LUCA

LUCA
EPISODE 45



Kembalinya masa lalu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Lo kenapa?" Tanya Galaxi yang melihat wajah kesal Luca.


"Ini hari minggu, ngapain lo pakai seragam?" Gior juga melirik Luca.


Luca tidak bergeming, ia hanya duduk di depan televisi dan terus mengubah saluran chanelnya.


"Duh Luca lo kenapa sih? Gue pusing nih liat TV nya." Gior mengambil remote di tangan langan.


"Gue lupa ini hari minggu. Galang ngerjain gue."


Galaxi dan Gior berusaha menahan tawanya, bagaimana Luca bisa lupa ini hari minggu. Dan hanya Galang yang bisa mengerjainya.


"Tinggal ganti baju kan. Udahlah gak usah marah." Gior membujuk Luca.


"Gak bisa, gue harus bales dia."


"Ntar makin panjang Luca." Jawab Galaxi.


"Gue punya ide." Setelah berpikir keras, Luca akhirnya mendapatkan ide yang cemerlang." Tapi gue butuh bantuan kalian."


"Oke." Gior langsung menyetujuinya.


"Gak mau." Galaxi menolak Luca.


"Lo harus mau." Paksa Luca


"Nggak." Galaxi beranjak dari sana ke kamarnya.


"Galak lo harus mau." Luca mengejar Galaxi.


"Nggak anak ayam, gue gak mau di marahin kakak."


"Dia gak bakal marah." Luca ikut masuk ke kamar Galaxi.


"Pokoknya gue gak mau. Aaaaaa..." Entah kenapa Galaxi tiba-tiba berteriak dan naik ke atas kasurnya.


"Apa sih?" Luca kebingungan dengan tingkah Galaxi.


"Awas anak ayam, ada kecoa. Awas minggir sana."


Luca mengedarkan pandangannya mencari kecoa yang Galaxi maksud.


Dih, cowok takutnya kecoa.


Luca kemudian menangkap kecoa itu dengan tangannya. "Kena lo."


"Anak ayam jijik, buang sana."


"Lo kayak cewek, takutnya sama kecoa." Luca menenteng kecoa itu.


"Bodo, sana buang."


"Gak, kalo lo mau bantuin gue baru gue buang."


"Gak mau."


"Ya udah nih." Luca semakin mendekat ke arah Galaxi.


"Eeeehhh, jangan. Lo penyiksaan batin banget sih." Gerutu Galaxi yang sudah heboh.


"Mau apa nggak?"


"Iya gue mau, buang dulu sana."


Luca melempar kecoa itu keluar kamar, akhirnya om satu ini berhasil dia ancam.


Ting tong.


Ting tong


Ting tong


Bel rumah terus berbunyi.


"Siapa sih? Bukannya ada Gior ya?" Luca turun ke bawah untuk membuka pintu, sementara Galaxi ikut turun karena penasaran.


"Kok gak ada orang?" Luca celingukan


"Orang isenh kali." Galaxi ikut mengedarkan pandangannya.


Luca tadinya ingin menutup pintu, tapi ada sesuatu di bawah.


"Luca." Galaxi menatap Luca.


Tubuh Luca mulai memanas, air matanya menagalir tanpa ia sadari. Dia meraih boneka itu dan segera berlari ke kamarnya.


"Nggak, gak mungkin." Teriak Luca, ia terus saja terisak sepanjang perjalanan.


Bonekanya, siapa yang mengambil bonekanya.


"Luca tunggu." Galaxi berusaha mengehentikan Luca, tapi lupa tidak perduli.


"Kakak " Panggil Galaxi pada kakaknya.


"Siapa yang lakuin ini." Luca terus mengepalkan tangannya.


"Luca ada apa?" Galang keluar dari kamarnya dan menghampiri Luca. Ia memeluk gadis itu, tapi Luca mendorongnya kasar.


Galaxi menunjuk boneka yang berada di tangan Luca.


Mereka langsung memahaminya.


"Mana boneka gue." Luca menarik selimutnyake lantai.


Bonekanya tidak ia temukan, dia semakin histeris.


"Luca kita cari sama sama, lo sabar dulu." Gerald berusaha menenangkan Luca.


"Kak pegang Luca." Gior memberi isyarat.


Galang langsung memeluk tubuh Luca dari belakang dan Gior mengambil boneka di tangannya.


"Nggak." Luca terus meronta di dalam pelukan Galang.


Gior mengambil pisau yang tertancap pada boneka itu dan membuangnya.


"Luca dengerin gue." Galang membalik tubuh Luca dan memegang wajahnya." Liat baik-baik, ini bukan boneka lo. Ini cuman sama." Galang meraih boneka di tangan Gior.


"Gak mungkin Galang, boneka itu cuman gue sama mama yang punya."


Tunggu.


Maksud Luca boneka itu hanya ada dua?


Galaxi dan Gerald yang sedari tadi mencari keberadaan boneka Luca berhasil menemukannya di bawah meja.


"Ini, ini punha lo." Galaxi memberikan boneka Luca.


Memang boneka itu sama, tapi boneka Luca memiliki pita yang ia tambahkan sendiri.


"Tenang dulu ya." Galang mendudukkan tubuh Luca.


Galang mengusap air matanya dan membelai rambut Luca.


Luca menarik nafas dan menghembuskan perlahan.


Ia memejamkan matanya berusaha tenang.


"Boneka itu cuman ada dua. Dan itu punya mama." Luca menunjuk boneka robek yang berada di tangan Gior.


"Hah? Maksud lo nyokap lo yang ngirim ini, tapi kan dia udah meninggal." Galaxi merasa heran.


"Kita pikirin itu nanti. Sekarang, lo istirahat dulu." Galang membaringkan tubuh Luca." Kalian keluar dulu." Perintah Galang pada adiknya.


Mereka bertiga keluar sesuai perintah Galang.


Sementara Luca masih belum bisa menenangkan debarannya.


Siapa? Siapa yang melakukan ini?


Siapa yang berhasil mendapatkan boneka itu?


Siapa yang sudah mencuri boneka itu 8 tahun yang lalu?


.


.


.


.


.


.


AUTHOR UDAH HAMPIR LUPA UP BAB INI, TINGGALKAN KOMEN KALIAN DAN JANGAN LUPA LIKE...


AUTHOR SEMANGAT KARENA KALIAN.