LUCA

LUCA
Alergi Akut



Maaf, maaf....maaf ya... ucap Lingga Lembut sambil membelai lembut surai rambut panjang Luca.


Luca menoleh pada Lingga dan menatapnya tajam lalu dengan tanpa aba-aba Luca turun dari podium dan berjalan keluar dari ballroom.


Dengan sigap Lingga mengejarnya.


Maaf semuanya, menantuky besok masih harus sekolah jadi dia pamit pulang lebih dulu...kilah Luis yang berusaha menyembunyikan kekhawatirannya pada Luca.


Dasar Pedophil kurang ajar, gak cukup beli gue, sekarang dia malah mau bunuh gue...kesal Luca sepanjang jalan menuju lobi.


Lingga mengejar Luca, ia berhasil menyusul Luca, ia pun menahan tangan Luca.


Tunggu...ucapnya Luca berbalik menoleh padanya saat merasa tangannya di tahan.


Betapa terkejutnya Lingga melihat mata Luca yang sudah berkaca-kaca dan bulir bulir keringat dingin di kening Luca.


Lepas... mau apa lagi loe?? mau bunuh gue? apa gak cukup loe udah beli gue.....??? omel Luca menahan


Luca kamu kenapa??.... Lingga panik melihat wajah Luca yang tiba-tiba memucat lalu seketika Luca Pingsan.


Lingga semakin panik, tanpa banyak basa basi Lingga membawa Luca ke RS.


Luca segera ditangani. dokter, sementara Lingga sudah panik diluar. tak lama dokter keluar.


Bagaimana keadaannya... tanya Lingga


dimana walinya... tanya dokter yang terlihat tampak agak menahan marah


Saya tunangannya.... ucap Lingga, dokter melihat Lingga dari atas ke bawah. Lingga jelas terlihat seperti laki-laki dewasa sedangkan Luca lebih terlihat seperti bocah SMP.


Tunangan?!,.... apa anda tidak tahu jika Luca memiliki alergi akut pada caffein??... untung saja anda segera membawanya ke RS, jika tidak mungkin anda harus mencari tunangan yang lain.... ucap Dr. Dio ( kakak dari Dani sahabat Luca).


Lingga terdiam.


Dio.... sapa Saka yang sudah menyusul mereka


Adek gue... tanya Saka tiba&tiba bugh.


Kalo loe gak bisa jaga adik loe seenggaknya kasih dia tunangan yang tahu semua tentang adik loe.... terlambat sedikit aja, nyawa adek loe mungkin udah melayang.... ucap Dr. Dio benar-benar marah bagaimana pun ia mengenal Luca sejak kecil selama bersahabat dengan adiknya Dani. Tentu saja dio menyayangi Luca layaknya adik kandungnya sendiri.


Orion, Samudra, Anita, Amara, orang tua Luca, Orang tua Lingga dan Jordan terkejut bukan main saat melihat Dio, dokter yang terkenal ramah itu mengamuk.


Dio.... sebut Anita, sontak Dio menatap anita tajam.


Pak dokter... ucap suster yang menghampiri mereka.


ruang operasi sudah siap... lapornya.


Dio berlalu tanpa pamit.


Halo, om malik bisa tolong ke RS Cc. Luca sedang dirawat, mungkin 2 hari ia baru bisa pulang, tolong siapkan segala keperluannya.... ucap Dio ditelpon


Apa??? baik den dio, saya akan segera kesana setelah menghubungi tuan dan nyonya besar.... ucapnya


Tidak perlu, mereka semua sudah ada disini... ucap Dio lagi


Baik den..... sahut malik di seberang telepon.


****


Lingga masuk ke dalam Ruang Rawat Luca.


Wajah luca masih tampak pucat.


Maaf, aku sudah mencelakai mu....ucap Lingga


Kamu gak salah, kamu kan gak tahu..... ucap Amara.


Tentu aku bersalah, harusnya aku mengindahkan peringatan mama dan papa untuk berhenti mengkonsumsi caffein, jika bukan karna keteledoran ku, mungkin saat ini aku masih bisa mendengarnya memakiku.... ucap Lingga


****


sehari penuh sudah Luca terlelap karna obat yang di resepkan Dio. dan tak sekali pun Lingga pergi dari sisi Luca.


Tengah malam


Luca terbangun.


Ahhhh. Rs.... batinnya tanpa tahu ada Lingga yang terlelap di sofa


Ia ingin kembali tertidur tapi matanya tak bisa tertutup, sepertinya efek caffein nya masih ada hingga membuat Luca tak bisa terlelap.


Hingga pagi menjelang, Betapa terkejutnya Lingga menemukan Luca yang sudah bangun dengan mata panda nya.


Luca....ucap Lingga