LUCA

LUCA
Maaf



Setelah lelah berjalan, akhirnya Luca pun beristirahat di salah satu tangga di pintu masuk museum. Luca memijat betis dan telapak kakinya.


Hingga tiba-tiba luca cahaya senja yang menyinarinya tiba-tiba tertutupi bayangan. Luca melihat sepasang sepatu laki-laki dihadapannya, Ia pun mendongak untuk melihat manusia tak sopan mana yang berani mengusik cahaya senja yang menyinarinya.


Bagai Bias, wajah seorang pria yang berdiri tegak dihadapannya tampak tak jelas hingga suara yang sangat ia kenal membuyarkan keterpakuannya.


Luca... hhh... kenapa kamu selalu saja membuatku khawatir...ucap sosok yang suaranya sangat Luca kenal.


Sosok itu pun kini semakin mendekat dan sudah duduk tepat 1 anak tangga dibawah luca. Pria itu melihat tangan Luca yang masih memegang betisnya.


hhhh... pri itu menghela nafasnya berat, ia pun meraih kaki jenjang Luca dan segera memijatnya dengan telaten.


Ya pria itu adalah Lingga Kendrick.


Kenapa bisa disini... tanya Luca


Ada pekerjaan disini, bukankah rapat kita semalam masih tertunda karna kesalahanku... bohongnya tanpa mau melihat kearah Luca, takut Luca mengetahui kebohongannya, namun sayang luca tak mempercayainya. Gadis itu menaikkan salah satu alisnya.


Merasa Luca diam, Lingga pun menoleh, hhhh...Lingga kembali menghela nafasnya, ia tahu tidak akan pernah bisa membohongi tunangan kecilnya itu.


Aku dengar kamu pergi sendirian, jadi aku menyusul...ucap Lingga jujur, tapi karna tak mendapat respon, Lingga pun gemas.


Lagian kamu tuh ya, ini tuh negera asing, gak semua orang baik disini, kalau kamu nyasar, atau terjadi apa-apa sama kamu gimana luca??...aku bisa gila kalau terjadi apa-apa sama kamu...omel Lingga untuk pertama kalinya.


Luca hanya diam, Lingga pun kesal ia benar-benar khawatir namun Luca hanya diam melihatnya.


Lalu Lingga pun bangkit hendak pergi. baru 3 langkah menjauh tiba-tiba kepalanya sudah tertimpuk Sepatu. Langkah Lingga terhenti, ia memungut sepatu nyasar yang sepertinya ia kenal, Lingga pun menoleh. Luca sedang menatapnya tajam.


Lingga masih berdiri ditempatnya, mereka saling menatap.


Aku Lapar...ucap Luca datar namun dengan wajah kesal.


Ya Luca kesal, ia benci Lingga memperhatikannya. Ia benci Lingga memperlakukannya istimewa, Luca ..ia takut, ia takut terbiasa dengan segala perhatian dan kebaikan Lingga, Ia takut saat ia mulai terbiasa dan kemudian mulai bergantung padanya tiba-tiba Lingga berubah dan meninggalkannya.


Bagi Luca, Luka yang ia peroleh atas ketidak perdulian dan pengabaian dari keluarganya itu sudah lebih dari cukup, ia tak ingin menambah luca lain dengan terbiasa bergantung pada orang lain dan ketika orang itu meninggalkannya, maka hanya ada Luka yang tersisah.


Lingga pun menghampiri Luca, ia pun memakai kamera di lehernya, lalu berbalik membelakangi Luca, Luca pun naik dipunggung lingga tanpa diminta. Kemudian Lingga memungut sebelah sepatu luca yang lain. Luca mengalungkan erat tangannya di leher Lingga.


Tak lama mereka tiba di restoran terdekat, Luca dan Lingga memesan makanan, selagi menunggu, Lingga membawa kaki luca pangkuannya dan memijatnya lagi. Hening. luca hanya memperhatikan setiap gerakan Lingga. Hingga perhatiannya teralihkan pada pemandangan Matahari terbenam di negri terdingin kedua itu.


Cantik...gumam Luca, Lingga mendongak dan menatap Luca.


Mm..Cantik...ucap Lingga menatap Luca. Luca menoleh mereka saling pandang. Lingga berdehem dan menoleh ikut menatap Matahari terbenam, tiba-tiba luca mengambil kameranya dan ckrik ia mengambil Photo Lingga. Luca menyunggingkan senyumnya tipis lalu mengambil photo matahari terbenam lainnya saat Lingga tiba-tiba menoleh kearahnya.


Lingga tak bertanya ia kembali memijat betis luca. tak lama makan tiba, Lingga menuju toilet bergantian dengan Luca untuk mencuci tangan. Lalu mereka pun makan malam bersama.


Saat memutuskan akan pulang, tiba-tiba mereka mendapat pemberitahuan kalau jalan ditutup karna tiba-tiba ada badai salju menerpa.


Lingga dan Luca saling berpandangan, Lingga tak ingin Luca salah paham, namun sebelum bisa bicara Luca sudah menarik Lingga ke penginapan/hotel terdekat. Karna badai, hotel dan penginapan pun full booking hingga hanya ada satu kamar saja, Luca tak membutuhkan ijin Lingga, ia segera mengambil kamar itu dan membawa lingga menuju kamar itu. selama di lift Lingga dan Luca hanya diam.


Sesampainya dikamar hotel.


L.umayan...gumam luca


Luca...aku...ucap Lingga tertahan


Diluar Badai, jangan bilang kau ingin membawaku menerpa badai hanya agar aku tak salah paham ..ucap Luca


Tapi... ucap Lingga


Atau jangan-jangan selama ini kau memakai Hotel untuk hal lain?!...ucap Luca mengintimidasi.


Tidak tentu saja tidak, tentu saja hanya untuk istirahat tidak lebih... ucap Lingga gelagapan


hhh.... aku mandi duluan, maaf apa kau bisa tanyakan apa mereka menyediakan pakaian ganti, aku tidak mungkin tidur dengan baju ini....ucap Luca


mmm..angguk Lingga


Minta juga baju ganti untukmu... ucap luca lalu masuk kekamar mandi tanpa menoleh lagi.


Lingga tersenyum tipis lalu ia pun menghubungi pihak hotel.


30 menit kemudian Luca keluar, dan pakaian ganti sudah diatas tempat tidur. 5 menit kemudian Luca keluar lagi kamar mandi setelah berpakaian.


Mandilah...ucap Luca, lingga pun menurut dan membawa pakaian ganti bersamanya ke kamar mandi.


20 menit kemudian, Lingga keluar, ia melihat luca sibuk dengan laptopnya dan rambut luca masih basah.


hhh.. lingga menghela nafasnya, lalu ia mengambil handuk kecil dan membantu luca mengeringkan rambutnya, Luca terdiam namun ia membiarkan Lingga membantunya mengeringkan rambutnya


Apa ini.... kenapa dadaku terasa seperti diremas.... batin luca.


*****


Luca naik ke tempat tidur, lalu membaringkan dirinya.


Kenapa masih disana, kau gak mau tidur,... tanya Luca pada Lingga yang masih tak bergeming dari sofa


Aku disini saja....tolak lingga


Dan membuatku besok harus memapah-mu karna badanmu yang sakit!?!... ucap luca


aku.... ucap Lingga


Jangan buat aku bertanya dua kali Lingga Kendrick....


ucap Luca sedikit kesal, jujur Luca sudah sangat lelah dan ia bukan manusia tanpa hati yang membiarkan. orang yang sudah seharian menemaninya itu tidak bisa tidur dengan tenang.


Lingga pun naik ketempat tidur. Lingga heran dengan dirinya, rasanya dia bagai anak perawan yang sedang ketakutan.


Tidurlah, kamu pasti capek, bukankah begitu sampai kau langsung mencariku, seharian menggendongku kesana kemari... istirahatlah... ucap Luca sambil membelakangi Lingga


Kamu gak takut aku melakukan sesuatu padamu... tanya Lingga


Jika kau ingin, bukankah kau sudah melakukannya sejak dulu?? ucap Luca


Tidurlah..ucap Luca


Lingga tersenyum tipis. ia pun berbaring sambil melihat punggung kecil Luca, tak ingin terpancing Lingga pun membalikan badannya dan membelakangi Luca


Lingga terdiam saat merasa ada gerakan, Luca berbalik dan menghadap kearah Lingga yang membelakanginya, lalu tiba-tiba Lingga merasakan. tangan kecil menggenggam erat belakang bajunya. Luca menyandarkan Kepalanya dipunggung Lingga


Maaf, sudah membuatmu khawatir.... lirih Luca yang masih terdengar jelas. Lingga terdiam, jantungnya marathon, ada senyum manis di bibirnya saat mendengar tunangannya itu meminta maaf padanya.


Ia membiarkan luca tetap seperti itu hingga ia mendengar suara deru nafas teratur dari Luca, menandakan gadis itu benar-benar sudah terlelap. Lingga perlahan berbalik, ia membawa gadis dalam dekapannya. bukan terbangun, gadis dingin itu justru semakin masuk kedalam pelukan Lingga mencari kenyamanan.