LUCA

LUCA
EPISODE 163



Bagaiman menurutmu?


~Luca.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah menyelesaikan pertemuan mereka sesuai rencana, akhirnya Luca bisa pulang dengan tenang.


Ia merasa sedikit lega karena tidak melakukan ini sendirian, ada mereka yang mendukungnya.


Mereka mengatur pertemuan berikutnya besok, karena hari ini Luca hanya melakukan pengenalan dan memberikan keberanian pada orang-orang yang sudah menjadi korban.


"Pulang sendiri?" Tanya Juan.


Luca tersenyum." Gue di jemput kok." Ujar Luca pada Juan.


Juan hanya mengangguk, sepertinya Luca akan pulang bersama lelaki itu lagi.


"Luca." Panggil Galang yang berdiri lumayan jauh dari mereka.


Senyum Luca timbul dan gadis itu langsung berlari menghampiri Galang.


Ada rasa iri dan cemburu yang muncul di hati Juan, ia sendiri tidak mengerti kenapa merasa begini.


"Udah selesai?" Tanya Galang.


Luca mengangguk, ia sangat bahagia karena Galang menjemputnya di tengah kesibukan lelaki itu.


Galang mengusap rambut gadis itu, ia ingin menunjukan betapa Galang menyayangi gadis ini kepada lelaki yang masih menatap Luca dari kejauhan.


"Juan gue pulang duluan." Teriak Luca sembari melambaikan tangannya.


Juan hanya tersenyum dan membals lambaian itu.


Galang menggenggam tangan Luca yang membuat gadis itu kaget, pasalnya ia masih berada di lingkungan sekolah.


"Kenapa pulangnya telat?" Tanya Galang setelah mereka massuk ke dalam mobil.


"Tadi ada urusan sama guru." Bohong Luca.


"Gurunya nyusahin lo ya? Apa perlu gue telfon kepala sekolah?" Lagi-lagi Galang melakukan hal itu.


"Galang gue itu siswa, jadi wajar seorang guru ngasih tugas sama muridnya." Luca meraih tangan Galang agar menyimpan kembali phonselnya.


"Tapi cewek gue gak boleh capek."


"Gue gak capek, buruan ah pulang." Seru Luca pada Galang yang tak kunjung menyalakan mesin.


"Bentar dulu." Galang mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya, kemudian dia meraih tangan Luca. "Jangan di buang lagi."


Rupanya Galang kembali memakaikan cincin di jari manis Luca yang smepat ia buang karena kesal.


"Maaf ya." Ucap Luca.


"Tapi jangan di ulangin, semarah apapun lo, jangan pernah berfikir ninggalin gue." Galang menatap mata gadis itu dalam-dalam.


"Janji." Luca mengulurkan jari kelingkingnya.


Galang tersenyum dan menyambutnya dengan jari kelingkingnya juga.


"Tadi siapa?" Tanya Galang pada Luca sembari menjalankan mobilnya.


"Cowok tadi."


"Ohhhh, dia itu Juan temen gue. Gue lagi ada tugas kelompok sama dia, bukan berdua kok, sama Sandra sama Elen juga." Jelas Luca tidak mau Galang salah paham.


"Jangan deket deket sama cowok lain."


"Kenapa?"


"Gue bisa cemburu."


Luca menatap Galang, terkadang ia merasa bahwa ini seperti mimpi. Hidupnya berubah 180 derajat dalam waktu singkat setelah bertemu lelaki ini, bagiamana bisa ia akan memikirkan lelaki lain?


"Gue sayangnya cuman sama lo." Jawab Luca.


"Gue tau, tapi gue tetep gak suka lo deket sama cowok lain." Galang membelai rambut Luca.


"Iya gak deket deket kok."


"Setelah Bisma balik, gue bakal bicarain pernikahan kita.."


"Haaaaahh?" Luca sangat kaget hampir berteriak.


"Kenapa? Lo gak mau nikah sama gue?"


"Bukan gitu, tapi apa gak kecepetan?" Tanya Luca ragu.


"Gue gak mau nunggu lagi."


"Sampai gue lulus aja gimana?"


"Gak ada penolakan."


"Tapi Galang gue belum siap."


"Harus siap." Paksa Galang.


"Sampai gue lulus aja yaaaaa, plissssss?" Pinta Luca memohon.


Galang menarik nafasnya kasar, entah bagaimana gadis ini malah menolaknya. Saat ada banyak perempuan mengantri untuk dinikahi olehnya, gadis ini malah terus saja menolaknya.


Saat di lamar matanya sangat berbinar karena merasa sangat bahagia, tapi saat akan di nikahi ia malah menolak dengan keras.


"Galanggg." Panggil Luca sembari menarik jas Galang karena lelaki itu tak lagi menjawabnya.


"Galang ih, jangan marah."


"Hmmmm."


.


.


.


.


HAY READERS, TINGGALKAN JEJAK YUKKK