LUCA

LUCA
EPISODE 171



Mau lihat kekuatan seorang wanita?


🌹🌹🌹🌹🌹


“Luca?”


Luca langsung duduk meski belum di persilahkan, ia bahkna tidak tersenyum sedikitpun.


“Ada keperluan apa?” Tanya kepala sekolah.


“Sepertinya bapak terbiasa mengabaikan peringatan ya?” Ucap Luca tanpa basa-basi.


Kepala sekolah tersenyum sebelum menjawab Luca. “Kamu memang tipe orang yang tidak bisa basa-basi ya.”


“Saya tidak suka karena itu basi.”


“Seperti yang saya katakana saya tidak bisa memproses laporan kamu karena tidak adanya bukti lengkap.” Jelas kepala sekolah.


“Saya tidak melapor, saya meminta anda menyelidiki.”


“Saya tidak mendapatkan apapun dalam penyelidikan.”


“Karena bapak memang tidak melakukan penyelidikan.” Ucap Luca menatap lelaki itu tajam.


“Baiklah, jika tidak ada lagi kamu bisa pergi.”


“Intinya saya sudah memperingatkan bukan? Selanjutnya biar saya yang bertindak.” Luca beranjak dari duduknya.


“Kamu berencana melaporkan ini? Saya bisa menuntut kamu atas pencemaran nama baik.”


“Dengan senang hati pak, saya menunggu hal itu. Tapi ingat! Saya tidak berbaik hati dua kali kepada musuh.” Luca meninggalkan ruangan itu. Entah mengapa berada di dalam sana membuatnya sangat muak dan ingin sekali menghajar wajah tidak berguna di hadapannya.


“Luca.” Elen datang menghampiri Luca yang baru saja keluar.


“Kenapa?”


“Apa kata kepala sekolah?” Tanya Elen, sejak tadi ia sangat khawatir.


“Sebaiknya jangan bahas di sini.” Ucap Luca melihat situasi tempat itu yang ramai.


Mereka berdua meninggalkan tempat itu dan pergi ke ruangan tempat biasanya mereka berkumpul.


“Katakan ada apa?” Entah dari mana, Juan tiba-tiba menarik pergelangan tangan Luca.


“Gue baik-baik aja.” Jawab Luca melepaskan tangan Juan.


“Gimana tadi?” Giliran Elen yang meneruskan pertanyaannya.


“Kepala sekolah nantang gue.”


Juan mengacak rambutnya kesal, ia sudah tidak bisa bersabar lagi.


“Gimana kalau gue abisin dia aja.” Ucap Juan.


“Jangan gila.” Ketus Luca menatap lelaki itu.


“Tapi gak gitu caranya.” Tegas Luca.


“Terus kita harus gimana?” Elen sudah ingin menangis, dia memang penakut.


“Tenang aja, gue udah punya bukti rekaman perbincangan mereka.”


“Beneran?” Tanya Elen seperti mendapatkan sedikit harapan.


Luca mengangguk.


“Artinya lo gak usah mincing Bisma?” Tanya Juan.


“Gue tetep harus lakuin itu.”


“Lucaaaaa, lo gila? Lo bisa dalam bahaya.” Bentak Juan.


“Tujuan gue adalah Bisma, gue gak mau dia duduk tenang di dalam penjara. Gue pengen muka dia terpampang sampai dia gak bisa lagi nikmatin hidup.”


“Gue bisa lakuin apapun, asal jangan lo.”


“Gak bisa Juan, lo pikir dia tertarik sama cowok?”


Elen menatap Juan heran, emamng mereka adalah teman. Tapi, melihat kekhawatiran di mata Juan, menurutnya itu berlebihan sebagai teman. Ia seperti sangat tidak rela jika Luca di sentuh orang lain.


“Oke, tapi gue bakalan ikut dan jagain lo.” Juan tetap kekeh.


“Juan, lo jangan berlebihan. Gue gak bakal baik-baik aja tanpa lo jaga, lo mending pikirin hal lain.” Tolak Luca.


“Gak bisa, pergi sama gue atau gak sama sekali.”


“Juan bener, biar gue ikut juga. Kita bakal intai lo dari jauh kok, kita cuman takut lo di apa-apain.”


“Huuffftt, terserah kalian deh.” Akhirnya Luca mengalah.


“Jadi kapan?” Tanya Juan.


“Mungkin besok malem, sebelum itu kita masih butuh mereka lakuin satu hal lagi.”


“Apa?” Tanya Juan dan Elen bersamaan.


.


.


.


.


.


Hayukk dongg penuhi kolom komentar biar author semangat.