
Musuh dan sahabat itu sama, sama-sama mengajarkan kita kuat meski dari sisi yang berbeda.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Luca memandang keluar jendela, ia masih memikirkan obrolan telfon semalam. Bahkan itu membuatnya tidak bisa fokus saat belajar seperti sekarang.
"Luca, ingat apa yang buat lo bahagia." Suara Galang terus berdentuman di telinganya, lelaki yang selalu menjadi penenang dalam semua amarahnya.
"Jika itu gue, pasti dia datang hari ini." Gumamnya, ia merasa bahwa akan ada badai besar setelah kebahagiaan ini.
"Lo kenapa dari tadi beengong?" Elen berbisik.
"Lo bisa diem gak sih." Ucap Luca, ia sedang tidak ingin di ganggu.
"Elen, kenapa bumi memiliki jarak yang jauh dengan matahari?" Tanya guru itu pada Elen karena ia melihat muridnya sedang berbisik.
"Karena di ghosting buuu." Jawab Elen sekenanya, se isi kelas langsung menertawakan dirinya serentak.
"Elen berdiri kamu." Ucap guru itu menghukum Elen.
"Begok." Luca tersenyum tipis saat melihat Elen beranjak dari kursinya.
"Isshh gue keceplosan." Gerutunya berjalan ke depan.
Tiba-tiba Stefan langsung pindah dan duduk di tempat Elen.
"Gue gak papa duduk di sini?" Tanya Stefan.
"Terserah." Jawab Luca.
Luca melirik pergelangan tangan Stefan, ia memiliki tato yang unik di sana.
Klung
Luca langsung meraih hpnya bersamaan dengan hp Stefan yang berbunyi.
Luca menatap hpnya dengan ekspersi datar, ia akan memikirkan hal itu nanti.
"Pesan dari cewek lo?" Tanya Luca pada Stefan.
"Ohh bukan, dari nyokap." Jawabnya tak lupa dengan senyum.
Luca kembali mendengarkan penjelasan guru di depan, ia pikir Stefan tidak mungkin jika tidak memiliki pacar.
~~~~~~~~~
"Kenapa mereka malah mengobrol?" Galang melotot menatap layar laptopnya.
"Kak, udahlah. Luca pasti jaga hati kok." Galaxi merasa pusing dengan tingkah kakak tertuanya.
"Liat dia ngobrol sama tu cowok." Galang memutar laptopnya dan menunjukan kepada Galaxi.
"Emang kakak gak percaya diri ya?" Tanya Gerald.
"Kata siapa?"
"Buktinya kakak masih sibuk ngawasin Luca, itu artinya kakak merasa tersaingi." Jelas Gerald.
"Gak ada yang bisa nyaingin gue, gue cuman memantau kalau dia tiba-tiba kayak semalem gimana?" Elak Galang tidak mau mengaku.
"Kakak pikir Luca itu gila, dia gak mungkin ngamuk tanpa ada penyebab." Galaxi terus memojokkan kakaknya.
"Berisik lo, gue kasih waktu 15 menit selesaikan laporan rapat kemarin." Perintah Galang.
"Kok gitu sih kak." Mereka berdua menggerutu bersamaan.
Galang kembali menatap Luca, ia terslihat sangat cantik di lihat dari sisi manapun. Sepertinya dia sangat merindukan gadis itu saat ini.
"Mau kemana?" Tanya Gerald.
"Ketemu Luca." Jawabnya sembari menutup pintu ruangan, mereka bertiga memang berada dalam satu ruangan khusus. Jadi tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana.
"Dasar bucin." Umpat Gior.
Galang tidak sabar bertemu Luca, mungkin gadis itu sudah waktunya istirahat sekarang. Ia akan menemuinya dan melihat wajahnya sebentar.
"Luca gue boleh duduk sini?" Tanya Stefan menghampiri mereka berdua.
"Duduk aja." Malah Elen yang menjawabnya.
Dengan senang hati Stefan duduk di samping Luca, ia terus menatap wajah gadis itu.
"Lo bisa makan gak sih, gue risih lama-lama." Tegur Luca pada Stefan.
"Sorry, lo cantik banget sih." Ucapnya memuji, tapi bukan Luca namanya jika bisa terpengaruh.
"Oh ya, kalian tiap hari bawa bekal ya?" Tanya Stefan.
"Iya, ini mama gue yang buat khusus gue sama Luca." Dengan senang hat Elen menjelaskannya.
"Wah, mama lo sayang banget ya sama Luca."
"Iyalah, buat mama kita itu sodara." Jawab Elen lagi.
Luca memang membenarkan hal itu, mama Elen tidak hanya memberikaan bekal tiap hari, tapi dia juga memberikan beberapa aksesoris yang sama dengan Elen. Terkadang wanita paruh baya itu melakukan panggilan vidio dengan Luca, mereka memang mulai dekat.
Galang yang baru saja tiba langsung duduk di tengah-tengah antara Stefan dan Luca.
"Om ngapain di sini?" Tanya Elen kaget, bukan hanya Elen, Luca juga kaget dengan kedatangan Galang.
"Lo mau ngapain?" Tanya Luca menatap Galang.
"Mau ketemu sama lo." Jawab Galang sembari terus menggeser tubuh Stefan.
"Om bisa duduk di sana." Tunjuk Stefan ke samping Elen.
"Yang omnya Luca itu gue, jadi lo yang duduk sana." Galang mendorong tubuh Stefan agar bangkit.
"Awas aja kalo gue udah jadi pacarnya." Gerutu Stefan sembari pindah.
"Jangan mimpi." Ketus Galang, ia menggenggam tangan Luca di bawah meja sembari menatapnya. Sangat puas rasanya bisa menyingkirkan pemuda itu, hanya dia yang boleh berdampingan dengan Luca, bukan orang lain.
"Jangan senyum." Tegur Luca.
"Kenapa?"
"Gue bisa diabetes."
.
.
.
.
.
.
.
Silahkan komentar dan like yang buaaanyaakkmk🙏🙏