LUCA

LUCA
EPISODE 127



Bukan aku yang memilihmu, tapi hatiku.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah selama seminggu berada di dalam rumah sakit, akhirnya Luca di izinkan pulang.


"Sayang,, kata dokter sudah boleh pulang. Kita pulang ke rumah ya?" Tanya Bram pada Luca.


Luca melirik keempat omnya yang menatap dia terutama Galang.


"Gak bisa, Luca sama gue." Galang menolak.


"Dia anak gue, gue mau bawa pulang." Ujar Bram.


"Paaa, aku pulang sama mereka aja ya." Luca meminta izin.


"Kok gitu? Kamu udah gak mau tinggal sama papa?"


"Bukan gitu, papa tiap hari sibuk ngurus perusahaan. Papa juga sering keluar negri kan?"


"Iya tapi papa usahain biar gak sering keluar negri." Bram menatap Luca beraharap putrinya bersedia.


"Paaa, bukan masalah itu. Aku udah nyaman tinggal sama mereka, aku capek kalo harus pindah-pindah terus. Aku janji tiap hari pasti temuin papa kok." Luca menggenggam tangan Bram dan tersenyum tulus.


Sungguh, ia tidak mau jika harus berpindah tempat seperti yang ia lakukan selama ini. Biasanya Luca selalu pindah rumah, apartemen, sekolah, dan semua hal itu membuat dia tidak nyaman.


"Baiklah, papa bakal temuin kamu tiap hari." Bram mengusap kepala putrinya.


"Lo bisa tinggal di rumah gue, Lagian lo cuman beberapa hari di sini kan?" Tanya Galang sembari menawarkan.


"Yaa, aku setuju." Bram menerima tawaran Galang.


"Ya sudah, cepat ganti baju." Gerald memberikan baju ganti pada Luca.


Segera gadis itu pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


"Lo gak mau ketemu Helen?" Tanya Galang pada Bram.


"Aku ingin." Jawabnya.


"Dia gue tahan di kamar di rumah gue, lo bisa keetemu sesampainya di sana." Ucap galang memberitahu.


Setelah Luca keluar, mereka langsung pergi menaiki mobil dan menuju rumah besak keluarga Galang.


Di sana, sudah ada beberapa pelayan langsung menyambut kedatangan Luca yang berbaris rapi.


"Selamat datang kembali noona." Ucap mereka serentak.


Luca hanya tersenyum sembari terus melangkahkan kakinya melewati mereka.


"Mau makan?" Tanya Galang antusias.


"Ohh gitu ya."


"Kakak mendadak pikun." Ujar Gior.


"Gimana kalau mandi?" Galang mengabaikan perkataan Gior.


"Apa Sih Galang." Luca menatapnya sinis, ia malah mengatakan itu tanpa rasa malu.


"Lo kan masih sakit, pasti susah mandinya. Gue bantuin ya?" Galang tersenyum lebar menawarkan diri.


"Heeeh, enak aja lo ngomong gitu sama anak gue." Bram menarik telinga Galang.


"Aaauu, gue kan mau cuma mau bantuin."


Luca memutar bola matanya dan melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka.


"Tunggu." Galang menepis tangan Bram di telinganya dan menarik tangan Luca. "Apa gue harus gendong lo? Lo gak boleh jalan terlalu jauh." Galang langsung menggendong tubuh Luca meski tanpa persetujuan.


"Galang, gue bisa jalan sendiri." Luca berusaha turun.


"Gak boleh, gimana kalo nanti lo sakit?" Ucap galang sembari terus menggendongnya menaiki tangga.


"Ihhh lebay banget sih." Luca merengut kesal.


"Beginilah kita setiap hari." Ujar Gerald menatap kedua kekasih itu.


"Yaa, kita selalu ngontrak di rumah ini makanya mereka seenaknya." Imbuh Galaxi menyetujui kakaknya.


"Dan sekarang aku harus melihat sahabat dan putriku begini?" Bram menepuk dahinya frustasi.


Gior menepuk bahu Bram agar ia leebih meneerima kenyataan.


"Ini belum apa-apa, lo harus lebih kuat menjadi nyamuk meereka." Ujar Gior pada Bram.


Mereka langsung bubar ke kamar masing-masing, tapi Bram mengingat bahwa ia harus menemui Helen.


.


.


.


.


Silahkan komen untuk mengapresiasi kebucinan mereka.


like juga jangan lupa.