
1 minggu kemudian.
Cafe HY
Luca mau makan apa...ucap Luis yang hari itu mengunjungi calon menantunya plus rival caturnya
Luca, Dani & Sasa pun segera memesan tanpa basa basi.
Ca... loe pesen yang ini aja ya, ntar gue bagi dikit...ucap Dani seenaknya.
Luca hanya melirik sekilas lalu kembali perang mata dengan Luis yang jujur sedikit terintimidasi dengan calon menantu pilihannya itu.
Sasa & Dani?? sepasang anak manusia itu memang tidak punya kata "Peka" dalam kamus hidupnya hingga mereka tak sedikit pun terganggu dengan yang terjadi diantara calon mertua dengan calon menantu itu.
Gimana kabarnya nak.... tanya Luis
Om gak inget kalau aku hampir aja mati...sindir Luca
Kan belum mati... celetuk dani.
berisik....ucap Luca, Sasa reflex memukul tangan dani.
Luis tersenyum melihat calon menantu dan kedua sahabatnya itu.
Berapa??? tanya Luca
hemm??? sahut Luis heran
Dengan harga berapa om membeliku... tanya Luca
wui...beneran dijual loe... celetuk Sasa
Gak nyangka gue bonyok loe sebobrok itu moralnya...tambah Dani
hhhh.... Luis menghela nafas kasar, sepertinya ia memang harus menjelaskan duduk perkaranya pada Luca
Om tidak pernah membeli kamu, dan orang tua kamu juga tidak pernah menjual kamu Luca...ucap Luis, Luca masih diam mendengarkan.
Om yang minta pada kakek David untuk mengijinkan om untuk menjadikan kamu calon menatu om, calon istri dari Lingga putra semata wayang om...ucap Luis. Luca masih diam
Kamu kan tahu kalau om & tante begitu ingin punya anak perempuan, tapi tuhan hanya bersedia memberikan seorang putra dalam hidup kami. Tapi begitu melihat kamu, mengenal kamu sejak masih kecil membuat om begitu menyayangi kamu dan ingin kamu benar-benar menjadi putri om, apalagi saat om tahu keluarga kandungmu bahkan tak mengindahkan kehadiran kamu.... om benar-benar marah, bagaiman bisa mereka mengabaikan putri semanis kamu...jadi om bicara dengan istri om untuk menjadikan kamu menantu kami, istri om pun setuju saat tahu orang itu kamu, bocah SMA yang pernah menolongnya dari jambret....jelas Luis.
Yah kamu benar, tapi dengan sifat ayahmu, apa kamu fikir tidak bertunangan dengan Lingga, akan membuatmu tidak bertunangan dengan siapapun?!... tanya Luis
Tanpa perlu om jelaskan, kamu pasti sudah bisa melihat sebesar apa ambisi ayahmu hingga sudah entah berapa kali ke 5 kakakmu bertunangan bukan??, bahkan Anita terpaksa memutuskan hubungannya dengan kekasihnya bukan??...ucap Luis, membuata Luca dan Sasa melirik Dani.
Itu urusan orang dewasa, kalian gak perlu ngeliat gue dengan tatapan kasihan gitu, yang terluka itu bukan gue tapi mas dio sama mbak anita... lagian bukannya mereka juga udah sama-sama move on kan ya...ucap Dani cuek sambil mencomot makanan di piring Luca dan Sasa.
Luis terdiam, ia merasa tak enak, ia tidak tahu kalau kekasih yang terpaksa ditinggalkan anita adalah kakak dari dani, bocah SMA laki-laki yang saat ini makan siang semeja dengannya.
Jadi maksudnya, om ini sengaja tunangin Luca sama anak om itu, biar Luca gak jadi tumbal kan ya....tanya Sasa dengan bahasa yang seenaknya
Luis mengiyakan.
Yaudah sih Ca, terima aja, toh urusan nikah nanti boleh berubah kapan aja kan?!... ya kan om?.....ucap Dani
Itu benar, saat ini kalian hanya perlu bertunangan, yah walau pun sebenarnya om benar-benar ingin kamu jadi menantu om... ucap Luis sedih.
Tiba-tiba Luca kesal dan mengambil pisau di meja lalu menggoresnya tajam di piring hingga menguarkan suara yang menyakiti telinga...krrrikkkkkkkkkk..... sebagai bentuk protes Luca
Sontak para pengunjung lain menutup telinga mereka.
Luis pun dengan sigap mengambil pisau itu dari tangan Luca yang saat ini sedang menatapnya tajam.
Wah sarap ni anak, sakit tahu kuping gue....protes dani sambil mengusap kupingnya.
Awas loe ya, kalau gara-gara ini gue mesti transplantasi kuping...ucap sasa tak kalah kesal.
Om juga sih, ngapain sih mancing emosi orang... kan kita yang jadi korban...protes Dani
Sorry-sorry... ucap Luis si kepala mafia yang entah mengapa sepertinya tak pernah ada apa-apanya dimata ke tiga bocah SMA itu.
******
2 bulan kemudian
Tanpa sengaja Luca bertemu dengan Lingga di sebuah Cafe saat ia membeli Strawberry parfaitnya.
Betapa terkejutnya Lingga berpapasan dengan Luca saat ada seorang wanita cantik yang terus menempelinya bagai perangko.
Luca menatap Lingga yang kini berdiri dihadapannya dengan seorang wanita cantik nan sexy. Luca melihat tangan perempuan itu yang terus saja mendekap lengan Lingga seperti parasit, lalu Luca kembali menatap mata Lingga, dan Luca segera memberikan Smirk (Dasar om om girang... gumamnya kecil dan masih bisa didengar oleh Lingga) lalu berlalu begitu saja dari hadapan Lingga dan perempuan yang tak dikenalnya.