LUCA

LUCA
EPISODE 125



Waktu adalah penyembuh terbaik


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Mendengar kondisi Luca yang membaik, Gerald dan Galaxi segera pulang dari kantor untuk mengunjunginya. Akhirnya mereka bisa bernafas lega karena mereka sangat mencemaskan gadis kecil itu.


"Mau makan lagi?" Tanya Bram pada Luca, ia menyuapi putrinya dengan tangannya sendiri.


"Aku sudah kenyang." Tolak Luca. "Dimana Galang?" Tanya Luca pada Bram.


"Dia sedang di ruangan dokter." Jawabnya sembari meenaruh mangkuk di meja.


"Kapan papa pulang?"Tanya Luca lagi.


"Saat kamu masuk rumah sakit. Maaf, papa selama ini tidak pernah menghiraukanmu. Papa janji akan memperbaiki semua kesalahan yang selama ini papa buat." Bram tersenyum menatap Luca.


"Apa papa sadar karena aku hampir mati?"


"Tidak, sebelum itu papa sudah sadar, dan papa lebih sadar lagi sekarang."


"Luca." Panggil Galang yang masuk ke dalam ruangan.


"Ya?"


"Bram, bisa pergi? Gue mau ngomong sama Luca." Pinta Galang.


"Enak aja, aku baru bersama Luca kau saja sana yang keluar." Bram tidak mau pergi.


"Lo udah sama dia dari tadi, lo mau gak giliran?" Galang kesal.


"Terserah akulah, aku kan papanya."


"Gue pacarnya." Ucap Galang sinis.


"Masih pacar udah bangga." Seru Bram yang membuat galang semakin jengkel.


Luca melotot mendengar jawaban Galang, bisa-bisanya dia sesantai itu memberitahu hubungan mereka pada papanya.


"Keluaaarr." Galang menyeret Bram dari tempat duduk.


"Gak mau." Bram berpegangan pada tempat tidur Luca.


"Kalian apaan sih?" Luca menatap mereka berdua. "Kalian berdua keluar." Ucap Luca dengan tegas.


"Mana ada, gue belum sama lo dari pagi." Galang memelas.


"Papa masih kangen." Ujar Bram dengan tampang yang tak kalah jauh dari Galang.


"KE, LU, AR." Ucap Luca sekali lagi, mau tidak mau mereka mengitu perintah gadis itu dan langsung melangkah keluar dengan lesu.


"Lo sih gak mau gantian." Galang menyalahkan Bram.


"Dia marah karena kamu." Bram tidak terima.


Mereka berdua saling menatap sinis, membuat Gerald dan Galaxi heran.


"Kalian kenapa?" Tanya Galaxi.


"Dia." Mereka saling menunjuk satu sama lain.


"Kaak, dia mertua lo. Kalo gak di restuin gimana?" Tanya Gerald memperingatkan Galang.


"Nah bener tuh, awas ya kamu gak aku restuin." Bram langsung menyetujui perkataan Gerald.


"Terserah, gue culik aja dia terus kawin lari." Dengan santainya Galang menjawab hal itu.


Sementara di salam sana, Luca masih meerasa jengkel denganmereka.


"Dasar mereka berdua." Umpatnya kesal.


Luca diam, dia hanya melihat gadis itu tanpa ekdspresi apapun. Elen mendekat dan duduk di samping Luca.


"Udah meendingan?" Tanya Elen.


"Ya seperti yang lo liat." Jawabnya.


Gior sendiri merasa khawatir, mereka terlihat canggung sekarang. Bagiamanapun Luca masih tidak bisa menerima hatinya yang hancur karena kecewa, sementara di sisi lain Elen juga tidak bisa menanggung yang bukan kesalahannya.


"Maafin gue." Elen menangis.


"Bukan salah lo." Ucap Luca.


"Gue gak mau kehilangan lo."


"Tapi lo juga gak bakaln sanggup kehilangan Kanya."


Luca sudah berusaha mati-matian agar melupakan kejadian itu, sejak ia sadar ia masih terus mengingat penghiatan yang Kanya lakukan. Sekuat tenaga tidak ingin menangisi perempuan itu, tapi Elen datang seakan menghadirkan semua hal yang sudah Kanya lakukan padanya.


Gior keluar, dia memberikan waktu agar mereka berdua lebih leluasa berbicara.


"Dia mama kita."


"Cukup, pergilah." Luca mengusir Elen.


"Lo gak bisa kayak gini, lo gak bisa buang gue gitu aja. Lo harus lupain kejadian itu" Elen menggenggam tangan Luca, ia merasa sakit karen di perlakukan seperti ini.


"Terus gue harus apa? Gue harus benturin kepala gue biar gue bisa lupa sama dia?" Teriak Luca, ia sudah tidak tahan menahan sakit di dadanya.


"Bukan gitu, mama pasti berubah. Dia pasti sayang sama lo Luca, dia sayang kita."


"Lo tau kenapa gue lempar pistol ke dia, karena gue selalu berharap dia punya sedikit aja rasa sayang yang bisa menghentikannya. Sedikit aja rasa sayang yang bisa dia tunjukan ke gue, maka gue pasti lupain semua hal yang di lakukan. Tapi apa? Dia nemabak gue, dia mau bunuh gue Elen. Dan dengan bangganya dia bilang kalo dia gak sayang sama gue."


"Luca, tapi gue gak salah."


"Gue gak pernah nyalahin lo, tapi setiap gue liat lo. Gue masih selalu berharap kalo semua ini cuman mimpi."


"Gue sayang sama lo."


"Pergilah."


"Tapi Luu,,,"


"Cepat pergi." Teriak Luca sampai mereka yang berada di luar mendengar suaranya.


Elen bangkit, ia melangkah menjauh dari Luca.


"Tunggu." Luca menghentikan langkah Elen. "Jangan pernah muncul di depan gue." Ucapnya menutup pembicaraan mereka.


Elen berlari keluar dari sana, dia masih tidak bisa menreima semua ini. Ia akan keehilangan semuanya karena Kanya.


Air matanya jatuh saat Elen pergi, tidak ada alasan ia menahannya lagi sekarang. Gadis itu melirik pergelangan tangannya yang masih menggunakan gelang dari Kanya.


Dia langsung menarik selang infus di tangannya, melepas gelang itu dan melemparnya ke dinding sampai hacur berantakan.


"Aaaaaakkkhh."


Semua kenangan, semua harapannya sudah hancur. Pertemuannya dengan Elen dan perpisahan ini adalah luka yang sempurna, tawa mereka dan perdebatan konyol itu sudah tidak akan lagi mengganggunya.


"Kenapa harus gue?"


.


.


.


.Silahkan komen dan like