LUCA

LUCA
EPISODE 124



Kita adalah semua hal yang terbentuk


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Hayy."


Luca menatap sosok yang duduk ditepi danau dengan baju putih yang sangat indah, ia mendekati sosok itu perlahan.


"Mama." Luca langsung tersenyum berlari menghapiri ibunya, ia masih terlihat cantik seperti 10 tahun yang lalu.


"Mama kangen sama Luca." Katrina memeluk anak gadisnya.


"Luca lebih kangen mama, Luca kangen banget sama mama." Ucapnya sembari terisak.


"Hey jangan nangis lagi, kan udah ketemu mama." Katrina melepas pelukannya dan menghapus air mata Luca. "Maafin mama ya karena udah pernah bentak kamu, seharusnya mama gak pernah ninggalin kamu sendirian."


"Gapapa .kok maa, kan sekarang kita udah bisa bareng lagi." Luca terseenyum menatap wajah ibunya.


"Iya sayang, Luca makin cantik ya."


"Maaa ini mimpi ya?" Tanya Luca menatap pemandangan di sekitarnya yang begitu indah.


"Bukan, ini nyata."


"Berarti Luca udah mati? Luca udah bisa sama mama terus?" Tanya Luca yang kegirangan.


"Nggak dong, Luca belum waktunya buat kamu."


"kok gitu?" Luca merasa kecewa. "Luca mau ikut mama aja."


"Sayang, kalo udah waktunya kita pasti bisa kumpul lagi. Kamu mau ninggalin papa sendirian?"


"Biarin aja, yang penting aku bisa sama mama." Acuhnya memalingkan wajah.


"Kamu inget gak dulu marah sama mama karena kita pergi tanpa papa?" Tanya Katrina, dan Luca hanya mengangguk.


"Papa masih butuh Luca di sana, dan gimana sama Galang? Kamu tega ninggalin dia sama sahabat dan om kamu yang lain?"


"Tapi di sana gak enak ma, manusia itu penuh drama dan rakus." Jelas Luca.


"Sayang tidak semua manusia seperti itu, justru itu kamu harus melindungi papa yang mudah tertipu itu." Katrina membelai Luca.


"Inget kan apa permohonan kamu waktu itu?"


Luca kembali mengingat momen saat dia melihat bintang jatuh bersama Galang.


Saat itu juga ia membuka matanya dan melihat Bram yang sedan mencium keningnya dan tangannya yang di genggam Galang.


"Luca, kamu udah sadar?" Bram memancarkan binar di matanya meski ada setitik air mata.


"Luca." Galang langsung berdiri melihat wajah Luca.


Luca masih merasa pusing dan sedikit bingung dengan situasinya.


Gerald langsung menekan bel agar dokter menghampiri ruangan Luca.


"Akhirnya kamu sudah sadar setelah tiga hari." Bram tersenyum cerah memandang Luca.


Luca masih tidak bisa berkata-kata, ia benar-benar melihat Bram yang saat ini berada di sampingnya. Juga Galang yang tidak melepas genggamannya sedeetikpun.


"Paaaa." Panggil Luca dengan tersenyum melihat itu bukan mimpi.


"Saya cek dulu ya pak, kalian bisa keluar sebentar." Dokter datang dan meminta mereka menunggu di luar.


Dengan segera mereka meninggalkan ruangan, akhirnya rasa lelah dan cemas mereka berakhir.


"Galang, dia tadi memanggilku." Bram memeluk Galang saking senangnya.


"Lo harus jadi ayah yang baik sekarang." Ujar Galang menepuk punggung Bram.


"Tentu, aku akan sangat membuatnya bahagia." Ujarnya melepas pelukan itu.


Gior mengirimkan pesan pada Elen bahwa Luca sudah sadar, betapa bahagianya dia mendengar kabar ini. Akhirnya ia bisa melihat gadis itu lagi, Ia harus segera pulang dari sekolah dan menemui Luca.


Tapi di satu sisi hatinya masih merasa sedih, sebab Kanya sudah tidak lagi di sampingnya. Ia menjalani hari tanpa ibunya sekarang. Sebenarnya ia sangat ingin menemui Kanya, tapi ia takut akan meemperburuk keadaan sebab Luca beelum juga sadar.


Mungkin setelah Luca membaik, ia bisa memohon pada Galang agar bisa bertemu dengan ibunya.


.


.


.


.


Luca gak jadi mati kok. Jadi kalian harus komen dan like yang banyak.