


"Nggak, gue gak pernah minum gituan Luca. gue ingetnya kita masih meeting, eh bangun udah ada di sebelah tu perempuan." Jelas Galang.


"Gimana kalau dia hamil?"


"Gue gak nyentuh dia."


"Ya gue yakin, liatnih gue masih pakai baju." Galang menujuk dirinya di foto. " Gue selama ini pulang malem karena nyelidikin ini. Dia juga bilang mau laporin gue kalau dia udah tidur sama gue."


"Ya kenapa lo gak jujur aja dari awal Galang? Kenapa harus cuekin gue segala?"


"Gue gak mau nyakitin lo Luca, tadinya gue mau bahas ini setelah maslahnya selesai. Gue gak pernah sedikitpun mau buat lo sakit hati, gue gak sengaja."


"Tapi lo tetep diem aja pas dia megang tangan lo waktu itu." Perempuan memang selalu memiliki ingatan yang kuat bukan?


"Gue gak tau kalau dia sengaja nyentuh gue, gue gak bisa marahin dia di depan lo, entar dia ngadu."


"Ya tapi kenapa gak di pecat aja? Lo kan berkuasa, masak masalah begini aja gak bisa selesain?' Luca tetap tidak mau menerima alasan.


"Luca." Galang menyentuh pipi gadis itu dengan kedua tangannya, ingin sekali meremas gadis itu karena terus mengoceh sejak tadi.


"Lo inget Steff? Gue curiga dia tau keberadaan Steff, karena Gerald dan gue udah nyelidikin ini dan sulit banget nyari bukti tentang malam itu. Dan kita nemuin data transakasi aneh yang diduga berhubungan sama lelakki itu, dia juga pernah ketemu Steff. Kalau gue gak baikin dia, gue gak bisa tau keberadaan Steff. Gue cuman gak mau bikin lo khawatir Luca, gue mau selesain masalah ini sendiri dan ngeliat lo tanpa rasa terancam. Kalau gue kasih tau masalah ini, pasti lo bakal terus mikirin laki-laki itu kan?"


Luca terdiam, di saat lelaki ini mengkhawatirkan dirinya ia malah sibuk menangis. Dia sibuk mencurigai Galang tanpa memikirkan hal lain, dia bahkan lupa bahwa Steff masih berkeliaran di luar sana.


"Maaf." Luca memeluk Galang sembari menangis, ia merasa bersalah sekarang.


"Udah jangan nangis." Galang mencium rambut Luca, syukurlah ia mengatakan ini sekarang sebelum masalahnya semakin runyam.


Ia harusnya mendengarkan saran Gerald untuk memberitahu Luca yang sebenarnya. Jika ia melakukan hal itu tadi dia tidak mungkin adu jotos dengan Gior.


"Kaaaak." Teriak Gior membuat kehebohan di kantor.


"Ada apa?" Tanya Galaxi yang mengejar Gior menuju ruangan Galang.


"Kaak, lo keterlaluan banget ya. Lo apain Luca sampai dia sakit begitu?"Teriak Gior menggebrak meja Galang.


"Ini kantor Gior."


"Gue gak perduli, gara-gara lo Luca pingsan di sekolah."


"Luca pingsan? Sekarang dia di mana?" Galang melangkah ingin bergegas pergi.


"Gak usah sok perduli, kakak selingkuh kan?"


"Gior, yang sopan." Bentak Galang.


"Kaak, cewek kayak Luca cuman ada satu, beraninya kakak nyakitin dia."


"Gior udah." Galaxi menarik Gior menjauh.


"Bawa dia pergi." Perintah Galang.


"Lo pengecut."


Bukk!


Satu bogeman mendarat di pelipis Gior.


Buk!!


Gior juga balas menghantam kakaknya.


"Kalian apaan sih." Gerald dan Galaxi memegangi mereka berdua.


"Kak, mending lo pergi. Jelasin ke dia sebelum lo menyesal." Ujar Gerald.


Galang tersenyum sembari menyentuh sudut bibirnya, malah terasa lucu ia mengingat kejadian itu sekarang. Pukulan Gior lumayan kuat juga sampai membuatnya membiru.


.


.


.


.


.


Hay readers, ekstra bab nih buat malam tahun baru..


Semoga tahun depan kita lebih baik dari tahun ini, sehat sehat kalian๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Jangan lupa yaaa tinggalkan jejak,๐ŸŒธ๐ŸŒธ HAPPY NEW YEARS ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ