
Dalam sebuah cinta, kamu adalah segalanya.
~Galang.
🌹🌹🌹🌹
Hari ini suasana hati Luca sangatlah baik, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hari ini semua salah paham dirinya dan Galang sudah terselesaikan, dan kemarin lelaki itu sudah berjanji untuk tidak mengulanginya.
Galang berjanji akan jujur dalam hal apapun dan mendiskusikan segala keputusannya dengan Luca. Selama ini ia terbiasa menyelesaikan segalanya urusannya sendiri, jadi ia masih harus banyak belajar dengan statusnya.
Selama ini rasa cintanya dan rasa takut akan melukai Luca membuat ia tanpa sengaja menyakiti gadis itu, yang ia pikirkan hanya bagaimana menyelesaikan semuanya secepat mungkin tanpa mengganggu Luca. Kali ini ia sadar, dalam sebuah hubungan kejujuran adalah hal yang palin penting.
"Sayang nanti berangkat sama gue." Ucapan Galang membuat seluruh penghuni meja makan meliriknya.
"Mentang-mentang udah baikan." Seru Galaxi yang hanya sebagai pendengar setia mereka.
"Sirik lo?"
"Dah lah, dari pada mereka berantem." Ujar Gior, ia masih mengingat kejadian kemarin.
"Eh uang jajan lo kakak potong selama sebulan." Galang sembari menunjuk Gior dengan sendok di tangannya.
"Kok gitu kak?" Gior seperti kehilangan darahnya.
"lo berani mukul gue kemarin."
"Ya kan gue cuman belain Luca kak, jangan di potong dong kak." Gior memelas sembari menyatukan kedua tangannya seperti biasa.
"Gak ada." Galang tetap cuek mengunyah makanannya.
Gior menyenggol kaki Luca, ia memberi kode agar membantunya merayu sang kakak.
"Jangan di potong, dia begitu karena khawatir sama gue." Luca yang mengerti kode Gior langsung ikut berbicara.
"Gue gak perduli, kemarin dia udah ngomong kurang ajar dan mukul gue." Sepertinya bujukan Luca juga toidak mempan kali ini.
"Gak papa, nanti pakai uang gue aja." Luca tersenyum menenangkan Gior yang lemas lesu.
"Beneran?" Mata Gior selalu berbinar jika tentang uang.
"Gak boleh, awas aja kalau berani." Ancam Galang pada gadis itu dan Gior.
Gior kembali kehilangan semangatnya, baru saja merasakan uang jajan full, sudah di potong lagi.
"Ayo kita berangkat." Galang mengelap mulutnya sembari melirik Luca yang sudahselesai sejak tadi.
Mereka berdua melangkah bersamaan meninggalkan meja makan, senang rasanya bisa berangkat bersama lagi seperti ini.
Dan di sinilah mereka berada, di depan pintu gerbang sekolah Luca. Luca melambaikan tangannya saat mobil galang perlaahan menjauh, wajahnya masih penuh dengan senyuman.
Dari kejauhan ada yang memperhatikan dirinya sejak turun dari mobil, dia menghampiri Luca setelah gadis itu setelah melewati gerbang.
"Lo udah sembuh?" Juan yang tiba-tiba datang menyentuh kening Luca membuat gadis itu kaget.
"Ih, lo ngagetin gue." Luca menepis tangan Juan karena kesal, entah dari mana lelaki itu langsung muncul di dekatnya.
"Berangkat sama siapa?" Tanya Juan.
"Oh tadi itu.."
"Lucaaaaaa." Suara Elen yang cempreng itu langsung menyuysuk telinga Luca menghentikan kalimatnya.
"Lo gak malu teriak kayak orang hutan." Ketus Luca.
"Hehehe, gue mau nanya soal PR sama lo." Seperti biasa gadis itu tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kebiasaan tau gak."
"Ayokkk buruan ke kelas." Elen langsung menarik Luca dari sana.
"Ehh, Juan masih di sana."
"Daaa Juan, lanjut nanti ya." Elen melambaikan tangannya sembari tersenyum, namun gadis itu tetap berlari menarrik Luca.
Juan hanya tersenyum kepada mereka, meskipun ia masih penasaran dengan jawaban Luca.
Tapi apa yang bisa ia lakukan?
.
.
.
.
Yuk jangan lupa like dan komen kalian🥨🥨