LUCA

LUCA
EPISODE 100



Jika kamu yang memulai, maka aku yang akan mengakhiri.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Galang.." Luca memeluk Galang dengan erat, ia sangat takut dia terluka.


"Kenapa lo kesini?" Galang menarik Luca menjauh dari sana.


"Maafin gue, ini pasti gara-gara gue." Tangis Luca pecah, ia menatap orang-orang bersimbah darah di sana.


"Tuan, kita berhasil mengakhiri ini. Beberapa orang kabur, dan sebagian berhasil kita tangkap." Salah satu orang Galang datang melapor.


"Cepat bereskan mayat mayat mereka, berikan kelayakan kompensasi pada keluarga orang-orangku yang terbunuh." Perintah Galang.


"Baik tuan." Orang itu langsung pergi dan memberikan kode pada yang lain agar cepat membereskan kekacauan itu.


"Ayo kita masuk." Galang menarik Luca.


"Luca, lo gak papa kan?" Elen menghampiri Luca dan memeluknya, ia mendengar bahwa Luca juga di serang.


"Maafin gue, salah gue kalian jadi mengalami hal ini." Ucap Luca menundukan wajahnya merasa bersalah.


"Kita ini keluarga, masalah lo masalah kita juga." Jawab Galaxi yang mengerti perasaan Luca.


"Sudahlah ini sudah berakhir, gue tadi khawatir banget liat lo berantem di kamar." Ucap Galang menyentuh wajah Luca.


"Gue masih gagal melacak mereka." Ucap Luca kecewa, ini pertama kalinya ia gagal.


"Gak papa, kita masih punya banyak waktu." Galang memeluk Luca, ia tau gadis itu akan selalu menyalahkan dirinya sendiri.


"Mana Shina?" Tanya Luca pada pelayan.


"Ada di kamar noona." Ucap pelayan wanita itu.


"Bawa dia ke sini." Perintah Luca, ia menujukan vidio saat Shina berusaha meracuninya.


"Kenapa dia seberani ini?" Tanya Gior tidak menduganya.


"Yang terpenting kita tau bahwa dia juga terlibat dalam hal ini." Ucap Galang.


"Kaaak, semua sudah beres." Gerald datang setelah menyelesaikan tugasnya.


"Tuan mereka berusaha kabur, saya menangkapnya saat berusaha melopat pagar." Ucap lelaki bertubuh kekar dengan rambut coklat sebahu.


"Beraninya lo kabur." Galang menatap Shina dan Helen bergantian.


"Galang, aku tidak tau apapun." Ucap Shina masih menyangkal.


"Bawa dia ke tempat yang seharusnya." Perintah Galang.


"Kenapa kau mengambil ponselku?" Helen berusaha merebutnya.


"Bawa dia cepat." Ucap Galang.


Luca segera mengecek nomer panggilan terakhir, tapi tetap tidak ada panggilan keluan kecuali nama Helen.


"Dengar, sebaiknya kalian kembali istirahat." Gerald melirik jam dinding menunjukan jam 2:30 dini hari.


"Kembalilah ke kamar masing-masing, Galaxi aku sudah meminta Vano datang. Dia akan sampai sebentar lagi." Ucap Galang pada Galaxi yang hanya melilitkan sebuah kain agar darahnya berhenti mengalir.


"Baik kak." Jawab Galaxi.


Mereka semua kembali ke kamar mereka, begitupun Galang yang masih setia mengekori Luca.


"Tidurlah." Ucap Galang pada Luca sesampainya di kamar.


"Galang, bisakah kita mengakhiri ini?" Tanya Luca dengan semua kecemasannya.


"Gue pasti akan mengakhiri ini." Galang duduk di samping Luca sembari tersenyum.


"Gue harus pergi dari sini." Luca menatap Galang.


"Gak usah, cepet tidur." Galang mengambaikan ucapan Luca.


"Gue serius, kalo gue pergi pasti mereka berhenti ganggu kalian."


"Dia nyerang lo artinya nyerang gue, berhenti mikirin sesuatu yang aneh. Tidurlah, lo gak kasian sama gue?"


"Baiklah." Ucap Luca merebahkan tidurnya, sebenarnya ia masih terus meikirkan semua masalah ini. Terlebih setelah penyerangan malam ini, ia mengerti betapa seriusnya masalah ini sekarang.


"Gue harus pergi." Gumam Luca dengan suara yang hanya bisa dia dengar.


.


.


.


.


.


Yang semangat komentar sama likenya..


author udah berusaha keras up nihh...


baca sepuasnya.πŸ™πŸ™