
Kecewa adalah perasaan paling di benci manusia
๐น๐น๐น๐น๐น
"Udah sadar rupanya." Ujar Adamson menyentuh wajah Luca.
"Lo masih takut gue liatmuka lo?" Tantang Luca karen saat ini matany di tutupi kain.
"Dasar kucing liar."
"Boss, anak buah Galang sudah menyebar mencari keberadaan kita." Sesorang masuk memberi kabar.
"Sial,cepat juga dia." Ujar Adamson.
Luca tersenyum miring mendengar hal itu. "Harusnya lo gak pernah buat kesalahan ini." Ucap Luca dengan nada mengejek.
"Lo segitu percaya kalau Galang bisa nemuin lo?" Adamson mengusap bibir Luca.
"Saat ini kita juga tidak mungkin bisa keluar boss, perbatasan sudah di jaga dengan ketat." Tambah anak buah itu lagi.
"Cepat serang perbatasan seakan kita keluar dari daerah ini." Perintah Adamson.
"Baik boss." Dia langsung meninggalkan ruangan.
"Mau sampai kapan lo sembunyi Stef?" Ujar Luca membuat lelaki itu kaget, karena meengenalisuaranya padahal dia sudah mengenakan masker yang tentu tidak akan terlalu jelas. "Lo pikir gue gak bisa kenal sama lo sekarang?"
"Bener juga ya." Adamson langsung membuka penutup mata Luca. "Sekarang lo bisa liat gue sepuasnya." Adamson tersenyum licik.
"Gue pikir lo temen, ternyata sampah." Luca mengatakannya kalimat terakhirnya dengan penekanan.
"Itu kesalahan lo, harus lo gak pernah anggap gue temen karena gue mau lebih." Jawab Adamson memandang wajah Luca.
"Siapa yang mau sama pengecut kayak lo." Luca tersenyum mengejek.
"Apa lo lupa pernah ngomong apa sama gue?" Adamson membuka maskernya dan mendekati wajah Luca. "Lo bilang kalau mau cium, buka masker dulu." Adamson menatap Luca dengan penuh arti.
"Ciihh gue jijik liat muka lo." Luca meludahi wajah Adamson yang mendekatinya.
"Sialan lo." Umpat Adamson pada Luca, tapi lelaki itu hanya memandang tanpa memukulnya.
"Biar gue bantuin lo ngerasa jijik." Adamson mengambil tisu memberishkan wajahnya kemudian mendekati Luca lagi.
"Lo bakal nyesel udah lakuin ini." Ucap Luca berusaha melepas ikatannya.
Luca merasakan peerih pada hatinya, ia sangat benci saat lidah lelki itu malah menari di atsa bibbirnya dengan liar.
"Aaauuhhh."Adamson menjerit karena Luca mengigit bibirnya.
"Gue bunuh lo." Luca menatapnya dengan penuh ancaman.
"Gue yang bakal bunuh harga diri lo lebih dulu, kita liat aja bagiaman lo menikmati permainan gue." Seru Adamson yang memberi penjelasan apa yang akan terjadi sselanjutnya jika Luca masih berada di sini.
"Boss, dia memaksa masuk." Seseorang kembali masuk menemui Adamson.
"Kenapa perempuan itu tidak sabaran, cepat tutup lagi matanya." Perintah Adamson kemudian pergi dari sana.
"Tunggu, gue mau pinjem hp lo." Ucap Luca pada lelaki yang akan menutup matanya.
"Untuk apa?"
"Gue mau ngaca." Ucap Luca.
Dia langsung mengambil hp dan mengarahkan ke kamera depan. "Dasar perempuan, di situaasi seperti ini masih mikirin penampilan." Seru orang itu.
"Udah."
Lelaki itu menaruh kembali hpnya dan menutup mata Luca. Sebenarnya ia tidak ingin mengaca, ia hanya ingin tau jam berapa dan informasi lainnya. Rupanya di sana tidak ada sinyal sehingga mereka tidak mampu melacak keberadaan Luca.
"Sekarang gimana caranya gue keluar?" Luca menengadahkan wajahnya, ia sangata bingung mencari cara kabur. Ia sekarang sudah tau bahwa Stefan yang selama ini menguntitnya.
"Tapi siapa pereempuan itu? Kenapa Stefan melarangnya masuk?" Luca masih mempertanyakan sosok perempuan yang menjadi dalang semua ini.
.
.
.
.
.
Silahkan like dan komennya untuk author terimaksih๐๐๐๐