
Ketika aku mulai melangkah
🌹🌹🌹🌹🌹
"Tuan, semua sudah siap." Ucap seseorang menghampiri lelaki itu.
"Oke, kita tunggu waktu yang tepat." Ujar Adamson.
"Tapi untuk apa tuan menyisakan beberapa anak buah kita?" Tanyanya lagi.
"Ini adalah rencana cadangan, kita mengambil langkah besar tentu harus dengan persiapan." Jelas Adamson.
"Apa yang kau rencanakan?" Tanya perempuan itu masuk ke dalam ruangan Adamson.
"Bukan urusanmu, cepat berikan uang pada mereka."
"Ini, aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk hidup kalian, awas jika gagal." Perempuan itu memberikan setumpuk uang pada anak buah Adamson.
"Jika meragukanku kau boleh pergi."
"Kenapa kau sangat pemarah? Aku kesini untuk memastikan apakah semua sudah siap?" Perempuan itu duduk di kursi dekat Adamson.
"Ya, aku tinggal menemui Shina nanti." Ujar Adamson.
"Kau mengikut sertakan perempuan tolol itu?"
"Ini adalah rencana ku, kau lihat saja." Adamson tersenyum seakan ia bisa menang telak.
"Elen, pakailah ini." Luca memberikan gelang pada Elen.
"Apa ini?"
"Lo gak bisa liat? Ini gelang." Ucap Luca.
"Ya gue tau, ya kenapa lo tiba-tiba ngasi gue gelang?"
"Pengen aja, udah pakai nih." Luca memakaikan gelang itu pada Elen, padahal sebenarnya itu juga gelang yang sama seperti yang ia berikan padsa Galang dan saudaranya. Ia hanya khawatir sesorang juga bisa menyakiti Elen nanti.
"Terimakasih, oh ya nih bekal dari mama. Besok kata mama dia gak bisa masakin bekal kita, soalnya mama udah berangkat ke bandung tadi pagi." Elen memberitahu kepergian mamanya.
"Emang ngapain ke sana?"
"Kata mama bisnisnya ada masalah yang di bandung." Mereka berdua menyantap bekal mereka.
"Ohh gitu."
"Gue mau nginep rumah lo ya." Pinta Elen.
"Gak, lo kan tau nanti ada apa." Tolak Luca.
"Gue udah bilang mau bantuin kalian." Kekeh Elen.
"Huuuhh, emang gue segitu gak bergunanya." Elen cemberut.
"Udahlah gue gak mau berdebat masalah ini." Luca mengakhiri perbincangan mereka dan melanjutkan makan.
Sebenarnya Luca ingin meminta izin agar bisa pulang duluan, tapi Galang tidak membolehkannya. Saat ini ada banyak mata-mata yang menyamar di sekolahnya hanya untuk menjaga dia.
Saat jam pulang tiba, Luca melirik beberap orang di belakangnya.
"3 orang di kanan, 4 orang di kiri, mereka adalah musuh." Gumam Luca sembari berjalan santai. "Mereka gak lakuin apapun kaena tau di sini banyak anak buah Galang."
Hari ini Luca pulang dua, karena salah satu guru tidak bisa masuk kelas. Ini seperrti keuntungan bagi Luca. Pasti Galang dan yang lainnya sedang bersiap menyerang markas itu. Dan Shina? Ia harus menghubungi wanita itu.
"Lo ada dimana?" Tanya Luca setelah di angkat.
"Aku lagi di cafe STAR, pria itu belum datang juga." Ujar Shina yang sudah menunggu.
"Tetap tunggu di situ." Perintah Luca.
"Apa mungkin dia tau rencana kalian?"
"Tenang aja, lo tetap di situ. Beberapa anak buah sudah berada di sekeliling lo, dia gak bakal macem-macem." Luca menutup telfonnya, ia juga mulai khawatir sekarang.
Gerald.
Kita sudah siap, hati-hati saat pulang.
Luca menghembuskan nafasnya berat, akhirnya waktu ini sudah tiba.
.
.
.
.
Sebenarnya author kemarin udah ngetik, cumaann malah kehapus😭😭😭 author jadi kesel guling2 di kamar dan gak ngetik lagi🥺🥺
maafkan author🙏🙏🙏