
Perasaan adalah air yang mengalir, jadi percuma kamu membendungnya.
๐น๐น๐น๐น
Galang melangkah masuk ke kamar Luca, ia melihat dua sahabat itu sedang bercerita.
sepertinya Luca mulai membaik, ia jadi merasa lega.
"Luca gue pulang dulu ya." Elen melihat kedatangan Galang.
"Kenapa?" Tanya Luca yang tidak menyadari Galang yang berdiri di belakangnya.
"Udah malem, mama pasti khawatitr."
"Biar Gior nganter lo." Ucap Galang.
Luca menoleh ke arah Galang dan tersenyum, ia beranjak memeluk tubuh Galang. Sudah lama dia menanti kedatangan Galang.
Galang merasa kaget karena Luca tiba-tiba memeluknya.
"Hargain gue yang jomblo kek." Elen malah di jadikan nyamuk.
"Gior." Panggil Galang tanpa melepas pelukan Luca.
"Iya kak." Gior langsung masuk ke kamar itu.
"Anterin dia pulang." Perintah Galang.
"Gak bisa yang lain om? Jangan Gior." Tolak Elen.
"Kenapa?" Galang bingung dengan penolakan Elen.
"Entar dia aneh-aneh lagi, sama Galaxi aja deh."
"Dihhhhh, lo pikir gue mau nganterin lo." Gior menatap Elen kesal.
"Elen, Galaxi dan Gerald sedang ada ruang kerja. Kalo lo cuman di antar supir, Luca pasti gak setuju." Galang melirik Luca, gadis itu mengangguk setuju.
"Tenang aja, lo tinggal bilang sama gue kalo dia macem-macem." Luca menunjuk Gior.
"Kalian apaansih, lo pikir gue selera sama lo" Gior membantah.
"Sudah, sebaiknya kalian berangkat." Ucap Galang menengahi mereka.
Mereka berdua berangkat.
"Kayaknya lo lebih butuh Elen dari pada gue." Ucap Galang melepas pelukannya.
"Hah?"
"Lo langsung sembuh pas Elen datang, itu artinya ddia lebih peting dari gue." Galang menyingkir dan duduk di kasur.
"Lo cemburu sama Elen?" Tanya Luca, tapi Galang tidak menjawabnya.
"Galang, kalian punya tempat tersendiri di hati gue. Gue gak bakal sembuh tanpa lo." Luca mentyentuh wajah Galang.
"Benarkah?" Galang tersenyum.
Galang menarik pinggang Luca hingga terjatuh ke atas tubuhnya yang berbaring di kasur. Perlahan, menyesap bibir mungil yang selama dua hari ini terasa dingin.
Luca tidak menolak, ia begitu menyukai setiap perasaan yang Galang salurkan pada dirinya. Setiap sentuhan yang ia sendiri tidak mampu menolaknya.
Semakin lama, pagutan itu semaki memilki hasrat. Galang sudah cukup bersabar untuk tidak menyentuh Luca selama ia sakit. sekarang biarkan dia menikmatinya.
"Ssssshhhh." Suara itu lolos dari mulut Luca, bibir Galang yang menempel di lehernya memberikan ia sensasi yang berbeda. Terasa geli dan sangat aneh di tubuhnya, ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Galang terus menyessap habis leher mulus itu tanpa meninggalkan tanda, ia tidak ingin hal itu menjadikan Luca pusat perhatian nantinya.
"Galanggghhhh" Luca mendorong wajah Galang dari lehernya.
"Ada apa?" Galang menatap Luca.
"Mmmhhh... punya lo bangun." Ucapnya dengan sedikit ragu, ia merasa tidak nyaman menmpel dengan barang itu.
Galang malah hanya tersenyum mendengar penuturan Luca." Itu tandanya gue normal." Galang kembali mel,,,umat bibir luca yang manis, Ia seperti seseorang yang kehausan.
"Ikkkhhh Galang." Luca berusaha melepasnya, namun Galang menahan cekuk Luca.
"Kakak." Suara Gerald yang memanggil dengan langkah yang terdengar cukup dekat.
Luca langsung bangkit dan sembunyi di bawah selimut.
Entah apa yang Luca lakukan, padahal Gerald belum melihatnya.
"Ada apa?" Tanya Galang pada Gerald yang sudah berdiri di pintu.
"Beberapa berkas harus kakak tanda tangani saat ini juga." Ucap Geral meilhat kakaknya yang terasa begitu dingin.
"Baiklah." Galang beranjak mengikuti langkah Gerald.
"Mengganggu saja." Batin Galang.
Setelah merasa mereka sudah pergi, Luca keluar dari dalam selimut dan menarik nafas panjang.
"Huuuufftttt, selamat." Ucapnya mengusap dada.
.
.
.
.
.
.
TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN MESKIPUN HANYA (.) KARENA ITU SANGAT BERHARGA BUAT AUTHOR ..
LIKENYA JANGAN LUPA.... GAK BAYAR KOK.๐ช๐ช๐ช