
Masa lalu yang menyakitkan dan menjatuhkan.
🌹🌹🌹🌹❤
"Mas, kenapa kau berubah sejak ada sekretaris itu."
"Berhenti menyalahkannya Katrina." Bram membentak peerempuan itu yang sudah menangis.
"Tapi kamu sudah melupakan aku dan Luca mas, kau malah sibuk dengan sekretaris sialan itu." Katirna tidak bisa mengehentikan ocehan itu.
"Aku dan Helen sama sekali tidak memiliki hubungan apapun."
"Benarkah? Lalu untuk apa kalian berpelukan di dalam ruanganmu?" Katrina menyeringai .
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bodoh mas, kau pikir aku tidak tau kelakuanmu selama ini? Aku diam karena aku pikir kau akan berubah."
Luca mengintip di sela-sela pintu melihat peerdebataan orang tuanya, di umurnya yang masih 10 ia selalu mendengar pentengkaran mereka setiap hari. Hatinya merasa perih ketika melihat mereka yang biasanya berpelukan dan tersenyum hangat, kini berubah menjadi pertengkaran dan saling menyalahkan.
"Tutup mulutmu, aku sama sekali tidak pernah berkhianat."
"Aku minta cerai." Ujar Katrina dengan tegas.
Pllaaaakkkk.
Satu tamparan berhasil lolos dari tangan Bram pada wajah mulus istrinya.
"Hanya karena perempuan murahan itu kau berani menamparku."
"Ini juga salahmu."
Luca menangis dengan keras melihat ibunya di tampar, ia sama sekali tidak mengira bahwa ayahnya akan melakukan hal ini.
"Luca sayang, kenapa kau belum tidur." Bram menggendong Luca dan memeluknya.
"Papa jahat." Ujar Luca memukul tubuh ayahnya.
Katrina mengambil Luca dengan paksa." Jangan pernah menyentuh putriku." Kemudian dia pergi ke kamar Luca untuk menenangkannya.
"Sayang sudah jangan nangis, putri cantik tidak boleh menangis." Ujar Katrina membujuk Luca.
"Kenapa kalian selalu bertengkar?" Tanya Luca di sela tangisnya.
"Ini masalah orang dewasa sayang, Luca tidak akan mengerti." Katrina membelai lembut rambut Luca.
"Apa orang dewasa selalu bertengkar? Aku tidak mau menjadi dewasa, kalian menyebalkan."
"Kau benar, orang dewasa selalu menyebalkan. Jadi, ketika kau dewasa kau harus menjadi perempuan yang kuat, kau harus bisa mengalahkan musuhmu. Kau tidak mau menjadi seperti mama bukan?"
Luca mengangguk, ia tidak mau menjadi seperti ibunya yang selalu diam ketika di marahi Bram atau akan selalu bertengkar dengan ayahnya.
"Kalau begitu kau harus berjanji." Katrina mengulurkan jari kelingkingnya.
"Maa, apa mama bertengakar karena tante itu?" Tanya Luca lagi.
"Sayang, setelah meenjadi dewasa akan ada banyak orang yang tidak menyukaimu. Tapi mama punya Luca, jadi mama tidak takut."
"Kalau begitu, biarkan aku melindungi mama." Luca memeluk tubuh perempuan itu, ia mengehentikan tangisnya.
"Apa kau menyayangi mama?"
"Aku sangat sayang mama."
"Kalau mama pergi, Luca mau ikut?" Katrina menanyakan hal itu karena ia benar-benar ingin berpisah dari Bram.
"Tentu, kita akan pergi bersama. Papa pasti minta maaf kok ma, nanti kita ajak papa juga ya." Luca yang polos itu masih tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau perginya berdua aja gimana?"
"Papa sibuk ya ma? Papa gak bisa pergi sama kita?" Luca merasa sedih karena beberapa bulan ini Bram sudah tidak bisa menemaninya lagi.
"Kamu tidur dulu ya, besok harus sekolah." Katrina mengehentikan pembicaraan itu dan mengajak Luca tidur.
Air matanya mengalir saat Luca sudah terlelap, ia sungguh tidak mau jika putrinya kehilangan seorang ayah nantinya. Tapi satu sisi dia sudah tidak bisa memepertahankan rumah tangganya dengan pengkhianatan.
Entah kenapa keluarga hangat berubah menjadi sepeti ini, sisi hangat suaminya sudah di ambil oleh perempuan lain. Apa ia harus berpisah dan mengorbankan putrinya, atau ia harus bertahan demi putrinya dan mengorbankan perasaanya?
"Sayang berjanjilah pada mama kau akan menjadi wanita kuat." Katrina mencium kening putrinya.
"Maa, apa Luca sudah tumbuh dengan baik? Luca tidak bisa menjadi kuat, Luca kangen mama."Luca segera menyadarkan dirinya dari kenangan pilu itu.
Luca duduk di balkon kamarnya sembari menatap langit, ia begitu mengingat bagaimana dia tumbuh dengan sendirinya. Saat pergi sekolah dan di rumah, ia tidak memiliki siapapun di sampingnya termasuk Bram.
Ia tidak bisa membuang ingatan itu meski sudah bertahun-tahun, ia bukan hanya kehilangan sosok ibu, tapi juga kehilangan cinta Bram. Lelaki itu hanya akan menyediakan uang untuknya tanpa kasih sayang.
.
.
.
.
.
.
Wahai para readers yang budiman, mana komentar kalian?
mana like kalian?
Mohon untuk jangan lupa, author sudah rajin up tiap hari😪