LUCA

LUCA
EPISODE 116



Seseorang yang lebih dekat akan mudah menghancurkan


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Sial gue ketiduran lagi." Elen menggaruk kepalanya, ia malah tertiur di tempat yang pengap seperti itu.


"Duhh kalo keluar terus ada yang liat gimana?" Sekarang dia malah bingung cara keluar dari sana. "Gak bisa, gue harus berguna kali ini." Putusnya pada dirinya sendiri.


Elen mengangkat sedikit dan melihat di sekitarnya, ia turrun perlahan tanpa membuat suara. "Untung bagsinya gak di kunci." Serunya setelah berhasil keluar.


"Dengar kita harus memperketat penjagaan, Galang bisa saja langsung menemukan tempat ini." Seru seseorang yang berjalan mendekat.


Elen langsung bersembunyi di samping mobil itu, ia benar takut ketahuan dan malah menambah masalah.


"Apa kau tidak mendengar suara jeritan perempuan?" Tanya lelaki itu pad teman di sampingnya.


"Di mana? Aku gak dengar." Jawab satunya.


"Aku tadi dengar tapi agak gak jelas gitu."


Elen segera menutup mulutnya, ia akan ketahuan jika mereka mengitari mobil ini. Bodohnya dia marah menjerit karena kaget tadi.


"Kita perikasa aja." Ajaknya.


"Sssst gue tau caranya." Bisik lelaki berkepala pelontos itu.


Dia memberi isyarat agar mengintip dari bawah mobil, dan mereka berdua langsung mengintip bersama.


"Gak ada siapapun." Ujarnya pada lelaki berkepala pelontos.


"Yaudah jalan lagi, perasaan gue aja kali." Mereka berdua pergi dari sana.


"Huuufftt untung gue pinter." Seru Elen yang menaikkan kakinya ke mobil agar tidak terlihat oleh mereka.


"Ini di mana sih? Apa Luca di dalam sana?" Elen memeriksa keadaan di sekitarnya dan melangkah masuk.


"Banyak banget penjaganya." Seru Elen mengintip ke dalam bangunan tua yang menyeramkan.


"Ini Bak minah ke mana kenapa belum antar makanan." Ujar penjaga yang sudah mulai kelaparan.


Elen menatap sosok perempuan dari kejauhan, ia melihat perempuan itu tengah menenteng makanan. "Pasti dia orangnya." Elen segara pergi menghampirinya.


"Bak minah kan?" Tanya Elen menyeret perempuan itu mejauh dari pandangan mereka.


"Kamu siapa ya?" Tanya perempuan itu tidak mengenal Elen.


"Ohhh saya adiknya boss di sini. Kamu mau ngater makanan kan? Biar saya yang bawa aja soalnya mereka udah kelaperan." Elen menarik kantong pelasti yang di pegang perempuan itu.


"Tapi kata tuan hanya saya yang boleh mengantar." Tolak Minah.


"Ya sudah kamu saja yang bawa, saya gak mau ikut campur ngeri." Perempuan itu langsung memberikan makanan pada Elen dan pergi.


"Untuk dia penakut." Elen tersenyum puas dan memakai masker takut jika seseorang mengenalinya nanti.


"Ini makanannya." Elen memberikan makanan itu.


"Siapa kamu?"


"Saya anaknya buk Minah, dia sakit makanya saya yang anter." Ujar Elen berbohong.


"Ohh ya sudah sana pergi." Penjaga itu langsung mengusir setelah mendapatkan makanannya.


"Uangnya belum bayar kata ibuk." Ucap Elen.


"Sana ke dalam, minta sama bos sendiri. Kita udah lapar mau makan." Serunya.


Dengan senang hati Elen langsung masuk ke dalam sana, tapi ia harus berhati-hati jika sampai kethuan, habis dirinya.


"Dimana mereka naruh Luca?" Elen memeriksa satu persatu ruangan yang ada di sana, terlalu banyak ruanagan membuatnya bingung.


"Tunggu, dia itu kan Stefan?" Elen melotot tidak percaya, sesorang yang ia lihat adalah lelaki yang selalu ia jodohkan dengan Luca.


"Tapi dia ngomong sama siapa?" Elen hanya melihat dari samping sosok perempuan yang memakai jaket dan selendang sebagai penutup kepala dan wajahanya.


"Cepat ke sana." Sesorang datang dan membuat Elen terkejut, ia langsung masuk ke dalam ruangan untuk bersembunyi.


"Aduh, gimana caranya nemuin Luca." Elen mulai frustasi, sementara ia berulangkali mengecek hp dan tetap tidak ada sinyal.


"Dasar Stefan brengsek, sialan dia nipu gue selama ini." Umpatnya kesal karena ia begitu percaya pad lelaki yang terlihat baik di matanya.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira bisa gak ya Elen sampai ke Luca atau malah ketahuan?


yuk komen kalian dan likenya