
Seseorang yang di kirim untuk datang.
๐น๐น๐น๐น๐น
"Selamat pagi anak-anak." Sapa guru laki-laki yang berdiri di depan kelas.
"Pagi pak." Jawab mereka serentak.
"Hari ini, ada murid kelas sebelah yang akan pindah ke kelas ini. Silahkan masuk." Ucap guru itu pada seseorang yang menunggu di luar.
"Hayy, nama gue Stefan." Stefan memperkenalkan dirinya.
Semua siswi di kelas itu merasa bahagia, ia tidak menyangka Stefan pindah jurusan dan satu kelas dengan mereka.
"Luca, si Stefan satu kelas sama kita." Ucap Elen menggoyangkan tubuh Luca.
"Hmmm." Jawabnya malas tidak tertarik.
"Stefan, silahkan duduk." Ucap guru itu pada Stefan.
Sesuai perintah, Stefan duduk di bangku kosong di belakang Luca.
Hp Luca bergetar, ia meraihnya untuk tau siapa yang mengirim pesan.
โค
Gak usah genit sama cowok lain.
Luca sempat bingung nommer siapa itu, tapi dia kemudian mengingat bahwa Galang yang mengubah nama ni hpnya.
Gue lagi masuk kelas. Balasnya pada lelaki itu.
โค
Gue tau cowok ingusan itu pindah kelas, awas kalau macam-macam.
Luca melirik di sekitar tempat duduknya, apa mungkin Galang sedang mengirim mata-mata di kelas ini?
"Dia emang kayak bocah." Gerutunya.
Sementara di sisi lain, Galang sedang memantau dari layar laptopnya. Ia tersenyum karena berhasil memantau semua gerakan gadis itu, dia akan menghukumnya jika berani mendekati lelaki tengik itu.
"Kak, apa perlu segitunya?" Gerald memperhatikan Galang yang sedang tersenyum seperti memantau kucing kecil.
"Diamlah, ini demi keamanan gadis itu." Jawab Galang.
"Bilang aja takut di ambil orang." Seru Galaxi.
"Heh, siapa yang menyuruh bersantai. Cepat kerja." Bentak Galang kepada adiknya, ia tidak perduli pada mereka, yang penting sekarang tidak ada yang bisa mendekati Luca.
"Gimana dia bisa kerja kalau melihat Luca terus." Bisik Galaxi pada Gerald.
"Sudahlah, namanya juga orang tua baru jatuh cinta." Mereka tertawa melirik Galang.
"Hey kalian kenapa tertawa?" Galang melotot ke arah mereka.
"Gak ada, kita lagi bahas dokumen." Jawab Galaxi.
"Tingginya 172, muka pas-pasan, dan dari keluarga yang lumayan kaya. Cihhh, apa hebatnya dia? Gue bahkan orang nomer satu di negara ini, perempuan mana yang akan menolak pesona lelaki seperti gue." Galang mencermati laporan penyelidikan stefan.
"Kak, bisakah berhenti? Gue udah mau muntah dari tadi." Galaxi tidak bisa fokus karena ocehan Galang sejak tadi.
Galaxi menepuk dahinya, ia benar-benar sudah tidak di anggap adik oleh kakaknya sendiri.
"Tuan, ada rapat jam 3 hari ini seperti yang sudah saya jelaskan kemarin." Sekretaris sialan itu datang menghampiri Galang.
"Gerald, lo yang pergi. Gue mau jemput Luca." Ucap Galang menunjuk Gerald.
"Tapi tuan, Presedir mereka menginginkan tuan turun tangan sendiri." Ucap perempuan itu.
"Gue gak perduli, kalo mereka keberatan, putuskan saja kontrak dengan mereka." Jawab Galang dengan enteng.
Perempuan itu tidak bisa berkutik lagi, ia sudah kehilangan kesempatan pergi dengan Galang. Dengan terpaksa ia harus pergi dengan Gerald dan segera pergi dari ruangan itu.
"Apa kakak sudah sebucin itu?" Gior tiba-tiba nongol dari balik pintu.
Gerald dan Galaxi hanya mengangkat bahu, ia juga tidak tau kakaknya se posesif itu sekarang.
"Kak, gue ikut ya." Pinta Gior.
"Lo mau ganggu gue?" Galang mengangkat sebelah alisnya.
"Nggak, gue mau ketemu orang lain." Jawab Gior sedikit ragu.
"Ohh oke, ayo." Mereka berdua beangkat untuk menjemput Luca.
"Sepertinya ada dua bucin di sini." Galaxi menatap Gerald.
"Biarlah, yang penting mereka senang."
"Apa kakak akan selamanya menjadi perjaka tua?" Tanya Galaxi.
"Apa lo bilang?"
"Hehehhe, harusnya kakak juga mencari pacar." Galaxi menyengir.
"Gue males, perempuan sangat merepotkan." Ujar Gerald." Bukannya lo juga perjaka tua?"
"Kata siapa? Bentar lagi gue bakal punya pacar." Ucap Galaxi dengan bangga.
"Gue gak percaya."
"Gue gak perduli."
.
.
.
.
.
.
Oke, sekarang kalian wajib komen gak mau tau๐
likenya harus makin banyak.