
Aku tidak akan membiarkanmu pergi
๐น๐น๐น๐น
"Lucaaa..." Teriak Elen melihat tembakan ibunya mengenai gadis itu.
Galang menatap wajah Luca tidak percaya, tangannya berlumuran darah Luca yang sudah lemas berada di dalam pelukannya.
"Lucaa, hey jangan memejamkan matamu." Galang mulai panik.
"Cepat seret dia!." Galang menunjuk Kanya dengan penuh amarah, kali ini dia tidak akan lolos.
"Luca bertahanlah, janga tutup matamu." Galang menggedong Luca berlari kelar. "Cepat siapkan mobil." Teriak Galang, mereka yang berada di luar kaget saat melihat Luca sudah bersimbah darah.
Gior segera berlari ke dalam mobil, sementara saudaranya yang lain mengikuti Galang.
"Elen." Panggil Gior pada gadis yang menangis.
"Gior." Elen langsung memeluk lelaki itu. "Gue gak tau, kenapa malah jadi begini?" Elen terus tersedu memeluk kekasihnya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Gior mengelus rambut Elen yang masih memeluknya.
"Cepat ikut."Anak buah itu menyeret Kanya.
"Elen, bantuin mama." Ujar Kanya menatap putrinya.
Elen melepas pelukannya dan berjalan mendekati ibunya. "Kenapa mama lakuin ini?" Teriak Elen.
"Mama ingin membuatmu bahagia." Jawab Kanya menyentuh tangan pipi putrinya.
Plaaakkk.
Elen justru mlaha menampar Kanya, hal yang membuat ia merasa perih sekaligus geram.
"Apa mama sekarang melihatku bahagia?" Elen menatap Kanya.
"Kamu berani menampar mama hanya karena gadis yang barus saja kamu kenal."
"Tapi dia sahabat Elen ma, apa mama lupa dia berulang kali mempertaruhan nyawanya buat selamatin Elen? Setidaknya mama harus tau balas budi."
"Untuk apa mama balas budi? Kita menderita juga karena dia."
"Cukup maa, bawa dia pergi." Ujar Elen menatap lelaki yang tadi menyeret Kanya.
"Kamu akan senang melihat mama mati?" Kanya di seret keluar dari ruangan itu, sementara Elen sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Gior hanya mengangguk dan menariknya keluar, sebenarnya ia juga tidak tau harus berbuat apa. Ia sangat bingung dengan situasi sekarang.
Elen terus menangis sepanjang perjalan ke rumah sakit, ia tidak tau apa yang akan terjadi jika Luca tidak selamat.
"Kaaak, Bram menelfon dan mengatakan dia sudah berada di bandara." Gerald menghampiri Galang yang masih menatap pintu ruangan Luca.
"Kenapa harus di situasi seperti ini." Galang semakin merasa frustasi.
"Kakk tenanglah." Galaxi mencoba menenangkan.
"Dia tadi udah sama gue, tapi dia masih bisa terluka." Galang berulangkali menghantam dinding rumah sakit.
"Kaak berhentilah, saat ini kita harus fokus pada Luca. Urusan Bram biar gue yang jelasin, sekarang gue harus jemput dia." Ujar Gerald menatap Galaxi seakan memberi kode agar tetap berada di sisi Galang selama ia pergi.
"Hati-hati." Ucap Galaxi pada Gerald yang sudah melangkah pergi.
Gior datang bersama Elen, mereka melihat tampang frustasi Galang dengan rambutnya yang berantakan.
"Bagaimana?" Tanya Gior pada Galaxi.
"Entahlah, mereka belum keluar sejak tadi." Jelas Galaxi.
Dan mau tidak mau mereka harus menunggu sampai dokter selesai menangani Luca, Galang bahkan tidak bergerak sedikitpun setelah berjam-jam berdiri di luar pintu.
"Kaaak duduklah, ini hanya akan menyiksa diri kakak sendiri." Galaxi mencoba menjelaskan.
"Gue cuman berdiri, bagaimana dia yang melawan sakit di dalam sana sendirian." Jawab Galang tanpa ekspresi.
Pernyataan Galang membuat Elen semakin merasa bersalah, ia sangat sakit hati dan takut melihat Luca di tembak di depan matanya dan oleh ibunya sendiri.
"Maafin gue." Ujar Elen pada mereka.
Galang tetap diam tidak menanggapi apapun yang di katakan Elen.
.
.
.
.
Silahkan komen dan like nya