
Aku tau, kamu mencintaiku.
🌹🌹🌹🌹
Seperti biasa hari ini Luca berangkat sekolah di antar oleh Gior, suasana hatinya tampak cukup baik meskipun Galang tidak bisa mengantarnya.
Ya mau bagaimana lagi? Lelaki itu adalah pengusaha, tulang pungung dan yang pasti sangat sibukuntuk mengurus ini itu. Jika menjadi kekasihnya maka Luca harus tau bahwa waktunya tidak akan banyak seperti pasangan lainnya, ia sudah cukup merasa bahagia dengan Galang yang selalu mementingkan dirinya lebih dari apapun. Seperti berlari seperti orang gila saat Luca terluka, atau berteriak frustasi saat gadis itu hilang dari pantauannya.
“Sana turun gue buru-buru” Ucap Gior menyadarkan lamunan Luca.
“Gak mau ketemu pacar lo dulu?” Tanya Luca
“Gue buru-buru, kalau ketemu dia yang ada gue di tahan terus.”
“Oke.” Luca melangkah menjauh meninggalkan Gior dengan mobil merahnya, ia masih berdiam di sana memastikan gadis itu masuk ke dalam dengan aman.
Kurang apa Luca di dalam hidupnya? Ia memiliki semua hal, harta dan kasih sayang dari semua orang yang berada di sampingnya. Ya meskipun ia harus melalui semua hal berat sebelum merasakan semua ini, bukankah apa yang kau tanam itu yang kau tuai?
“Lucaaaaa.” Tetiakan Elen itu membuat Luca cukup tau bahwa gadis itu sedang baik-baik saja setelah perengkaran semalam, wajah girangnya terpampang nyata sembari berlari menghampiri Luca.
“Beneran gak waras dia.” Gumamnya.
“Lo tau gak, kepala sekolah itu udah di usir dari sini berkat lo. Bahkan Bisma masuk penjara, dan kepala sekolah sialan itu gak bisa dapat pekerjaan apapun sekarang, Galang bener-bener pastiin mereka menderita.” Ucapnya penuh semangat.
“Galang?” Tanya Luca, karena ia tidak tahu kalau Galang ikut campur dalam masalah ini.
“Iya, dia murka pas tau lo mabok pas malem itu. Dengan bukti akurat yang kita punya, maka mereka semakin gak bisa berkutik.”
“Ohhh ya baguslah.” Ucapnya datar sembari masuk ke kelas.
“Liat ini.” Elen memperlihatkan kalungnya pada gadis itu.
“Terus?” Tanya Luca bingung.
“Gior beliin ini buat gue.”
“Pantesan muka lo udah gak di tekuk, dasar lo ya. Semalem aja, berantem udah kayak orang mau cerai.”
“Ya kan gue kesel, tapi Gior tiba-tiba sweet banget dan ngasih gue kalung ini. Aaaaaaaaaa makin sayang gue ihhh.” Ucapnya sembari membayang Gior ada di hadapannya.
“Terserah lo deh.”
“Luca.” Panggil Juan menghampirinya.
“Ya? Ada apa?”
“Yaudah ngomong aja.”
“Tapi nanti setelah pulang sekolah, gue mau ajak lo ke suatu tempat.”
“Gue pasti di jemput nanti.” Jawab Luca tidak enak.
“Plissss kali ini aja ya, gue gak aneh-aneh kok.” Juan menyatukan tangannya memohon.
“Oke deh, nanti gue kabarin.”
“Yes, gue pergi dulu.” Juan pergi dengan perasaannya yang senang, entah apa yang ia pikirkan saat ini.
“Dia aneh gak sih?” Tanya Elen heran.
“Apanya?”
“Juan.”
“Biasa aja tuh.”
“Udahlah gue mau chat ayang gue dulu, eh nanti jam istirahat temen-temen mau ketemu lo tuh mau bilang makasih.” Tambah Elen.
“Iyaaaa.” Luca merasa lelah dan melipat tangannya untuk di jadikan bantal kepalanya.
“Sayanggggg, kangennnnn.” Suara Elen membuat Luca ingin muntah, sahabatnya itu engah menelfon Gior di sampingnya.
“Berisik lo.” Luca mendorong wajah Elen agar menjauh darinya.
“Dihhh daras sirikkk, makanya punya cowok tuh jangan kayak kulkas.” Ejek Elen tersenyum penuh kemenangan.
“Ngomong lagi gue bangting lo.”
.
.
.
.
.
spesial sayang kalian up 2 bab, like sama kome yang banyak juga donggg