LUCA

LUCA
EPISODE 77



Musuh adalah seseorang yang mengajarkan kita kuat.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Luca bisa merasakan langkah mereka yang tergesa meninggalkannya, ia merasa tidak asing dengan parfum wanita itu. Tapi siapa? Dia bahkan tidak mendengar jelas suaranya saat perempuan itu mengumpat tadi.


"Noona, apa noona baik-baik saja?" Tanya anak buah Galang sembari membuka penutup mata dan ikatannya.


"Luca." Galang berlari dan langsung memeluk tubuh ponakannya itu.


Sejak tadi ia sudah mengamuk karena tidak bisa menemukan gadisnya.


"Are you okay?" Galang melepas pelukannya dan menatap Luca dari atas sampai bawah, sorot matanya berubah menjadi amarah saat melihat perempuan itu penuh memar.


"Kak, anak buah kita sudah berpencar mencari mereka." Gerald datang bersama Galaxi dan Gior.


"Tangkap mereka hidup ataupun mati." Ucap Galang dengan penuh penekanan.


"Sebaiknya kita bawa Luca pulang, kita bahas ini nanti kak." Ujar Galaxi kepada Galang yang masih dikuasi amarah.


Mereka berlima pulang bersama, Galang menobati luka Luca di rumah karena ia menolak di bawah ke rumah sakit.


"Di mana Helen?"Tanya Luca pada salah satu pelayan yang mengantar obat.


"Dia sedang keluar noona." Jawab pelayan itu kemudian undur diri dari tempat itu.


"Apa lo yakin itu Helen?" Tanya Gerald pada Luca.


"Dia nutup mata gue dan gak bicara, dia hanya berbisik pada anak buahnya. Itu artinya kemungkinan besar gue tau sama dia." Ucap Luca yakin.


"Tapi dia gak bisa lepas dari anak buah kakak." Balas Gior.


"Gue berani taruhan anak buah lo gak bakal bisa temuin dia."


"Kenapa?" Tanya Galang.


"Dia pasti tau status dan kekuasan lo, kalo dia nyerang gue itu artinya mereka udah mempertimbangkan hal itu."


Perkataan Luca sangat masuk akal bagi mereka, tidak mungkin orang sembarangan berani melakukan hal ini pada keluarga mereka.


"Apa lo sama sekali gak bisa tau dia siapa?" Tanya Gior.


"Gue belum bisa pastiin, tapi gue punya rencana. Gue harap, cuman kita yang tau hal ini."


"Gue gakpapa." Luca tersenyum meyakinkan.


"Lo gak tau gimana khawatirnya gue?" Galang malah melotot.


"Kakak langsung berhentiin rapat dan lari cari lo." Galaxi memberitahu situasi saat itu.


"Dan parahnya lagi, kakak teriak-teriak manggil lo di lokasi itu. Sumpah kakak udah kayak badboy banget." Gior sangat bersemangat menceritakan hal itu.


Luca hanya tersnyum menatap Galang, ia sangat berterimakasih pada tuhan yang sudah melemparnya pada keluarga ini. Mereka adalah keluarga terhangat yang Luca dapatkan, dan mereka yang selalu membuat hari Luca lebih berwarna.


"Tapi kenapa mereka bisa tinggalin lo gitu aja?" Gerald bertanya-tanya.


"Mungkin panik karena tau kita datang." Jawab Galaxi.


"Mereka tau kalian datang, tapi mereka sengaja ninggalin gue karena mereka emang gak mau culik gue."


"Maksudnya?" Gior tidak paham.


"Mereka cuma mau ngancam gue, mereka cuman mau gertak gue." Luca mengingat bagaimana perempuan itu kesal dan kembali menamparnya saat dia bahkan tidak merasa kesakitan.


"Sekarang lo istirahat dulu." Galang memberi kode adik-adiknya untuk pergi.


Dengan langkah berat Galang meninggalkan Luca sendirian. Sebenarnya dia sangat ingin menemani Luca, tapi dia harus membicarakan hal ini dan melihat hasil penyelidikan anak buahnya.


Luca meremas kuat selimutnya, ia sangat mengingat bagaimana perempuan tadi memukulnya terus menerus. Sekuat apapun dia, dia tetap perempuan. Dia memeiliki rasa lelah, sakit, marah dan kecewa. Dia hanya berusaha meneutupi semua itu agar tidak terlihat lemah.


"Gue gak pernah ngerasa takut, kecuali saat ini. Gue takut mereka melakukan hal ini pada orang yang gue sayang." Gumam Luca menutup matanya erat.


"Maaa, Luca kangen."


.


.


.


.


.


Yuk komentar yang banyak, likenya juga jangan lupa🥰🥰