
Akan selalu ada kata terlambat dan sebaliknya
๐น๐น๐น๐น
"Lo udah puas?" Tanya Galang yang saat ini berada di dalam tahanan bawah tanah.
"Tentu saja." Jawabnya angkuh.
Galang tersenyum tipis, matanya menyiratkan kemarahan yang amat dalam. "Setelah ini lo gak bakalan bisa sombong." Ujar Galang padanya.
"Setidaknya gadis itu akan mati."
"Lo yang akan mati, dan bagaimana dengan putrimu nanti? Aaaahh gue juga bisa nyiksa dia seumur hidup."
"Kau gila? Dia bahkan membela gadis tengik itu mati-matian, kau masih ingin menghukumnya?"
"Gue gak mau hukum dia, tapi gue mau hukum lo. Cepat keluarkan peluru di kakinya, dia harus bertahan hidup untuk menikmati hukuman yang sebenarnya." Perintah Galang pada anak buahnya.
"Bukankah perinsipmu tidak akan melukai perempuan?"
"Lo bukan perempuan, lo iblis."
"Kenapa tidak membunuhku saja." Teriak Kanya pada Galang yang melangkah keluar sel.
"Kematian terlalu ringan buat lo Kanya." Ujarnya kemudian pergi.
Ia harus kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Luca, sampai di sana pintu ruangannya belum juga terbuka.
"Bagaimana?" Tanya Galang pada mereka.
"Mereka masih belum selesai." Jawab Galaxi.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani Luca akirnya keluar.
"Bagaimana dok?" Galang langsung menghampiri dokter itu.
"Dia sudah melewati masa kritis, peluru sudah hampis menembus tubuhnya dan membuat organ dalamnya terluka. Untuk sementara ini kami tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar." Ujar dokter itu kemudian pergi.
"Sebenarnya apa yang dia katakan? Putriku selamat atau masih dalam bahaya?"Tanya Bram yang sama sekali tidak mengerti dengan pernyataan dokter yang ia rasa tidak jelas.
"Itu artinya luka itu cukup serius, dia harus berusaha untuk terbangun dari sana." Jelas Gerald.
"Tenanglah Bram, gue pastiin dia baik-baik aja." Galang meembeerikan janjinya pada Bram.
"Masuklah Bram." Ucap Galang, ia memberikan kesempatan peertama itu untuk lelaki yang sudah pulang dengan penuh penyessalan.
Bram masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di samping Luca, air matanya kembali mengalir melihat mata selalu menatapnya dingin itu sudah terpejam.
"Sayang, papa pulang. Luca gak mau bangun?" Bram membelai rambut gadis itu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, itu semakin membuatkan tersiksa dengan rasa bersalah.
"Maafin papa ya gak bisa jaga kamu, Luca jangan hukum papa. Papa bawa bunga buat Luca." Bram menaruh buket di samping Luca.
"Jangan betah-betah sama mama, di sini papa sendirian." Bram masik terisak dan tidak kuat menahan pilu di hatinya, rasanya ia ingin meledak.
Bram mencium kening Luca sembari terus membelainya, Ia menyesali semua waktu yang sudah ia buang percuma. Ia melewati masa peertumbuhan putri satu-satunya.
Karena merasa tidak kuat lagi, Bram memilih keluar. Ia tidak sanggup melihat putrrinya terbaring lemas di atas ranjang itu.
"Masuklah, aku mau ke kamar mandi." Ucap Bram, ia berniat mencuci wajahnya agar lebih tenang.
Galang masuk dengan langkah yang pelan, ia terus menatap gadis yang sepertinya tertidur pulas.
"Bukannya lo selalu bilang baik-baik aja? Kenapa sekarang lo malah bisa buka mata hah?"
"Cepat jawab gue, kenapa lo mau ningggalin gue?"
Galang memeluk Luca, ia berungkali mencium kening gadis itu, ia bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk dirinya.
"Kenapa lo harus nuker posisi buat lindungin gue? Gue gak sanggup Luca." Ia terus terisak tanpa melepas pelukannya.
Apa semua akan baik-baik saja?
Apa kita masih bisa bahagia?
Apa tidak ada kesempatan kedua?
"Gue cinta sama lo." Ucapnya di telinga gadis itu.
.
.
.
Silahkan komen dan like