
Rumah adalah tempat untuk pulang, bukan hanya berteduh.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
"Ajak tante Shina ke kamar lo, Luca masih tidur." Ucapnya kepada Helen, kemudian Galang pergi ke kamar Luca.
"Mama, mau jenguk Luca." Ucap Shina memaksa.
"Maaa, Galang kan udah bilang mama istirahat dulu. Mama mau di usir dari sini?" Jawab Helen memberi penjelasan. Dengan berat hati Shina mengikuti perkataan putrinya, ia pergi ke kamar Helen.
Galang membelai rambut Luca, gadis itu masih belum sadar juga.
"Galang." Panggil Luca dengan tenggorokannya yang terasa kering.
"Ini minum dulu." Galang memberikan segelas air putih dan membantu gadis itu minum.
Sekelebat ingatannya sebelum pingsan kembali lagi, perkataan mereka terdengar jelas di kepalanya.
"Galang, dia bunuh mama." Luca langsung melepas gelas di tangannya dan menangis, unntuk saja Galang dengan sigap memegangi gelas itu dan menaruhnya.
"Tenanglah, ceritakan secara perlahan." Galang memeluk Luca, ia membelai lembut rambut gadis itu.
"Mereka bilang hiks hiks, boss mereka yang bunuh mama." Luca membenamkan wajah ke dalam dada Galang, tangannya bahkan bergetar saat menggenggam kuat kemeja Galang.
"Luca, percayalah gue pasti bisa nangkap mereka." Galang mengecup lembut dahi Luca.
"Tapi mereka yang bunuh mama, kenapa mereka bunuh mama." Isakan Luca semakin terdengar jelas di telinga Galang, gadis itu merasa sesak dan perih di seluruh dadanya.
Apa salah dirinya? Selama ini dia tidak pernah menggangu orang lain, dan mamanya bukan wanita yang suka mencari masalah. Kenapa ia harus menghadi semua masalah ini, kenapa dia membuat Luca kehilangan sosok ibu di dalam hidupnya?
"Lihatlah lo udah meresa sesak, tarik nafas perlahan." Galang melepas pelukannya dan dan menyentuh wajah Luca. "Lo sayang sama gue kan? lo mau balas mereka kan? Lo harus kuat."
"Tapi kenapa bunuh mama, kenapa mereka juga masih mengejar gue? Kenapa mereka pisahin mama sama gue?" Luca tidak bisa menghentikan tangisnya, ia tidak bisa berhenti mengingat betapa ia merindukan sang ibu.
"Ini salah gue, kalo gue gak ninggalin mama, mama pasti masih hidup kan Lang?" Luca menarik kemeja Galang, ia merasa sangat kesal, ia merasa dirinya tidak berguna.
"Luca dengar, mati itu ketentuan tuhan. Lo gak bisa ngembaliin mama lo meskipun nangis seharian." Ucapnya pada Luca. " Tapi lo bisa balas orang yang udah bikin lo menderita." Imbuhnya lagi menghapus air mata Luca.
"Air mata lo lebih berharga, lo gak boleh nangis lagi." Galang mengecup kedua mata Luca saat gadis itu memejamkan matanya. Melihat dia yang sperti ini, itu membuatnya merasakan sakit.
"Jangan tinggalin gue." Luca memeluk Galang, ia beusaha menghentikan air matanya, dia harus fokus dalam menyelesaikan masalah ini.
"Luca." Sapa Shina yang membuka pintu kamar.
Luca tetap tidak melepas pelukan Galang, untunglah dia sudah berhenti menangis.
"Kau sakit apa? cucuku sayang." Shina melepas paksa pelukan mereka dan duduk di dekat Luca.
"Mau apa Lo?" Tanya Luca.
"Nenek hanya khawatir." Shina memberikan senyum palsu.
"Kau tidak boleh seperti itu, bagaimanapun kita akan menjadi keluarga." Shina berusaha menyentuh Luca namun Luca menepisnya.
"Gue keluar dulu." Ucap Galang beranjak dari sana.
"Luca kenapa kau sakit, apa terjadi sesuatu?" Tanya Shina lagi.
"Apa lo ngarep terjadi sesuatu sama gue?" Luca melempar balik peertanyaan Shina.
"Eh bukan begitu, biasanya kau tidak pernah sakit. Aku hanya merasa khawatir."
"Gak usah pura-pura, udah gak ada Galang kok."
"Bukannya kamu masih sangat muda, kenapa sangat terburu-buru mengambil alih semua saham."
"Ohhh, lo bersikap baik karena khawatir gak dapet transferan ya?" Luca mendekati Shina.
"Mana mungkin, aku hanya tidak ingin kau merasa tertekan dengan tugas yang banyak nantinya."
"Kenapa panik? Tenang saja, gue bukan perempuan lemah, dan gue juga bisa langsung nyingkirin musuh gue secepatnya." Luca menyentuh wajah Shina dengan senyum smirknya.
"Aku akan pergi ke bawah, aku sedikit lapar." Shina tersenyum dan meninggalkan Luca sendirian.
"Sial, gadis itu malah menakuti ku." Rutuk Shina saat berjalan menjauh dari kamar Luca.
"Takut pada siapa?" Tanya Galang yang berada di depan kamarnya.
"Tidak ada, aku mengatakan aku ingin menginap di sini semalam. Apa boleh?" Tanya Shina berharap.
"Tentu, tidurlah di kamar yang kosong." Galang berjalan melewati Shina.
"Kita lihat apa yang akan dia lakukan." Gumam Galang berbalik memandang punggung nenek tua itu.
.
.
.
.
.
.
.
Ayo silahkan mungkin ada juga yang mau merutuki si nenek tua... bebas komen tanpa bayar...
likenya wajib๐